Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:57 WIB
loading...
Perang Iran Menjadi...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII

SEJARAH mengajarkan satu hal yang sederhana bahwa kekuatan besar jarang dikalahkan oleh musuhnya. Kekuatan tersebut lebih sering tersandung oleh keyakinan bahwa kekuasaan tidak memiliki batas. Hal inilah yang sedang dialami oleh Donald Trump ketika membawa Amerika Serikat (AS) terjebak dalam rawa perang di Iran.

Donald Trump memasuki Gedung Putih dengan sebuah janji sederhana, yaitu mengakhiri perang-perang tanpa akhir (endless wars), mengembalikan kejayaan Amerika Serikat dengan semboyan Make America Great Again (MAGA), dan memulihkan doktrin perdamaian melalui kekuatan (peace through strength). Namun, ketika lembar-lembar sejarah itu mulai ditulis, justru perang dengan Iran yang tampaknya akan menjadi penanda paling kuat dari legacy kebijakan luar negerinya.

Ironinya bukan terletak pada perang Iran itu sendiri. Sejarah AS memang tidak pernah benar-benar jauh dari perang. Ironinya adalah bahwa setelah berbulan-bulan eskalasi militer, tujuan strategis Washington justru menyusut. Amerika Serikat kini tidak lagi berbicara tentang kemenangan besar, tetapi sekadar berharap keadaan kembali seperti sebelum perang dimulai.

Dalam Aspen Security Forum pekan lalu, mantan Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyampaikan gambaran yang sangat realistis. Menurutnya, keberhasilan Amerika kini cukup diukur dari dua hal: Selat Hormuz kembali terbuka tanpa pungutan dari Iran, dan program nuklir Teheran dibatasi sebagaimana kesepakatan nuklir era Barack Obama. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung ironi yang dalam.

Di sinilah paradoks besar kebijakan luar negeri Trump. Kekuatan militer memang mampu menghancurkan instalasi dan infrastruktur Iran. Namun, ia tidak selalu mampu mengubah kalkulasi politik lawannya. Perang modern semakin menunjukkan bahwa kemenangan bukan lagi soal siapa yang memiliki bom paling besar, tetapi siapa yang mampu mengendalikan konsekuensi setelah bom itu dijatuhkan.

Iran memahami logika itu dengan tepat. Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah urat nadi energi dunia. Hampir seperlima perdagangan minyak global melewati selat sempit itu. Dengan memberlakukan pungutan atas kapal-kapal yang melintas, Teheran sedang berusaha mengubah geografi menjadi instrumen politik.

Amerika Serikat tentu saja tidak dapat menerima keadaan tersebut. Namun, pilihan yang tersedia sama-sama mahal. Blokade laut dan pengeboman tambahan kecil kemungkinannya memaksa Iran menyerah.

Sebaliknya, operasi darat hampir mustahil dilakukan tanpa mengulang trauma Irak dan Afghanistan. Amerika Serikat mengetahui harga perang. Yang belum pasti adalah apakah AS masih bersedia membayarnya. Ada perubahan lain yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Selama bertahun-tahun dunia mengukur ancaman Iran melalui jumlah sentrifugal nuklirnya. Kini ancaman itu telah bergeser menuju teknologi drone, rudal presisi, dan peperangan asimetris. Perang ini memperlihatkan bahwa negara yang secara ekonomi dibatasi ternyata tetap mampu mengembangkan kemampuan militer yang membuat kekuatan terbesar dunia harus berpikir dua kali.

Iran telah menunjukkan kemampuannya menjangkau pangkalan-pangkalan Amerika, fasilitas energi negara-negara Teluk, hingga infrastruktur strategis kawasan. Serangan yang menewaskan dua personel militer AS di Yordania menjadi pengingat bahwa perang tidak pernah benar-benar memiliki garis depan yang jelas.

Yang lebih mencemaskan Pentagon adalah masa depan. Dengan dukungan teknologi Rusia dan China, kemampuan rudal Iran diperkirakan akan terus berkembang.

