Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
Minggu, 07 Juni 2026 - 23:27 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, Toto berpendapat, ajakan tobat ekologis dari Menteri Lingkungan Hidup memiliki pesan yang sangat penting. Ajakan itu seolah mengingatkan bahwa ancaman ekologis yang kita hadapi bukan semata-mata hukuman alam, melainkan konsekuensi dari perbuatan manusia sendiri.
"Banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir, dan meningkatnya suhu bumi tidak datang begitu saja. Di situ ada keserakahan, kelalaian, pembiaran, serta kebijakan yang sering kali tidak ramah terhadap alam," tegasnya.
Namun, Toto menjelaskan, sebagaimana tobat dalam pengertian agama, tobat ekologis tentu tidak cukup berhenti pada ucapan. Tobat harus dibuktikan dengan perubahan sikap dan tindakan.
Tobat tanpa perubahan perilaku, kata Toto, hanya akan menjadi kata-kata. Begitu pula tobat ekologis tanpa perbaikan kebijakan dan kerja nyata hanya akan menjadi slogan yang indah, tetapi kosong.
Karena itu, menurut Toto, ajakan Jumhur Hidayat harus segera diterjemahkan menjadi langkah-langkah konkret. Misalnya, pemerintah harus berani mengevaluasi izin-izin usaha yang merusak lingkungan, menindak perusahaan pencemar, memulihkan kawasan kritis, serta menghentikan praktik pembangunan yang melampaui daya dukung alam.
Selain itu, dalam pandangan Toto, tobat ekologis juga tidak boleh hanya dibebankan kepada rakyat kecil. Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon, sementara industri besar terus membuang limbah, merusak hutan, dan mengeruk sumber daya alam tanpa pengawasan yang tegas.
Toto berpendapat, tobat ekologis harus berlaku untuk semua, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan setiap individu. Pada bagian lain, Toto juga menyambut positif gagasan menanam dua miliar pohon sebagai langkah yang cerdas dan patut didukung.
Penanaman pohon memang menjadi salah satu cara penting untuk memperbaiki tutupan lahan, menyerap karbon, menjaga sumber air, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta memulihkan ekosistem yang rusak. Tetapi, lanjut Toto, angka dua miliar pohon tidak boleh hanya terdengar besar dalam pidato.
"Banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir, dan meningkatnya suhu bumi tidak datang begitu saja. Di situ ada keserakahan, kelalaian, pembiaran, serta kebijakan yang sering kali tidak ramah terhadap alam," tegasnya.
Namun, Toto menjelaskan, sebagaimana tobat dalam pengertian agama, tobat ekologis tentu tidak cukup berhenti pada ucapan. Tobat harus dibuktikan dengan perubahan sikap dan tindakan.
Tobat tanpa perubahan perilaku, kata Toto, hanya akan menjadi kata-kata. Begitu pula tobat ekologis tanpa perbaikan kebijakan dan kerja nyata hanya akan menjadi slogan yang indah, tetapi kosong.
Karena itu, menurut Toto, ajakan Jumhur Hidayat harus segera diterjemahkan menjadi langkah-langkah konkret. Misalnya, pemerintah harus berani mengevaluasi izin-izin usaha yang merusak lingkungan, menindak perusahaan pencemar, memulihkan kawasan kritis, serta menghentikan praktik pembangunan yang melampaui daya dukung alam.
Selain itu, dalam pandangan Toto, tobat ekologis juga tidak boleh hanya dibebankan kepada rakyat kecil. Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon, sementara industri besar terus membuang limbah, merusak hutan, dan mengeruk sumber daya alam tanpa pengawasan yang tegas.
Toto berpendapat, tobat ekologis harus berlaku untuk semua, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan setiap individu. Pada bagian lain, Toto juga menyambut positif gagasan menanam dua miliar pohon sebagai langkah yang cerdas dan patut didukung.
Penanaman pohon memang menjadi salah satu cara penting untuk memperbaiki tutupan lahan, menyerap karbon, menjaga sumber air, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta memulihkan ekosistem yang rusak. Tetapi, lanjut Toto, angka dua miliar pohon tidak boleh hanya terdengar besar dalam pidato.
Lihat Juga :