Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Minggu, 21 Juni 2026 - 17:26 WIB
loading...
A
A
A
Koperasi Merah Putih dapat menjadi instrumen penting apabila benar-benar berfungsi sebagai pusat distribusi pangan, pembiayaan mikro, pemasaran produk lokal, gudang logistik, dan penguatan ekonomi desa. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola yang profesional, transparansi, serta kemampuan menghindari praktik birokratis dan politisasi.
Pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun oleh negara, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki kapasitas ekonomi untuk bertahan dalam situasi sulit.
Negara Kaya Kapasitas
Selain daripada itu, ada satu pelajaran yang paling penting dari pengalaman Iran: kekuatan bangsa tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan alam.
Iran bukan negara dengan populasi terbesar. Bukan pula negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Namun investasi jangka panjang pada pendidikan, penguasaan teknologi, dan ketahanan sosial membuat negara tersebut mampu mempertahankan daya tawarnya di tengah tekanan global.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang jauh lebih besar. Dengan populasi sekitar 285 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi hingga 2035, cadangan nikel terbesar dunia, serta posisi strategis di jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki peluang menjadi kekuatan besar abad ke-21.
Namun peluang itu hanya akan menjadi kenyataan jika program-program seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, hilirisasi industri, swasembada pangan, dan penguatan pendidikan dipandang sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional jangka panjang, bukan sekadar program pemerintahan lima tahunan.
Iran menunjukkan bahwa bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah mendapat tekanan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengubah tekanan menjadi energi untuk membangun kemandirian. Bagi Indonesia, tantangannya bukan menghadapi sanksi ekonomi seperti Iran.
Tantangan terbesar kita adalah memastikan bahwa bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan stabilitas politik yang kita miliki benar-benar diubah menjadi kekuatan pendidikan, teknologi, dan kesejahteraan rakyat. Jika itu berhasil dilakukan, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara kaya sumber daya, tetapi juga negara kaya kapasitas—dan itulah fondasi sejati sebuah bangsa besar.
Jika Iran mampu menghasilkan puluhan ribu insinyur, ilmuwan, dan peneliti setiap tahun di bawah tekanan sanksi selama puluhan tahun, maka Indonesia yang menikmati stabilitas politik, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam yang jauh lebih besar seharusnya mampu mencapai hasil yang lebih tinggi. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada konsistensi kebijakan. Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang ada di dalam perut bumi, tetapi oleh apa yang ada di dalam kepala rakyatnya. Wallahu a’lam!
Pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun oleh negara, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki kapasitas ekonomi untuk bertahan dalam situasi sulit.
Negara Kaya Kapasitas
Selain daripada itu, ada satu pelajaran yang paling penting dari pengalaman Iran: kekuatan bangsa tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan alam.
Iran bukan negara dengan populasi terbesar. Bukan pula negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Namun investasi jangka panjang pada pendidikan, penguasaan teknologi, dan ketahanan sosial membuat negara tersebut mampu mempertahankan daya tawarnya di tengah tekanan global.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang jauh lebih besar. Dengan populasi sekitar 285 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi hingga 2035, cadangan nikel terbesar dunia, serta posisi strategis di jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki peluang menjadi kekuatan besar abad ke-21.
Namun peluang itu hanya akan menjadi kenyataan jika program-program seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, hilirisasi industri, swasembada pangan, dan penguatan pendidikan dipandang sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional jangka panjang, bukan sekadar program pemerintahan lima tahunan.
Iran menunjukkan bahwa bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah mendapat tekanan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengubah tekanan menjadi energi untuk membangun kemandirian. Bagi Indonesia, tantangannya bukan menghadapi sanksi ekonomi seperti Iran.
Tantangan terbesar kita adalah memastikan bahwa bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan stabilitas politik yang kita miliki benar-benar diubah menjadi kekuatan pendidikan, teknologi, dan kesejahteraan rakyat. Jika itu berhasil dilakukan, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara kaya sumber daya, tetapi juga negara kaya kapasitas—dan itulah fondasi sejati sebuah bangsa besar.
Jika Iran mampu menghasilkan puluhan ribu insinyur, ilmuwan, dan peneliti setiap tahun di bawah tekanan sanksi selama puluhan tahun, maka Indonesia yang menikmati stabilitas politik, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam yang jauh lebih besar seharusnya mampu mencapai hasil yang lebih tinggi. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada konsistensi kebijakan. Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang ada di dalam perut bumi, tetapi oleh apa yang ada di dalam kepala rakyatnya. Wallahu a’lam!
(rca)
Lihat Juga :