Isu PKI Dibuat Soeharto, Dihidupkan Sisa Kekuatan Orde Baru
Jum'at, 25 September 2020 - 07:33 WIB
loading...
A
A
A
(Baca: Soal Isu PKI Gaya Baru, Masinton PDIP Tuding Pemainnya Orang Kolot)
Menurut Karyono, komunis dan PKI adalah propaganda usang yang terus digaungkan ke tengah-tengah publik dari masa ke masa. Tak terkecuali film berjudul Pengkhiatan PKI yang berisi persitiwa G30S/PKI versi Orde Baru. Film tersebut menjadi alat propaganda untuk menarik simpati publik dan di saat yang bersamaan berfungsi untuk menjatuhkan lawan politik.
(Baca juga : NASA Siapkan Duit Rp415 Triliun untuk Misi Mengacak-acak Bulan )
"Maka, jika benar pernyataan Gatot Nurmantyo yang mengatakan dia diberhentikan menjadi Panglima karena memutar film G30S/PKI maka patut diduga, Gatot sedang memainkan gaya politik playing victim. Ia tengah membangun opini publik seolah menjadi pihak yang teraniaya," ucapnya.
"Di sisi lain, pernyataan Gatot yang meminta agar film G30S/PKI produksi pemerintah Orde Baru diputar kembali merupakan strategi propaganda yang dijadikan "jualan" untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat politik (political benefits). Dengan propaganda ini diharapkan dapat membangun empati dan simpati," tambah Karyono.
Menurut Karyono, komunis dan PKI adalah propaganda usang yang terus digaungkan ke tengah-tengah publik dari masa ke masa. Tak terkecuali film berjudul Pengkhiatan PKI yang berisi persitiwa G30S/PKI versi Orde Baru. Film tersebut menjadi alat propaganda untuk menarik simpati publik dan di saat yang bersamaan berfungsi untuk menjatuhkan lawan politik.
(Baca juga : NASA Siapkan Duit Rp415 Triliun untuk Misi Mengacak-acak Bulan )
"Maka, jika benar pernyataan Gatot Nurmantyo yang mengatakan dia diberhentikan menjadi Panglima karena memutar film G30S/PKI maka patut diduga, Gatot sedang memainkan gaya politik playing victim. Ia tengah membangun opini publik seolah menjadi pihak yang teraniaya," ucapnya.
"Di sisi lain, pernyataan Gatot yang meminta agar film G30S/PKI produksi pemerintah Orde Baru diputar kembali merupakan strategi propaganda yang dijadikan "jualan" untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat politik (political benefits). Dengan propaganda ini diharapkan dapat membangun empati dan simpati," tambah Karyono.
Lihat Juga :