Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:33 WIB
loading...
Jalur Medan-Berastagi...
Dr Iskandar Purba, Pengajar Teknik Sipil Institut Teknologi PLN. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Dr Iskandar Purba
Pengajar Teknik Sipil Institut Teknologi PLN

JALUR Medan-Berastagi bukan sekadar penghubung Kota Medan dan dataran tinggi Karo. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi, koridor pangan, akses wisata, jalur logistik, sekaligus pintu menuju wilayah tengah Sumatera Utara, termasuk Karo, Dairi, Simalungun, Toba, Samosir, Pakpak Bharat, hingga kawasan yang terhubung dengan Aceh Tenggara dan Subulussalam.

Namun, peran strategis itu kini tidak lagi sebanding dengan kapasitas jalan yang tersedia. Kendaraan pribadi, bus wisata, truk logistik, angkutan hasil pertanian, kendaraan niaga, dan mobilitas harian masyarakat bercampur dalam satu koridor yang terbatas.

Akibatnya, persoalan Medan-Berastagi tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai kemacetan akhir pekan. Ini sudah menjadi masalah konektivitas regional, keselamatan publik, dan ketahanan ekonomi wilayah.

Ketika jalur ini macet, terganggu, atau tertutup, dampaknya tidak hanya dirasakan wisatawan yang hendak berlibur ke Berastagi. Petani, pedagang, pelaku UMKM, pengusaha logistik, pekerja, pelajar, pasien yang membutuhkan akses layanan, dan masyarakat luas ikut menanggung akibatnya. Jalan yang tersendat berarti ekonomi ikut tersendat.

Kemacetan di jalur Medan-Berastagi bukan hal baru. Pada akhir pekan, musim liburan, hari besar, atau masa puncak kunjungan wisata, waktu tempuh sering kali tidak dapat diprediksi. Perjalanan yang seharusnya dapat direncanakan berubah menjadi perjalanan panjang, melelahkan, dan tidak efisien. Bagi masyarakat dan pelaku usaha, ketidakpastian waktu tempuh adalah biaya ekonomi.

Setiap kendaraan yang tertahan berarti bahan bakar terbuang. Setiap jam perjalanan yang hilang berarti produktivitas menurun. Setiap keterlambatan distribusi hasil pertanian berarti risiko penurunan kualitas barang. Setiap keterlambatan logistik berarti biaya bertambah. Karena itu, kemacetan bukan hanya persoalan lalu lintas, melainkan persoalan daya saing wilayah.

Salah satu titik yang menggambarkan keterbatasan jalan eksisting berada di kawasan Sibolangit, terutama sekitar tikungan Tirtanadi. Ruas ini sempit dan sulit diperlebar karena kiri-kanannya berupa tebing batu. Berdasarkan kajian teknis Pra-FS, lebar perkerasan di titik tersebut hanya sekitar 4,7 meter. Artinya, persoalan ini bukan sekadar kesan bahwa jalan terasa sempit, melainkan persoalan teknis yang nyata.

Dalam kondisi seperti itu, solusi tambal sulam tidak lagi cukup. Pelebaran mungkin dapat dilakukan di beberapa titik, tetapi tidak semua bagian memungkinkan diperlebar karena terkunci kondisi topografi.

Rekayasa lalu lintas dapat membantu sementara, tetapi tidak menyelesaikan persoalan kapasitas jangka panjang. Pemeliharaan rutin dan penanganan longsor tetap penting, tetapi semua itu tidak menghadirkan koridor alternatif yang benar-benar baru.

Selain sempit dan padat, jalur Medan-Berastagi juga rentan terhadap gangguan alam. Koridor ini melewati wilayah berbukit dan pegunungan dengan kontur terjal. Risiko longsor bukan sekadar catatan teknis, melainkan ancaman keselamatan. Pada November 2024, longsor besar terjadi di jalur utama Medan menuju Berastagi. Peristiwa itu menimbulkan korban jiwa, melukai sejumlah orang, dan membuat kendaraan terdampak material longsor.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa persoalan Medan-Berastagi bukan hanya kemacetan musiman. Ini adalah persoalan keselamatan, ketahanan jaringan, dan perlindungan terhadap nyawa manusia. Sumatera Utara tidak boleh terus bergantung pada satu jalur utama yang sempit, padat, berkelok, dan rentan bencana.

Data lalu lintas juga memperkuat urgensi tersebut. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, sejak 2023 Lalu Lintas Harian Rata-Rata Tahunan atau LHRT pada koridor Medan-Berastagi tercatat sekitar 20.888 SMP. SMP adalah satuan mobil penumpang, yaitu ukuran pembanding untuk menyetarakan berbagai jenis kendaraan.

