Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama
Jum'at, 24 Juli 2026 - 17:41 WIB
loading...
A
A
A
"Kita tidak boleh kalah dari hal buruk. Media sosial harus menjadi ruang dakwah penuh kebaikan," tegas Ketua Umum Yayasan Al Umanaa, Ustaz Mahdi Karim. Ini adalah langkah kecil tapi penting: mengakui bahwa dakwah digital bukanlah musuh, melainkan medan baru yang harus diisi. "Kita harus hadir di ruang algoritma, agar umat tidak kehilangan arah dalam beragama." kata KH Masduki Baidlowi, Ketua MUI Bidang Infokomdigi.
Menemukan Jalan di Tengah Pusaran
Pada akhirnya, dakwah tetaplah dakwah. Ia adalah upaya mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada kebenaran, dan membimbing kepada jalan yang lurus. Medium boleh berubah, platform boleh berganti, tetapi esensinya tetap sama: pertemuan antara pesan dan hati, antara penceramah dan pendengar.
Hanya saja, sekarang pertemuan itu terjadi di ruang yang berbeda. Bukan lagi di masjid yang sunyi, tetapi di layar yang terang. Bukan lagi dalam barisan yang rapi, tetapi di komentar yang bertebaran. Bukan lagi dengan anggukan khusyuk, tetapi dengan like dan share.
Apakah ini kemunduran? Saya tidak yakin. Mungkin ini justru kesempatan. Kesempatan untuk menjangkau mereka yang tidak pernah datang ke masjid. Kesempatan untuk berbicara dengan mereka yang tidak pernah mendengar ceramah. Kesempatan untuk membawa pesan kebaikan ke tempat-tempat yang belum pernah disinggahi.
Tapi satu hal yang pasti: dakwah tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Seperti yang diingatkan MUI, para juru dakwah tak bisa lagi mengandalkan pola konvensional. Dunia telah berubah. Audiens telah berubah. Sekarang giliran dakwah yang berubah tanpa kehilangan ruhnya.
Kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Pemuda di caffee itu membuka ponselnya setiap pagi. Mungkin mereka sedang mencari hal yang sama: petunjuk, ketenangan, makna. Hanya jalannya yang berbeda.
Dan tugas kita, para dai, para ulama, para penulis, siapa pun yang merasa terpanggil adalah memastikan bahwa di jalan yang baru itu, cahaya kebenaran tetap menyala. Bahwa di tengah derasnya algoritma, pesan ilahi tetap sampai. Bahwa di antara jutaan konten yang bersaing, ada satu yang membawa kedamaian, bukan perpecahan.
Dari mimbar ke layar. Dari jemaah ke pengikut. Perjalanan ini baru saja dimulai. Dan kita semua penceramah maupun pendengar, imigran digital maupun native, adalah para perantau di dalamnya, mencari jalan pulang bersama.
Menemukan Jalan di Tengah Pusaran
Pada akhirnya, dakwah tetaplah dakwah. Ia adalah upaya mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada kebenaran, dan membimbing kepada jalan yang lurus. Medium boleh berubah, platform boleh berganti, tetapi esensinya tetap sama: pertemuan antara pesan dan hati, antara penceramah dan pendengar.
Hanya saja, sekarang pertemuan itu terjadi di ruang yang berbeda. Bukan lagi di masjid yang sunyi, tetapi di layar yang terang. Bukan lagi dalam barisan yang rapi, tetapi di komentar yang bertebaran. Bukan lagi dengan anggukan khusyuk, tetapi dengan like dan share.
Apakah ini kemunduran? Saya tidak yakin. Mungkin ini justru kesempatan. Kesempatan untuk menjangkau mereka yang tidak pernah datang ke masjid. Kesempatan untuk berbicara dengan mereka yang tidak pernah mendengar ceramah. Kesempatan untuk membawa pesan kebaikan ke tempat-tempat yang belum pernah disinggahi.
Tapi satu hal yang pasti: dakwah tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Seperti yang diingatkan MUI, para juru dakwah tak bisa lagi mengandalkan pola konvensional. Dunia telah berubah. Audiens telah berubah. Sekarang giliran dakwah yang berubah tanpa kehilangan ruhnya.
Kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Pemuda di caffee itu membuka ponselnya setiap pagi. Mungkin mereka sedang mencari hal yang sama: petunjuk, ketenangan, makna. Hanya jalannya yang berbeda.
Dan tugas kita, para dai, para ulama, para penulis, siapa pun yang merasa terpanggil adalah memastikan bahwa di jalan yang baru itu, cahaya kebenaran tetap menyala. Bahwa di tengah derasnya algoritma, pesan ilahi tetap sampai. Bahwa di antara jutaan konten yang bersaing, ada satu yang membawa kedamaian, bukan perpecahan.
Dari mimbar ke layar. Dari jemaah ke pengikut. Perjalanan ini baru saja dimulai. Dan kita semua penceramah maupun pendengar, imigran digital maupun native, adalah para perantau di dalamnya, mencari jalan pulang bersama.
(cip)
Lihat Juga :