Kisah Calvin dan Yehezkiel, Peraih Adhi Makayasa 2026 yang Dilantik Prabowo di Istana Merdeka
Kamis, 23 Juli 2026 - 06:51 WIB
loading...
A
A
A
Hari itu juga menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Istana. Bagi Yehezkiel, kesempatan bertatap muka dan menerima pelantikan langsung dari Presiden merupakan kebanggaan yang tidak semua orang dapat rasakan.
Namun, kebahagiaan tersebut tidak hanya menjadi milik Yehezkiel. Di sisi lain, kedua orang tuanya turut menyaksikan buah dari perjalanan panjang putra mereka.
“Kesannya luar biasa, jadi pengin nangis. Ini pengalaman pertama untuk keluarga kami, ini baru pertama kali yang jadi TNI, sebelumnya nggak ada, perjuangan dia terlalu besar ya. Jadi kami bangga, saking bangganya sampai nggak bisa ngomong apa,” tutur sang ibu.
Di balik sosok perwira muda yang disiplin, sang ibu masih mengingat Yehezkiel kecil sebagai anak yang aktif, tidak bisa diam, dan gemar bertanya. Hampir setiap hal yang dilihatnya selalu memunculkan pertanyaan: mengapa sesuatu terjadi dan bagaimana hal itu dapat berlangsung.
“Dulu dia kecilnya bandel banget, nggak bisa diam, selalu aktif, selalu bertanya ‘Kok bisa gitu?’, ‘Kenapa? Kok kayak gitu, kenapa?’ Itu pasti selalu ditanyakan ke setiap orang,” kenangnya sambil tersenyum.
Bagi Calvin dan Yehezkiel, Adhi Makayasa bukan sekadar penghargaan atas prestasi selama pendidikan. Di baliknya terdapat doa orang tua, kebersamaan dengan rekan seperjuangan, kedisiplinan, serta keteguhan melewati berbagai tantangan.
Kini, dengan pangkat yang tersemat di pundak, keduanya menapaki langkah pertama dalam perjalanan pengabdian. Sebuah perjalanan untuk menjaga amanah rakyat dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Namun, kebahagiaan tersebut tidak hanya menjadi milik Yehezkiel. Di sisi lain, kedua orang tuanya turut menyaksikan buah dari perjalanan panjang putra mereka.
“Kesannya luar biasa, jadi pengin nangis. Ini pengalaman pertama untuk keluarga kami, ini baru pertama kali yang jadi TNI, sebelumnya nggak ada, perjuangan dia terlalu besar ya. Jadi kami bangga, saking bangganya sampai nggak bisa ngomong apa,” tutur sang ibu.
Di balik sosok perwira muda yang disiplin, sang ibu masih mengingat Yehezkiel kecil sebagai anak yang aktif, tidak bisa diam, dan gemar bertanya. Hampir setiap hal yang dilihatnya selalu memunculkan pertanyaan: mengapa sesuatu terjadi dan bagaimana hal itu dapat berlangsung.
“Dulu dia kecilnya bandel banget, nggak bisa diam, selalu aktif, selalu bertanya ‘Kok bisa gitu?’, ‘Kenapa? Kok kayak gitu, kenapa?’ Itu pasti selalu ditanyakan ke setiap orang,” kenangnya sambil tersenyum.
Bagi Calvin dan Yehezkiel, Adhi Makayasa bukan sekadar penghargaan atas prestasi selama pendidikan. Di baliknya terdapat doa orang tua, kebersamaan dengan rekan seperjuangan, kedisiplinan, serta keteguhan melewati berbagai tantangan.
Kini, dengan pangkat yang tersemat di pundak, keduanya menapaki langkah pertama dalam perjalanan pengabdian. Sebuah perjalanan untuk menjaga amanah rakyat dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
(shf)
Lihat Juga :