Sementara itu, Volume Capacity Ratio atau VCR, yakni perbandingan volume kendaraan dengan kapasitas jalan, berada pada kisaran 0,90–0,99. Dengan VCR hampir menyentuh angka 1, kapasitas jalan praktis sudah sangat terbatas.

Ketika terjadi gangguan kecil seperti kendaraan mogok, kecelakaan, longsor, atau lonjakan arus wisata, kemacetan besar hampir tidak dapat dihindari. Ini menunjukkan bahwa persoalan Medan-Berastagi bukan lagi sekadar kenyamanan perjalanan, melainkan daya tahan jaringan transportasi.

Pembangunan Jalan Tol Medan-Berastagi dapat membantu membagi beban tersebut. Pergerakan jarak menengah dan jauh dapat dialihkan ke tol, sementara jalan eksisting lebih fokus melayani pergerakan lokal. Dengan demikian, pembangunan tol bukan berarti mematikan jalan lama. Justru tol dapat mengurangi tekanan pada jalan lama sehingga fungsinya menjadi lebih sehat.

Koridor ini juga penting bagi ketahanan pangan. Wilayah Karo dan sekitarnya merupakan sentra hortikultura yang memasok sayuran, buah-buahan, bunga, dan produk pertanian lain ke Medan serta wilayah lain. Produk hortikultura membutuhkan distribusi cepat, stabil, dan dapat diprediksi. Keterlambatan di jalan dapat menurunkan kualitas, meningkatkan susut, dan menekan harga jual.

Dari sisi pariwisata, jalur Medan-Berastagi merupakan akses utama menuju Berastagi dan kawasan lanjutan menuju Danau Toba, Samosir, Dairi, dan sekitarnya. Dalam pariwisata, akses adalah bagian dari pengalaman. Jika perjalanan terlalu lama, macet, dan tidak pasti, daya tarik destinasi ikut menurun.

Namun, percepatan pembangunan tol tetap harus dilakukan secara hati-hati. Pemerintah perlu memastikan studi kelayakan, kajian lingkungan, pengadaan tanah, keselamatan konstruksi, dan skema pembiayaan dilakukan secara transparan. Dampak terhadap masyarakat dan pelaku usaha di jalur lama juga harus diantisipasi melalui akses penghubung, rest area, serta program pemberdayaan ekonomi lokal.

Jalan Medan-Berastagi sudah terlalu lama menanggung beban sendirian. Sumatera Utara membutuhkan koridor baru yang lebih aman, andal, dan efisien. Solusi struktural itu adalah percepatan pembangunan Jalan Tol Medan–Berastagi dengan tata kelola yang transparan dan berpihak pada kepentingan publik.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Imam Shalat, Piala Dunia,...
Imam Shalat, Piala Dunia, dan Tempat Muktamar
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Badan Gizi Nasional...
Badan Gizi Nasional dan Reduksi Orkestrasi Pemenuhan Gizi
Pembangunan Tanpa Ekologi:...
Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
Masa Depan Kesehatan,...
Masa Depan Kesehatan, Brantas Abipraya Pastikan Pembangunan Bank Genomik Nasional Berjalan Optimal
Indo Build Tech 2026,...
Indo Build Tech 2026, AMBPI Bawa Sejumlah Inovasi Baru
Rekomendasi
Menpora Erick Kecam...
Menpora Erick Kecam Pelecehan Seksual terhadap Atlet Menembak, Tegaskan Dukungan bagi Korban
Padi Reborn hingga Mahalini...
Padi Reborn hingga Mahalini Bakal Hibur Warga pada Puncak HUT Jakarta
Legislator PKB Minta...
Legislator PKB Minta Taufik Hidayat Dihukum Kebiri
Berita Terkini
Jokowi Bakal Hadir di...
Jokowi Bakal Hadir di Sidang Roy Suryo-Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Kalau 100% Terlalu Dini
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak...
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak Kapal Ikan Hilang di Perairan Busan Korsel
Jaksa KPK Limpahkan...
Jaksa KPK Limpahkan Berkas Perkara Mantan Ketua PN Depok ke Pengadilan Bandung
Prabowo Bertemu Kapolri...
Prabowo Bertemu Kapolri di Istana, Terima Laporan Kamtibmas-Persiapan Hari Bhayangkara 2026
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
Keberlangsungan Energi...
Keberlangsungan Energi Listrik vs Dominasi Oligarki Batubara
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved