Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama
Jum'at, 24 Juli 2026 - 17:41 WIB
loading...
A
A
A
Ketika Algoritma Jadi Guru
Inilah yang disebut sebagai algorithmic religion—orientasi keagamaan yang terbentuk oleh sistem algoritma media sosial dan kecerdasan buatan. Sebuah realitas di mana otoritas keulamaan yang selama ini menjadi rujukan umat mulai terdesak oleh sistem digital yang mengatur arus informasi.
"Otoritas ulama itu saat ini sedang terancam. Dan yang mengancam itu adalah algoritma di dalam mesin internet, di Google, di AI, dan berbagai platform lainnya," ujar Masduki.
Sosiolog Manuel Castells, dalam bukunya The Rise of the Network Society, menjelaskan bahwa kita telah beralih ke era di mana informasi adalah sumber kekuatan utama. Masyarakat tidak lagi terorganisasi secara hierarkis dari atas ke bawah, melainkan dalam bentuk jaringan yang fleksibel dan terdesentralisasi.
Kekuasaan tidak lagi mengalir dari atas ke bawah. Ia menyebar, terfragmentasi, dan terus berubah. Otoritas tidak lagi melekat pada jabatan atau lembaga, tetapi pada siapa yang mampu memproduksi dan menyebarkan informasi yang dipercaya.
Ini bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Algoritma bekerja dengan logika yang sangat berbeda dari logika dakwah tradisional. Algoritma tidak menilai kebenaran. Ia membaca keterlibatan. Konten yang provokatif, kontroversial, dan emosional cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi dan karenanya lebih banyak tayangan. Sementara itu, narasi moderat yang mengusung Islam wasathiyah seringkali kalah cepat dibanding narasi ekstrem dan radikal.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah fenomena echo chamber—ruang gaung digital di mana informasi tertentu diperkuat tanpa verifikasi. "Begitu kita membaca satu, maka akan datang lima dengan tema yang sama. Makin masif, makin dianggap kebenaran," kata Masduki, menggambarkan situasi post-truth di mana opini yang terus diperkuat algoritma bisa menggeser posisi fakta.
Di sinilah dakwah digital berada di persimpangan. Di satu sisi, ia membuka akses yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seorang dai dengan konten berkualitas bisa menjangkau jutaan orang dalam semalam—sesuatu yang tidak mungkin dicapai dari mimbar masjid mana pun. Penelitian menunjukkan bahwa dakwah digital mampu menjangkau khalayak yang lebih luas melalui platform media sosial, menggunakan video pendek, kolaborasi kreatif, dan elemen visual yang menarik.
Di sisi lain, ia menghadirkan tantangan serius: komodifikasi agama, hilangnya konteks, dan tergerusnya otoritas keilmuan. Sekretaris Jenderal MUI mengingatkan bahwa viralitas bukanlah ukuran dakwah yang benar. Kebenaran hakiki, bukan viralitas, yang harus menjadi patokan.
Tapi ada kabar baik. Di tengah hiruk-pikuk digital, muncul upaya-upaya serius untuk menjembatani kesenjangan. Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, misalnya, mengadakan pelatihan manajemen media sosial untuk para asatidz dan santri—bukan untuk mengejar popularitas, tetapi untuk memperkuat peran pesantren dalam menyampaikan dakwah melalui media sosial.
Inilah yang disebut sebagai algorithmic religion—orientasi keagamaan yang terbentuk oleh sistem algoritma media sosial dan kecerdasan buatan. Sebuah realitas di mana otoritas keulamaan yang selama ini menjadi rujukan umat mulai terdesak oleh sistem digital yang mengatur arus informasi.
"Otoritas ulama itu saat ini sedang terancam. Dan yang mengancam itu adalah algoritma di dalam mesin internet, di Google, di AI, dan berbagai platform lainnya," ujar Masduki.
Sosiolog Manuel Castells, dalam bukunya The Rise of the Network Society, menjelaskan bahwa kita telah beralih ke era di mana informasi adalah sumber kekuatan utama. Masyarakat tidak lagi terorganisasi secara hierarkis dari atas ke bawah, melainkan dalam bentuk jaringan yang fleksibel dan terdesentralisasi.
Kekuasaan tidak lagi mengalir dari atas ke bawah. Ia menyebar, terfragmentasi, dan terus berubah. Otoritas tidak lagi melekat pada jabatan atau lembaga, tetapi pada siapa yang mampu memproduksi dan menyebarkan informasi yang dipercaya.
Ini bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Algoritma bekerja dengan logika yang sangat berbeda dari logika dakwah tradisional. Algoritma tidak menilai kebenaran. Ia membaca keterlibatan. Konten yang provokatif, kontroversial, dan emosional cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi dan karenanya lebih banyak tayangan. Sementara itu, narasi moderat yang mengusung Islam wasathiyah seringkali kalah cepat dibanding narasi ekstrem dan radikal.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah fenomena echo chamber—ruang gaung digital di mana informasi tertentu diperkuat tanpa verifikasi. "Begitu kita membaca satu, maka akan datang lima dengan tema yang sama. Makin masif, makin dianggap kebenaran," kata Masduki, menggambarkan situasi post-truth di mana opini yang terus diperkuat algoritma bisa menggeser posisi fakta.
Di sinilah dakwah digital berada di persimpangan. Di satu sisi, ia membuka akses yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seorang dai dengan konten berkualitas bisa menjangkau jutaan orang dalam semalam—sesuatu yang tidak mungkin dicapai dari mimbar masjid mana pun. Penelitian menunjukkan bahwa dakwah digital mampu menjangkau khalayak yang lebih luas melalui platform media sosial, menggunakan video pendek, kolaborasi kreatif, dan elemen visual yang menarik.
Di sisi lain, ia menghadirkan tantangan serius: komodifikasi agama, hilangnya konteks, dan tergerusnya otoritas keilmuan. Sekretaris Jenderal MUI mengingatkan bahwa viralitas bukanlah ukuran dakwah yang benar. Kebenaran hakiki, bukan viralitas, yang harus menjadi patokan.
Tapi ada kabar baik. Di tengah hiruk-pikuk digital, muncul upaya-upaya serius untuk menjembatani kesenjangan. Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, misalnya, mengadakan pelatihan manajemen media sosial untuk para asatidz dan santri—bukan untuk mengejar popularitas, tetapi untuk memperkuat peran pesantren dalam menyampaikan dakwah melalui media sosial.
Lihat Juga :