Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Minggu, 21 Juni 2026 - 17:26 WIB
loading...
Ahmad Dumyathi Bashori. Foto: Istimewa
A
A
A
Ahmad Dumyathi Bashori
Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok
KONFLIK bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat menarik perhatian dunia. Di balik perdebatan mengenai politik Timur Tengah, ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan oleh bangsa Indonesia: bagaimana sebuah negara yang selama lebih dari empat dekade menghadapi sanksi ekonomi, embargo teknologi, tekanan diplomatik, dan ancaman militer tetap mampu bertahan, mengembangkan teknologi strategis, serta mempertahankan kohesi sosialnya?
Tentu Indonesia tidak harus meniru sistem politik Iran. Namun dalam konteks pembangunan nasional, terdapat sejumlah pelajaran yang layak dikaji secara objektif. Iran menunjukkan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam atau besarnya anggaran negara, melainkan oleh kemampuan membangun manusia, mengembangkan teknologi, dan menjaga solidaritas sosial secara berkelanjutan.
Pendidikan dan STEM, Investasi Jangka Panjang
Ketika dunia melihat kemampuan Iran mengembangkan drone, sistem rudal, teknologi satelit, hingga industri farmasi dalam negeri, yang sebenarnya sedang terlihat adalah hasil investasi pendidikan yang berlangsung puluhan tahun.
Keberhasilan Iran membangun kapasitas teknologi tidak lahir secara tiba-tiba. Selama beberapa dekade terakhir, negara itu secara konsisten mendorong pendidikan sains dan teknik sebagai bagian dari strategi nasional. Data UNESCO dan World Intellectual Property Organization (WIPO) menunjukkan bahwa sekitar 35 persen lulusan perguruan tinggi Iran berasal dari bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), menempatkan Iran di kelompok negara dengan proporsi lulusan STEM tertinggi di dunia. Sebagai perbandingan, rata-rata negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) memiliki proporsi lulusan STEM di bawah 25 persen.
Dominasi bidang teknik bahkan lebih mencolok. Menurut Royal Academy of Engineering Inggris, Iran memiliki salah satu proporsi lulusan teknik, manufaktur, dan konstruksi tertinggi di dunia, sekitar 30 persen dari total lulusan pendidikan tinggi. Angka tersebut mencerminkan orientasi pembangunan yang secara sadar menempatkan insinyur, ilmuwan, dan tenaga teknis sebagai aset strategis negara.
Dampaknya terlihat pada kapasitas inovasi nasional. Pada 2016, Iran menghasilkan sekitar 335.000 lulusan STEM dalam satu tahun, menempatkannya di antara negara-negara dengan jumlah lulusan STEM terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Rusia. Menariknya, capaian tersebut diraih di tengah berbagai keterbatasan akibat sanksi internasional dan akses teknologi yang dibatasi.
Data UNESCO menunjukkan tingkat literasi Iran meningkat dari sekitar 37 persen pada 1976 menjadi mendekati 90 persen saat ini. Untuk kelompok usia muda, angka literasi mencapai lebih dari 98 persen. Iran juga menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan publikasi ilmiah tercepat di dunia selama dua dekade terakhir, khususnya pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Pelajaran ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia yang saat ini sedang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut seharusnya tidak dipahami semata sebagai kebijakan kesejahteraan, tetapi sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang. Indonesia memiliki sekitar 53 juta peserta didik dan lebih dari 9 juta mahasiswa, salah satu populasi pelajar terbesar di dunia.
Namun tantangan terbesar bukan lagi akses pendidikan, melainkan kualitas dan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masa depan. Jika Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, maka keberhasilan MBG harus diikuti oleh lompatan besar dalam pendidikan STEM, riset, kecerdasan buatan, semikonduktor, teknologi digital, manufaktur maju, dan inovasi industri. Sebab sejarah menunjukkan bahwa negara yang menguasai teknologi tidak selalu negara yang paling kaya sumber daya alam, melainkan negara yang paling serius membangun manusianya.
Dalam konteks ini, program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo sesungguhnya memiliki makna strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar program bantuan sosial. Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa kecukupan gizi pada usia dini berpengaruh langsung terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas kerja, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Berdasarkan data pemerintah, MBG ditargetkan menjangkau puluhan juta anak sekolah, santri, serta ibu hamil dan menyusui. Jika dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, program ini dapat menjadi investasi sumber daya manusia terbesar dalam sejarah Indonesia. Iran mengajarkan bahwa teknologi canggih tidak lahir dari pabrik, tetapi dari ruang kelas, laboratorium, dan kualitas manusia yang dibangun sejak usia dini.
Kemandirian Industri Strategis dan Teknologi
Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari Iran adalah pentingnya kemandirian industri strategis. Selama puluhan tahun sanksi, Iran dipaksa mengembangkan kemampuan dalam negeri pada sektor pertahanan, energi, farmasi, teknologi informasi, hingga industri manufaktur. Tekanan eksternal justru mendorong lahirnya budaya inovasi dan substitusi impor.
Indonesia sebenarnya sedang bergerak ke arah yang sama melalui agenda hilirisasi sumber daya alam yang menjadi prioritas nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah dari komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis lainnya. Langkah ini penting mengingat Indonesia menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel dunia yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik.
Namun pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa hilirisasi saja tidak cukup. Negara tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan baku. Tahap berikutnya harus berupa penguasaan teknologi, desain produk, riset material, kecerdasan buatan, semikonduktor, hingga industri berbasis pengetahuan.
Dalam konteks ini, Indonesia perlu memperkuat keterkaitan antara universitas, lembaga penelitian, BUMN, koperasi, dan sektor swasta. Salah satu kelemahan yang masih sering terjadi adalah hasil riset perguruan tinggi yang belum terhubung secara optimal dengan kebutuhan industri nasional.
Iran menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berinovasi. Sebaliknya, ketergantungan berlebihan terhadap impor justru dapat menjadi ancaman ketika terjadi gejolak geopolitik global.
Ketahanan Sosial dan Ekonomi Rakyat
Pelajaran ketiga yang paling relevan bagi Indonesia adalah pentingnya ketahanan sosial. Banyak negara memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi rapuh ketika menghadapi krisis. Sebaliknya, ada negara yang mampu bertahan karena memiliki fondasi sosial yang kuat.
Dalam konteks Indonesia, salah satu program yang menarik perhatian adalah pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang ditargetkan mencapai sekitar 80.000 unit di seluruh Indonesia. Gagasan dasarnya adalah memperkuat ekonomi akar rumput melalui kelembagaan ekonomi yang dimiliki masyarakat sendiri.
Di sinilah terdapat kemiripan pelajaran dengan pengalaman Iran. Salah satu alasan ketahanan sosial Iran adalah keberadaan jaringan ekonomi lokal, lembaga sosial, dan sistem distribusi yang relatif mampu menjaga kebutuhan dasar masyarakat meskipun menghadapi tekanan eksternal.
Indonesia masih menghadapi tantangan serius berupa ketimpangan ekonomi. Data menunjukkan bahwa sekitar 29 juta penduduk Indonesia masih berada di sekitar garis kemiskinan, sementara sebagian besar unit usaha nasional merupakan usaha mikro dan kecil yang rentan terhadap guncangan ekonomi.
Koperasi Merah Putih dapat menjadi instrumen penting apabila benar-benar berfungsi sebagai pusat distribusi pangan, pembiayaan mikro, pemasaran produk lokal, gudang logistik, dan penguatan ekonomi desa. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola yang profesional, transparansi, serta kemampuan menghindari praktik birokratis dan politisasi.
Pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun oleh negara, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki kapasitas ekonomi untuk bertahan dalam situasi sulit.
Negara Kaya Kapasitas
Selain daripada itu, ada satu pelajaran yang paling penting dari pengalaman Iran: kekuatan bangsa tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan alam.
Iran bukan negara dengan populasi terbesar. Bukan pula negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Namun investasi jangka panjang pada pendidikan, penguasaan teknologi, dan ketahanan sosial membuat negara tersebut mampu mempertahankan daya tawarnya di tengah tekanan global.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang jauh lebih besar. Dengan populasi sekitar 285 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi hingga 2035, cadangan nikel terbesar dunia, serta posisi strategis di jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki peluang menjadi kekuatan besar abad ke-21.
Namun peluang itu hanya akan menjadi kenyataan jika program-program seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, hilirisasi industri, swasembada pangan, dan penguatan pendidikan dipandang sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional jangka panjang, bukan sekadar program pemerintahan lima tahunan.
Iran menunjukkan bahwa bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah mendapat tekanan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengubah tekanan menjadi energi untuk membangun kemandirian. Bagi Indonesia, tantangannya bukan menghadapi sanksi ekonomi seperti Iran.
Tantangan terbesar kita adalah memastikan bahwa bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan stabilitas politik yang kita miliki benar-benar diubah menjadi kekuatan pendidikan, teknologi, dan kesejahteraan rakyat. Jika itu berhasil dilakukan, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara kaya sumber daya, tetapi juga negara kaya kapasitas—dan itulah fondasi sejati sebuah bangsa besar.
Jika Iran mampu menghasilkan puluhan ribu insinyur, ilmuwan, dan peneliti setiap tahun di bawah tekanan sanksi selama puluhan tahun, maka Indonesia yang menikmati stabilitas politik, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam yang jauh lebih besar seharusnya mampu mencapai hasil yang lebih tinggi. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada konsistensi kebijakan. Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang ada di dalam perut bumi, tetapi oleh apa yang ada di dalam kepala rakyatnya. Wallahu a’lam!
Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok
KONFLIK bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat menarik perhatian dunia. Di balik perdebatan mengenai politik Timur Tengah, ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan oleh bangsa Indonesia: bagaimana sebuah negara yang selama lebih dari empat dekade menghadapi sanksi ekonomi, embargo teknologi, tekanan diplomatik, dan ancaman militer tetap mampu bertahan, mengembangkan teknologi strategis, serta mempertahankan kohesi sosialnya?
Tentu Indonesia tidak harus meniru sistem politik Iran. Namun dalam konteks pembangunan nasional, terdapat sejumlah pelajaran yang layak dikaji secara objektif. Iran menunjukkan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam atau besarnya anggaran negara, melainkan oleh kemampuan membangun manusia, mengembangkan teknologi, dan menjaga solidaritas sosial secara berkelanjutan.
Pendidikan dan STEM, Investasi Jangka Panjang
Ketika dunia melihat kemampuan Iran mengembangkan drone, sistem rudal, teknologi satelit, hingga industri farmasi dalam negeri, yang sebenarnya sedang terlihat adalah hasil investasi pendidikan yang berlangsung puluhan tahun.
Keberhasilan Iran membangun kapasitas teknologi tidak lahir secara tiba-tiba. Selama beberapa dekade terakhir, negara itu secara konsisten mendorong pendidikan sains dan teknik sebagai bagian dari strategi nasional. Data UNESCO dan World Intellectual Property Organization (WIPO) menunjukkan bahwa sekitar 35 persen lulusan perguruan tinggi Iran berasal dari bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), menempatkan Iran di kelompok negara dengan proporsi lulusan STEM tertinggi di dunia. Sebagai perbandingan, rata-rata negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) memiliki proporsi lulusan STEM di bawah 25 persen.
Dominasi bidang teknik bahkan lebih mencolok. Menurut Royal Academy of Engineering Inggris, Iran memiliki salah satu proporsi lulusan teknik, manufaktur, dan konstruksi tertinggi di dunia, sekitar 30 persen dari total lulusan pendidikan tinggi. Angka tersebut mencerminkan orientasi pembangunan yang secara sadar menempatkan insinyur, ilmuwan, dan tenaga teknis sebagai aset strategis negara.
Dampaknya terlihat pada kapasitas inovasi nasional. Pada 2016, Iran menghasilkan sekitar 335.000 lulusan STEM dalam satu tahun, menempatkannya di antara negara-negara dengan jumlah lulusan STEM terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Rusia. Menariknya, capaian tersebut diraih di tengah berbagai keterbatasan akibat sanksi internasional dan akses teknologi yang dibatasi.
Data UNESCO menunjukkan tingkat literasi Iran meningkat dari sekitar 37 persen pada 1976 menjadi mendekati 90 persen saat ini. Untuk kelompok usia muda, angka literasi mencapai lebih dari 98 persen. Iran juga menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan publikasi ilmiah tercepat di dunia selama dua dekade terakhir, khususnya pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Pelajaran ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia yang saat ini sedang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut seharusnya tidak dipahami semata sebagai kebijakan kesejahteraan, tetapi sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang. Indonesia memiliki sekitar 53 juta peserta didik dan lebih dari 9 juta mahasiswa, salah satu populasi pelajar terbesar di dunia.
Namun tantangan terbesar bukan lagi akses pendidikan, melainkan kualitas dan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masa depan. Jika Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, maka keberhasilan MBG harus diikuti oleh lompatan besar dalam pendidikan STEM, riset, kecerdasan buatan, semikonduktor, teknologi digital, manufaktur maju, dan inovasi industri. Sebab sejarah menunjukkan bahwa negara yang menguasai teknologi tidak selalu negara yang paling kaya sumber daya alam, melainkan negara yang paling serius membangun manusianya.
Dalam konteks ini, program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo sesungguhnya memiliki makna strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar program bantuan sosial. Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa kecukupan gizi pada usia dini berpengaruh langsung terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas kerja, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Berdasarkan data pemerintah, MBG ditargetkan menjangkau puluhan juta anak sekolah, santri, serta ibu hamil dan menyusui. Jika dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, program ini dapat menjadi investasi sumber daya manusia terbesar dalam sejarah Indonesia. Iran mengajarkan bahwa teknologi canggih tidak lahir dari pabrik, tetapi dari ruang kelas, laboratorium, dan kualitas manusia yang dibangun sejak usia dini.
Kemandirian Industri Strategis dan Teknologi
Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari Iran adalah pentingnya kemandirian industri strategis. Selama puluhan tahun sanksi, Iran dipaksa mengembangkan kemampuan dalam negeri pada sektor pertahanan, energi, farmasi, teknologi informasi, hingga industri manufaktur. Tekanan eksternal justru mendorong lahirnya budaya inovasi dan substitusi impor.
Indonesia sebenarnya sedang bergerak ke arah yang sama melalui agenda hilirisasi sumber daya alam yang menjadi prioritas nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah dari komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis lainnya. Langkah ini penting mengingat Indonesia menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel dunia yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik.
Namun pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa hilirisasi saja tidak cukup. Negara tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan baku. Tahap berikutnya harus berupa penguasaan teknologi, desain produk, riset material, kecerdasan buatan, semikonduktor, hingga industri berbasis pengetahuan.
Dalam konteks ini, Indonesia perlu memperkuat keterkaitan antara universitas, lembaga penelitian, BUMN, koperasi, dan sektor swasta. Salah satu kelemahan yang masih sering terjadi adalah hasil riset perguruan tinggi yang belum terhubung secara optimal dengan kebutuhan industri nasional.
Iran menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berinovasi. Sebaliknya, ketergantungan berlebihan terhadap impor justru dapat menjadi ancaman ketika terjadi gejolak geopolitik global.
Ketahanan Sosial dan Ekonomi Rakyat
Pelajaran ketiga yang paling relevan bagi Indonesia adalah pentingnya ketahanan sosial. Banyak negara memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi rapuh ketika menghadapi krisis. Sebaliknya, ada negara yang mampu bertahan karena memiliki fondasi sosial yang kuat.
Dalam konteks Indonesia, salah satu program yang menarik perhatian adalah pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang ditargetkan mencapai sekitar 80.000 unit di seluruh Indonesia. Gagasan dasarnya adalah memperkuat ekonomi akar rumput melalui kelembagaan ekonomi yang dimiliki masyarakat sendiri.
Di sinilah terdapat kemiripan pelajaran dengan pengalaman Iran. Salah satu alasan ketahanan sosial Iran adalah keberadaan jaringan ekonomi lokal, lembaga sosial, dan sistem distribusi yang relatif mampu menjaga kebutuhan dasar masyarakat meskipun menghadapi tekanan eksternal.
Indonesia masih menghadapi tantangan serius berupa ketimpangan ekonomi. Data menunjukkan bahwa sekitar 29 juta penduduk Indonesia masih berada di sekitar garis kemiskinan, sementara sebagian besar unit usaha nasional merupakan usaha mikro dan kecil yang rentan terhadap guncangan ekonomi.
Koperasi Merah Putih dapat menjadi instrumen penting apabila benar-benar berfungsi sebagai pusat distribusi pangan, pembiayaan mikro, pemasaran produk lokal, gudang logistik, dan penguatan ekonomi desa. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola yang profesional, transparansi, serta kemampuan menghindari praktik birokratis dan politisasi.
Pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun oleh negara, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki kapasitas ekonomi untuk bertahan dalam situasi sulit.
Negara Kaya Kapasitas
Selain daripada itu, ada satu pelajaran yang paling penting dari pengalaman Iran: kekuatan bangsa tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan alam.
Iran bukan negara dengan populasi terbesar. Bukan pula negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Namun investasi jangka panjang pada pendidikan, penguasaan teknologi, dan ketahanan sosial membuat negara tersebut mampu mempertahankan daya tawarnya di tengah tekanan global.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang jauh lebih besar. Dengan populasi sekitar 285 juta jiwa, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi hingga 2035, cadangan nikel terbesar dunia, serta posisi strategis di jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki peluang menjadi kekuatan besar abad ke-21.
Namun peluang itu hanya akan menjadi kenyataan jika program-program seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, hilirisasi industri, swasembada pangan, dan penguatan pendidikan dipandang sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional jangka panjang, bukan sekadar program pemerintahan lima tahunan.
Iran menunjukkan bahwa bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah mendapat tekanan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengubah tekanan menjadi energi untuk membangun kemandirian. Bagi Indonesia, tantangannya bukan menghadapi sanksi ekonomi seperti Iran.
Tantangan terbesar kita adalah memastikan bahwa bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan stabilitas politik yang kita miliki benar-benar diubah menjadi kekuatan pendidikan, teknologi, dan kesejahteraan rakyat. Jika itu berhasil dilakukan, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara kaya sumber daya, tetapi juga negara kaya kapasitas—dan itulah fondasi sejati sebuah bangsa besar.
Jika Iran mampu menghasilkan puluhan ribu insinyur, ilmuwan, dan peneliti setiap tahun di bawah tekanan sanksi selama puluhan tahun, maka Indonesia yang menikmati stabilitas politik, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam yang jauh lebih besar seharusnya mampu mencapai hasil yang lebih tinggi. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada konsistensi kebijakan. Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang ada di dalam perut bumi, tetapi oleh apa yang ada di dalam kepala rakyatnya. Wallahu a’lam!
(rca)
Lihat Juga :