Politikus Demokrat Nilai JK Tak Nyaman Jadi Wapresnya Jokowi

loading...
Politikus Demokrat Nilai JK Tak Nyaman Jadi Wapresnya Jokowi
Mantan Wapres Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi selalu menggelar rapat sebelum mengambil keputusan. FOTO/DOK.SINDOphoto
A+ A-
JAKARTA - Pengakuan mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla pada acara obrolan yang ditayangkan di Channel YouTube Helmy Yahya Bicara, Selasa, 22 September 2020, menyita perhatian banyak pihak. Terutama, mengenai persoalan ekonomi yang diurusinya saat era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan tidak diurusinya lagi di era Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

"Ya ini kan masalah perasaan Pak JK ya. Jadi kita sulit menilainya dari luar karena yang ditanya adalah bagaimana perasaan Pak JK ketika menjadi Wapres di zaman Pak Jokowi dengan Pak SBY dan beliau menyatakan bahwa di zaman Pak SBY persoalan ekonomi diserahkan ke beliau dan di zaman Pak Jokowi semua dirapatkan," kata politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean kepada SINDOnews, Kamis (24/9/2020).

Bahkan, rapatnya bisa berkali-kali. "Saya pikir ini adalah apa yang beliau rasakan dan mungkin juga ini menunjukkan sebuah ketidaknyamanan beliau (JK) ketika menjadi Wapresnya Pak Jokowi, karena apa, wewenang mengurus ekonomi yang diserahkan kepada Pak JK selama masa Pak SBY kemudian tidak ada lagi," katanya. (Baca juga: Ditanya Lebih Enak Jadi Wapres Zaman SBY atau Jokowi, JK Bilang Begini)

Ferdinand pun menilai mengurus ekonomi nasional bukan persoalan mudah. "Saya tidak perlu jabarkan seperti apa. Jadi apa yang disampaikan Pak JK ini bisa saja bermakna bahwa beliau tidak nyaman ketika semua harus dirapatkan bersama-sama karena dulu beliau diserahkan mengurus ekonomi," katanya.



Sehingga, kata Ferdinand, apa yang disampaikan JK kepada Helmy Yahya adalah tentang perasaan. "Saya hanya menilai, menganalisis jawaban beliau (JK) bahwa begitu senangnya beliau ketika diserahi mengurus ekonomi dan kemudian tampak kurang senang ketika tidak lagi diserahi mengurusi ekonomi dan harus dirapatkan semua oleh Pak Jokowi," tuturnya.

Ferdinand mengakui antara SBY dengan Presiden Jokowi memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. "Pak SBY punya style sendiri, Pak Jokowi punya gaya sendiri, jadi kita juga tidak bisa membanding-bandingkan gaya kepemimpinan, tetapi yang mau kita lihat adalah hasil dari kepemimpinan. Itu menurut saya. Jadi sekali lagi terkait jawabannya Pak JK sama melihat beliau tidak nyaman ketika menjadi Wapresnya Pak Jokowi karena tidak lagi mengurusi soal ekonomi, itu yang saya lihat," katanya. (Baca juga: JK Lebih Memilih Menjadi Saudagar ketimbang Politisi, Kenapa?)
(abd)
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top