Lebih jauh, Iran bukan sekadar sebuah rezim. Ia adalah negara dengan tradisi peradaban ribuan tahun, nasionalisme yang mengeras setiap kali menghadapi ancaman eksternal, dan masyarakat yang berkali-kali membuktikan bahwa tekanan asing justru memperkuat solidaritas domestik dan membawa mereka berkumpul di bawah bendera. Karena itu, setiap strategi yang hanya bertumpu pada tekanan eksternal berisiko menghasilkan efek sebaliknya.

Namun, biaya terbesar perang ini mungkin justru tidak berada di Timur Tengah. Ia berada ribuan kilometer di sebelah timur: Indo-Pasifik. Laporan berbagai kalangan pertahanan menunjukkan bahwa dalam beberapa minggu pertama perang, Amerika telah menghabiskan sekitar 30 persen stok rudal jelajah Tomahawk dan hampir separuh pencegat Patriot. Persenjataan yang sebelumnya dipersiapkan untuk kemungkinan konflik di Selat Taiwan kini habis di Timur Tengah.

Sejarah mengajarkan bahwa Inggris dan Uni Soviet pernah mengalaminya. Pertanyaannya kini adalah apakah Amerika Serikat sedang berjalan di jalur yang sama? Sementara Washington sibuk mengelola krisis di Teluk Persia, Beijing memiliki ruang strategis yang semakin luas untuk memperkuat posisinya di Indo-Pasifik. Dalam geopolitik, perhatian adalah sumber daya yang terbatas. Setiap fokus pada satu kawasan berarti mengurangi perhatian pada kawasan lain.

Perang dengan Iran telah menunjukkan keterbatasan doktrin maximum pressure AS. Tekanan ekonomi bertahun-tahun belum mampu menjatuhkan rezim. Operasi militer belum menghasilkan stabilitas.

Diplomasi yang ditinggalkan justru kembali menjadi tujuan yang ingin diraih. Realitasnya, perang dimulai dengan ambisi mengubah Timur Tengah. Namun yang tersisa hanyalah upaya mengembalikan keadaan seperti semula.

Sejarah tentu akan mencatat berapa banyak rudal yang ditembakkan, berapa banyak pangkalan yang dihancurkan, dan berapa banyak sanksi ekonomi yang dijatuhkan. Tetapi, sejarah juga akan bertanya sesuatu yang lebih mendasar adalah apakah semua itu membuat dunia menjadi lebih aman? Jika jawabannya tidak, maka legacy perang ini bukanlah kemenangan strategis, melainkan pelajaran mahal tentang keterbatasan kekuatan.

Pungkasannya, sejarah sedang menguji Amerika Serikat (AS) bukan pada kemampuan memenangkan perang, melainkan pada kebijaksanaan untuk mengetahui kapan perang tidak lagi mampu menghasilkan kemenangan.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perang Berkepanjangan...
Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Iran Nyatakan Pangkalan...
Iran Nyatakan Pangkalan Inggris Target Sah, Tentara London Siaga 24 Jam
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
Trump: Syarat Arab Saudi...
Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Rekomendasi
Juergen Klopp Selangkah...
Juergen Klopp Selangkah Lagi Jadi Pelatih Timnas Jerman
Getol Kritik Netanyahu,...
Getol Kritik Netanyahu, Wali Kota New York Mamdani dan Istri Terima Ancaman Pembunuhan
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
Berita Terkini
Kejagung Dijadwalkan...
Kejagung Dijadwalkan Periksa Febrie Adriansyah Hari Ini, Sebelumnya Mangkir
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur...
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur FBI Langkah Strategis Hadapi Kejahatan Transnasional
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
KPK: Sebelum Serahkan...
KPK: Sebelum Serahkan Amplop ke Menhut, Bupati Kuansing Kumpulkan SGD 46.500
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Yane Bima Arya Harap...
Yane Bima Arya Harap Setiap Anak Peroleh Kasih Sayang dan Rasa Aman
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved