Kepala BPOM Dorong ASEAN Perkuat Sistem Darurat Keamanan Pangan

Rabu, 08 Juli 2026 - 09:42 WIB
loading...
A A A
“Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama di tingkat regional,” ujar Taruna.

Satu dari 10 Orang Jatuh Sakit


Urgensi penguatan sistem tersebut tercermin dari besarnya beban penyakit akibat pangan tidak aman. Setiap tahun, diperkirakan satu dari 10 orang di dunia jatuh sakit akibat mengonsumsi pangan yang tidak aman. Sekitar 420.000 orang meninggal dunia setiap tahun akibat persoalan tersebut.

Bagi Taruna, angka itu menunjukkan bahwa keamanan pangan tidak dapat lagi dipandang semata sebagai urusan teknis regulator. Dampaknya bersentuhan langsung dengan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, aktivitas ekonomi, perdagangan, hingga kepercayaan publik.

“Keamanan pangan tidak lagi semata-mata merupakan fungsi regulatori. Ini adalah investasi strategis dalam kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan kepercayaan konsumen,” katanya.

Karena itu, ASEAN didorong membangun respons darurat di atas empat fondasi utama: deteksi cepat, pertukaran informasi tepat waktu, penilaian risiko berbasis ilmu pengetahuan, dan tindakan regional yang terkoordinasi.

Empat unsur tersebut menjadi penting ketika produk yang sama beredar di sejumlah negara. Dalam situasi kedaruratan, kecepatan satu negara dalam menemukan risiko harus diikuti kemampuan negara lain menerima informasi, menilai ancaman, melacak distribusi produk, dan mengambil keputusan secara terkoordinasi.

Jangan Menunggu Krisis


Taruna menegaskan, kesiapsiagaan tidak dapat dibangun ketika krisis sudah terjadi. Sistem respons harus diuji sebelum menghadapi keadaan darurat yang sebenarnya.

“Kesiapsiagaan tidak dapat dimulai ketika krisis terjadi. Ia harus dikembangkan sebelumnya melalui sistem yang kuat, koordinasi yang efektif, dan latihan simulasi secara berkala seperti ini,” ujar Taruna.

Melalui simulasi selama tiga hari, negara-negara anggota ASEAN akan menguji mekanisme tanggap darurat, memvalidasi proses koordinasi dan pengambilan keputusan, mengidentifikasi kesenjangan yang masih ada, serta memperkuat kemampuan sistem antarnegara untuk bekerja secara terpadu.

Latihan tersebut juga menjadi ujian terhadap pertanyaan mendasar dalam sebuah krisis pangan: seberapa cepat informasi dapat dibagikan, siapa mengambil keputusan, bagaimana risiko ilmiah diterjemahkan menjadi kebijakan, dan sejauh mana negara-negara dapat bergerak bersama ketika ancaman melintasi yurisdiksi nasional.

Menurut Taruna, latihan semacam ini penting karena krisis pangan tidak memberi banyak ruang bagi respons yang lambat. Keterlambatan keputusan dapat memperluas paparan masyarakat, meningkatkan biaya penanganan, dan memicu gangguan perdagangan yang lebih besar.

Melindungi Lebih dari 700 Juta Penduduk


Taruna mengajak negara-negara anggota menjadikan forum FSER sebagai momentum memperkuat solidaritas kawasan. ASEAN, dengan populasi lebih dari 700 juta jiwa, membutuhkan sistem yang mampu menjembatani perbedaan kapasitas nasional dalam menghadapi kedaruratan pangan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia Dorong Dewan...
Indonesia Dorong Dewan Keamanan PBB Perkuat Pencegahan Konflik-ASEAN dan Jadi Mitra Perdamaian
Menjembatani Rivalitas...
Menjembatani Rivalitas LCS: Konsep Hybrid Maritime Security Governance System
Hadiri ASCN 2026, Safrizal...
Hadiri ASCN 2026, Safrizal Tegaskan Komitmen Indonesia Kembangkan Kota Cerdas
10 Tahun Arbitrase Laut...
10 Tahun Arbitrase Laut China Selatan Tak Mempan, Saatnya Mulai Perundingan COC
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
BPOM Bongkar Peredaran...
BPOM Bongkar Peredaran 2,1 Juta Kosmetik Ilegal Senilai Rp35,8 Miliar
Indonesia Cs Serukan...
Indonesia Cs Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Bodoh dan Tolol!
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
Rekomendasi
Karhutla Landa Sejumlah...
Karhutla Landa Sejumlah Wilayah di Pulau Jawa, 11,4 Hektare Lahan Terbakar
Solusi Transportasi...
Solusi Transportasi Praktis untuk Kelancaran Perjalanan Bisnis
iPhone Ultra Lipat Apple...
iPhone Ultra Lipat Apple Berisiko Terhambat, Ini Masalahnya
Berita Terkini
KPK Kembangkan Kasus...
KPK Kembangkan Kasus Suap Rejang Lebong, Bidik Proyek Limbah Kesehatan di Bengkulu
Gelar Diskusi Program...
Gelar Diskusi Program MBG, Ini Rekomendasi Aktivis Perempuan Cipayung Plus
Usut Perkara TPPU Febrie...
Usut Perkara TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Kejagung Periksa 7 Orang Saksi
Presiden PKS Dorong...
Presiden PKS Dorong Komponen Bangsa Lebih Aktif Perjuangkan Kemerdekaan Palestina
Sekolah Nasional Terintegrasi:...
Sekolah Nasional Terintegrasi: Investasi Besar yang Harus Dijaga Konsistensinya
Marak Kasasi Jaksa atas...
Marak Kasasi Jaksa atas Vonis Bebas, Pakar Nilai Bertentangan dengan Asas Hukum
Infografis
Kunjungan, Zelensky...
Kunjungan, Zelensky Tiba-tiba Pecat Kepala Keamanan Kharkiv
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved