Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Sabtu, 13 Juni 2026 - 23:12 WIB
loading...
Kementerian Lingkungan Hidup (LH) bersama Aliansi Lintas Agama menekankan pentingnya pendekatan budaya dan persuasi religius dalam mengatasi ancaman keruntuhan ekologis. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup (LH) bersama Aliansi Lintas Agama menekankan pentingnya pendekatan budaya dan persuasi religius dalam mengatasi ancaman keruntuhan ekologis.
Hal itu terungkap dalam dialog dengan gerakan moral lintas agama yang tergabung dalam Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan BUMI) di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup, Kuningan, Jakarta, Jumat 12 Juni 2026.
Dalam audiensi tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat didampingi Sekretaris Kementerian, beserta beberapa staf khusus dan deputi. Sementara itu, rombongan Siaga Bumi dipimpin Ketua Dewan Pengarah Din Syamsuddin.
Baca juga: Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
Din Syamsuddin memaparkan sejarah panjang Siaga Bumi yang didirikan sejak 2015 sebagai gerakan moral dari umat beragama. Gerakan ini merupakan wujud nyata kolaborasi inklusif yang terdiri dari delapan unsur Inter-Religious Council (IRC) Indonesia.
Antara lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).
Tak hanya itu, ada pula representasi dari dunia akademik melalui kampus -kampus yang memiliki studi lingkungan di antaranya Universitas Nasional (Unas).
Lihat video: Cegah Kerusakan Lingkungan, Kemenhut Tertibkan Hutan Sumatra
“Siaga Bumi telah bergerak melalui berbagai program konkret, salah satunya adalah gerakan Eco Rumah Ibadah. Program ini berfokus pada pengasrian fisik dan lingkungan di sekitar rumah-rumah ibadah, manajemen air yang berkelanjutan, serta manajemen sampah,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).
Gerakan ini juga sejalan dan mendapat dukungan dari Paus Leo XIV dalam pesan terbaru untuk Hari Doa Dunia untuk Penciptaan 2025:
“Keadilan lingkungan tidak lagi dapat dianggap sebagai konsep abstrak atau tujuan yang jauh. Ini adalah masalah keadilan—sosial, ekonomi, dan manusia. Bagi para percaya, ini juga merupakan kewajiban yang lahir dari iman. Sekarang saatnya mengikuti kata-kata dengan tindakan.”
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyambut baik dan mengapresiasi konsistensi Siaga Bumi. Jumhur mengungkapkan, Kementerian LH tengah menyiapkan agenda besar yang dinamakan Pertaubatan Nasional Ekologis.
"Program strategis ini mencakup aksi nyata berskala besar, mulai dari reforestasi melalui penanaman 2 miliar pohon hingga pendataan ketat terhadap industri-industri yang merusak lingkungan," ujarnya.
Jumhur menegaskan di balik tantangan dan ancaman krisis lingkungan yang masif saat ini, terdapat peluang besar yang muncul dari semangat kebersamaan.
“Semua pihak yang beragam—lintas agama, lintas negara, lintas profesi, dan lintas keahlian—kini dapat bersatu karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab moral pada isu lingkungan hidup. Kami di Kementerian LH sangat merasa perlu adanya rekayasa sosial dan persuasi religius untuk mempengaruhi sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” lanjutnya.
Kedua belah pihak sepakat bahwa akar masalah utama dari krisis ekologis saat ini adalah persoalan budaya dan gaya hidup. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses pembudayaan baru yang dilakukan secara simultan, baik melalui langkah-langkah cepat yang responsif maupun edukasi secara perlahan dan mendalam.
Hal itu terungkap dalam dialog dengan gerakan moral lintas agama yang tergabung dalam Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan BUMI) di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup, Kuningan, Jakarta, Jumat 12 Juni 2026.
Dalam audiensi tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat didampingi Sekretaris Kementerian, beserta beberapa staf khusus dan deputi. Sementara itu, rombongan Siaga Bumi dipimpin Ketua Dewan Pengarah Din Syamsuddin.
Baca juga: Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
Din Syamsuddin memaparkan sejarah panjang Siaga Bumi yang didirikan sejak 2015 sebagai gerakan moral dari umat beragama. Gerakan ini merupakan wujud nyata kolaborasi inklusif yang terdiri dari delapan unsur Inter-Religious Council (IRC) Indonesia.
Antara lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).
Tak hanya itu, ada pula representasi dari dunia akademik melalui kampus -kampus yang memiliki studi lingkungan di antaranya Universitas Nasional (Unas).
Lihat video: Cegah Kerusakan Lingkungan, Kemenhut Tertibkan Hutan Sumatra
“Siaga Bumi telah bergerak melalui berbagai program konkret, salah satunya adalah gerakan Eco Rumah Ibadah. Program ini berfokus pada pengasrian fisik dan lingkungan di sekitar rumah-rumah ibadah, manajemen air yang berkelanjutan, serta manajemen sampah,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).
Gerakan ini juga sejalan dan mendapat dukungan dari Paus Leo XIV dalam pesan terbaru untuk Hari Doa Dunia untuk Penciptaan 2025:
“Keadilan lingkungan tidak lagi dapat dianggap sebagai konsep abstrak atau tujuan yang jauh. Ini adalah masalah keadilan—sosial, ekonomi, dan manusia. Bagi para percaya, ini juga merupakan kewajiban yang lahir dari iman. Sekarang saatnya mengikuti kata-kata dengan tindakan.”
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyambut baik dan mengapresiasi konsistensi Siaga Bumi. Jumhur mengungkapkan, Kementerian LH tengah menyiapkan agenda besar yang dinamakan Pertaubatan Nasional Ekologis.
"Program strategis ini mencakup aksi nyata berskala besar, mulai dari reforestasi melalui penanaman 2 miliar pohon hingga pendataan ketat terhadap industri-industri yang merusak lingkungan," ujarnya.
Jumhur menegaskan di balik tantangan dan ancaman krisis lingkungan yang masif saat ini, terdapat peluang besar yang muncul dari semangat kebersamaan.
“Semua pihak yang beragam—lintas agama, lintas negara, lintas profesi, dan lintas keahlian—kini dapat bersatu karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab moral pada isu lingkungan hidup. Kami di Kementerian LH sangat merasa perlu adanya rekayasa sosial dan persuasi religius untuk mempengaruhi sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” lanjutnya.
Kedua belah pihak sepakat bahwa akar masalah utama dari krisis ekologis saat ini adalah persoalan budaya dan gaya hidup. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses pembudayaan baru yang dilakukan secara simultan, baik melalui langkah-langkah cepat yang responsif maupun edukasi secara perlahan dan mendalam.
(cip)
Lihat Juga :