AHWA dan Masa Depan Kepemimpinan NU

Jum'at, 19 Juni 2026 - 07:00 WIB
loading...
A A A
Sementara Ketua Umum Tanfidziyah menjalankan fungsi manajerial organisasi. Diferensiasi semacam ini sesungguhnya mencerminkan struktur klasik NU yang membedakan antara dimensi “imamah ruhaniyah” dan tata kelola organisasi.
Namun demikian, sejak awal AHWA juga memunculkan perdebatan.

Sebagian kalangan melihat mekanisme tersebut sebagai bentuk perlindungan terhadap marwah ulama agar tidak terseret dalam kompetisi politik yang terlalu terbuka. Sebagian lainnya menilai AHWA berpotensi mengurangi partisipasi demokratis warga NU karena keputusan akhir berada di tangan sejumlah kecil tokoh yang ditunjuk.

Perdebatan tersebut sebenarnya mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara tradisi dan modernitas dalam tubuh NU. Robert W. Hefner (2000) --lihat Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press menjelaskan bahwa demokrasi di Indonesia berkembang melalui proses negosiasi yang kompleks antara nilai-nilai modern dan tradisi keagamaan lokal.

Dalam konteks ini, AHWA dapat dipandang sebagai bentuk negosiasi khas NU terhadap tuntutan demokratisasi tanpa harus melepaskan akar tradisi pesantren yang menjadi identitas organisasi. Karena itu, masa depan AHWA sangat bergantung pada kemampuannya menjawab kebutuhan legitimasi di era baru tersebut.

Legitimasi tradisional yang bersumber dari kharisma ulama tetap penting, tetapi tidak lagi cukup. Ia perlu dilengkapi dengan legitimasi prosedural yang memungkinkan warga NU memahami, menerima, dan mempercayai proses yang berlangsung.

Dalam teori otoritas, Max Weber (1978) dalam Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. Berkeley: University of California Press menjelaskan bahwa legitimasi dapat berasal dari tradisi, kharisma, maupun rasionalitas legal-formal. Menariknya, NU selama ini berhasil mengkombinasikan ketiga sumber legitimasi tersebut. Tradisi pesantren memberikan fondasi kultural, kharisma kiai menyediakan otoritas moral, sementara struktur organisasi modern menghadirkan tata kelola yang lebih rasional.

Pada NU tantangan terbesar “rasionalitas” Weber dalam AHWA adalah menjaga keseimbangan ketiga unsur tersebut.
Jika terlalu menekankan aspek tradisional, maka AHWA berisiko dianggap eksklusif oleh sebagian warga NU yang menginginkan keterbukaan lebih besar.

Sebaliknya, jika terlalu mengikuti logika demokrasi elektoral modern, maka NU dapat kehilangan salah satu ciri khas terpentingnya, yaitu penghormatan terhadap otoritas keulamaan. Jalan tengah yang diperlukan bukanlah menghapus AHWA ataupun mempertahankannya secara dogmatis, melainkan terus menyempurnakan mekanismenya agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Anthony Giddens menyebut proses ini sebagai reflexive modernization, yaitu kemampuan sebuah institusi merefleksikan dirinya sendiri secara kritis sembari mempertahankan kontinuitas nilai dasarnya --lihat Anthony Giddens (1991). Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age. Stanford: Stanford University Press.

Secara etnografis, warga NU sesungguhnya memiliki kemampuan tinggi dalam menerima perubahan selama perubahan tersebut dipahami sebagai bagian dari tradisi, bukan ancaman terhadap tradisi. Pesantren-pesantren NU telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengadopsi pendidikan modern, teknologi digital, dan berbagai inovasi sosial tanpa kehilangan identitas keislaman maupun keindonesiaannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Pertemuan di Ponpes...
Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
4 Keputusan Munas Kader...
4 Keputusan Munas Kader Muda NU, Dukung Muktamar ke-35 di Lirboyo hingga Tolak Zonasi AHWA
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
Kritik Menggema Jelang...
Kritik Menggema Jelang Muktamar, Warga NU Depok Soroti Tata Kelola PBNU
GP Ansor Rombak Kepengurusan,...
GP Ansor Rombak Kepengurusan, Sejumlah Tokoh Muda NU Masuk Struktur
Jelang Muktamar ke-35,...
Jelang Muktamar ke-35, Calon Ketum PBNU Gus Salam Silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-NTT
13 Kiai Berkumpul di...
13 Kiai Berkumpul di Ponpes Al Falah Ploso, Serukan Muktamar NU Digelar di Pesantren
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh...
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh Yusuf Sebut Gus Salam Layak Jadi Ketum PBNU
Syiar Islam Harus Dekat...
Syiar Islam Harus Dekat dengan Masyarakat
Rekomendasi
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
Drama Injury Time, Jerman...
Drama Injury Time, Jerman Tekuk Pantai Gading 2-1 dan Lolos ke 32 Besar
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Kapolri: Kegiatan Sebelum Diserahkan ke Kejaksaan
Ajak Elite Politik Jaga...
Ajak Elite Politik Jaga Stabilitas Politik dan Konsisten Bersikap, Misbakhun: Jangan Ambigu
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Ribuan Desa Belum Teraliri...
Ribuan Desa Belum Teraliri Listrik, Menteri Bahlil Siapkan Anggaran Rp10 Triliun
Prabowo Ucapkan Selamat...
Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun Ke-65 untuk Jokowi
KSP: MBG Terus Berlanjut,...
KSP: MBG Terus Berlanjut, Tata Kelola dan Pengawasan Diperkuat
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved