Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Minggu, 05 Juli 2026 - 23:14 WIB
loading...
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai pesantren dengan konsep pendidikan berasrama merupakan sekolah yang paling aman bagi kehidupan dunia dan akhirat. Foto/Dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai pesantren merupakan sekolah yang paling aman bagi kehidupan dunia dan akhirat. Menurutnya, hal tersebut tidak terlepas dari konsep boarding school atau pendidikan berasrama yang diterapkan di lingkungan pesantren.
Nasaruddin menilai sistem pendidikan berasrama menjadi pendekatan yang efektif bagi anak-anak dan remaja, terutama pada usia yang rentan. Melalui sistem tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh materi pembelajaran, tetapi juga langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
"Sekolah yang paling aman dunia akhirat itu adalah pesantren. Rusaknya anak remaja kita saat ini sering kali karena kontradiksi di dalam kehidupan. Namun, kalau anak itu di-boarding-kan, apa yang dipelajari, itu pula yang diamalkan. Itulah yang nanti akan membentuk mereka menjadi anak-anak yang saleh dan salehah," jelas Nasaruddin dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa sistem pendidikan pesantren telah mendapat perhatian dan pengakuan dari dunia internasional. Menurut Nasaruddin, model pendidikan berbasis asrama dinilai relevan dalam menjawab tantangan psikologis dan moral yang dihadapi anak-anak saat ini.
"Baru-baru ini ada profesor dari Inggris, pakar pendidikan, yang meneliti pondok pesantren di Indonesia. Kesimpulannya, lembaga pendidikan paling modern dan berperspektif ke depan adalah pondok pesantren," tegasnya.
Baca juga: Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
Lebih lanjut, Nasaruddin menilai pesantren memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan akhlak, kemanusiaan, serta kerukunan sosial.
"Pesantren itu bukan hanya mendidik umat Islam, kehadiran pondok pesantren juga untuk membina kemanusiaan," lanjut Nasaruddin.
Ia pun mengajak para orang tua dan pemangku kepentingan di daerah untuk mendukung keberadaan pesantren yang telah memiliki legitimasi di wilayah masing-masing. Menurutnya, keberadaan pesantren memberikan dampak positif yang melampaui batas identitas keagamaan.
"Ini bukan hanya membahagiakan anak-anak umat Islam, tapi membahagiakan anak manusia di sini," tambahnya.
Selain membentuk karakter, Nasaruddin juga menilai pesantren mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual. Ia mencontohkan adanya lulusan pesantren yang berhasil menjadi sarjana teladan di Institut Teknologi Bandung sekaligus penghafal Al-Qur'an 30 juz.
Ia menambahkan, pesantren juga menanamkan nilai bakti kepada orang tua dalam kehidupan para santri.
"Insyaallah, dengan memasukkan anak kita di pondok pesantren, terasa akhlaknya berubah total. Mereka terbiasa mencium tangan bapak-ibunya, hingga membangunkan orang tuanya untuk salat subuh. Sudah ada tanda-tanda surga yang dimiliki oleh para santri dan santriwati kita," tandasnya.
Nasaruddin menilai sistem pendidikan berasrama menjadi pendekatan yang efektif bagi anak-anak dan remaja, terutama pada usia yang rentan. Melalui sistem tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh materi pembelajaran, tetapi juga langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
"Sekolah yang paling aman dunia akhirat itu adalah pesantren. Rusaknya anak remaja kita saat ini sering kali karena kontradiksi di dalam kehidupan. Namun, kalau anak itu di-boarding-kan, apa yang dipelajari, itu pula yang diamalkan. Itulah yang nanti akan membentuk mereka menjadi anak-anak yang saleh dan salehah," jelas Nasaruddin dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa sistem pendidikan pesantren telah mendapat perhatian dan pengakuan dari dunia internasional. Menurut Nasaruddin, model pendidikan berbasis asrama dinilai relevan dalam menjawab tantangan psikologis dan moral yang dihadapi anak-anak saat ini.
"Baru-baru ini ada profesor dari Inggris, pakar pendidikan, yang meneliti pondok pesantren di Indonesia. Kesimpulannya, lembaga pendidikan paling modern dan berperspektif ke depan adalah pondok pesantren," tegasnya.
Baca juga: Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
Lebih lanjut, Nasaruddin menilai pesantren memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan akhlak, kemanusiaan, serta kerukunan sosial.
"Pesantren itu bukan hanya mendidik umat Islam, kehadiran pondok pesantren juga untuk membina kemanusiaan," lanjut Nasaruddin.
Ia pun mengajak para orang tua dan pemangku kepentingan di daerah untuk mendukung keberadaan pesantren yang telah memiliki legitimasi di wilayah masing-masing. Menurutnya, keberadaan pesantren memberikan dampak positif yang melampaui batas identitas keagamaan.
"Ini bukan hanya membahagiakan anak-anak umat Islam, tapi membahagiakan anak manusia di sini," tambahnya.
Selain membentuk karakter, Nasaruddin juga menilai pesantren mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual. Ia mencontohkan adanya lulusan pesantren yang berhasil menjadi sarjana teladan di Institut Teknologi Bandung sekaligus penghafal Al-Qur'an 30 juz.
Ia menambahkan, pesantren juga menanamkan nilai bakti kepada orang tua dalam kehidupan para santri.
"Insyaallah, dengan memasukkan anak kita di pondok pesantren, terasa akhlaknya berubah total. Mereka terbiasa mencium tangan bapak-ibunya, hingga membangunkan orang tuanya untuk salat subuh. Sudah ada tanda-tanda surga yang dimiliki oleh para santri dan santriwati kita," tandasnya.
(shf)
Lihat Juga :