Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?

Kamis, 04 Juni 2026 - 14:50 WIB
loading...
A A A
Dalam perspektif ini, investor tidak hanya melihat indikator makroekonomi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, atau suku bunga. Mereka juga menilai kualitas tata kelola pemerintahan, kepastian regulasi, serta kemampuan pemerintah menjaga konsistensi arah kebijakan dalam jangka panjang.

Perubahan regulasi yang terlalu sering, ketidakjelasan implementasi kebijakan strategis, atau munculnya persepsi bahwa kebijakan ekonomi lebih didorong oleh pertimbangan politik jangka pendek dapat meningkatkan ketidakpastian investasi. Akibatnya, meskipun indikator pertumbuhan menunjukkan kinerja yang baik, investor tetap bersikap hati-hati karena risiko kebijakan dianggap meningkat.

Kondisi inilah yang menjelaskan paradoks ekonomi Indonesia saat ini. Pertumbuhan ekonomi relatif tinggi, tetapi sentimen investor belum sepenuhnya pulih karena pasar menilai bahwa keberlanjutan pertumbuhan tersebut masih membutuhkan fondasi kelembagaan yang lebih kuat.

Institusi yang Kuat Melahirkan Kepercayaan


Ekonom pemenang Nobel, Douglass North, menegaskan bahwa institusi merupakan faktor fundamental yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi jangka panjang (North, 1990). Menurut North, institusi adalah seperangkat aturan formal maupun informal yang mengatur interaksi ekonomi dan mengurangi ketidakpastian dalam aktivitas pasar.

Negara dengan kualitas institusi yang tinggi cenderung memiliki biaya transaksi yang lebih rendah, kepastian hukum yang lebih baik, dan iklim investasi yang lebih kondusif. Sebaliknya, kelemahan institusional akan meningkatkan risiko investasi karena pelaku usaha harus menghadapi ketidakpastian regulasi, birokrasi, maupun penegakan hukum.

Dalam konteks Indonesia, tantangan pembangunan saat ini bukan lagi sekadar menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut didukung oleh institusi yang mampu menjamin keberlanjutan investasi.

Investor membutuhkan keyakinan bahwa kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, dan investasi akan berjalan secara konsisten tanpa perubahan mendadak yang dapat mengganggu perencanaan bisnis jangka panjang.

Ketika Pasar Menilai Masa Depan


Fenomena kehati-hatian investor juga dapat dijelaskan melalui konsep Investor Confidence Framework, yang menyatakan bahwa keputusan investasi dipengaruhi oleh kombinasi stabilitas makroekonomi, kualitas institusi, transparansi kebijakan, dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi masa depan (Akerlof & Shiller, 2009).

Dalam teori ekspektasi rasional, pelaku ekonomi membuat keputusan berdasarkan informasi yang tersedia serta prediksi mengenai kondisi masa depan (Muth, 1961; Lucas, 1972). Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah atau meningkatnya kehati-hatian investor tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi saat ini, melainkan dapat menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengantisipasi risiko yang mungkin muncul pada masa mendatang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Prabowo Sindir Tamu...
Prabowo Sindir Tamu Tak Tahu Diri: Katanya Mau Dagang, Lama-lama Ngerampok
Mega Korupsi Penegak...
Mega Korupsi Penegak Hukum Merusak Ekonomi Negara
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Gejolak Global Meningkat,...
Gejolak Global Meningkat, Gubernur BI Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9-5,7%
RUU PFII Lompatan Strategis...
RUU PFII Lompatan Strategis Kejar Ekonomi RI 8%, Purbaya Ungkap 3 Pilar Penopangnya
Rekomendasi
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Berita Terkini
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Polemik Londo Ireng,...
Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Infografis
Ini Penjelasan Mengapa...
Ini Penjelasan Mengapa Hajar Aswad di Kakbah Berwarna Hitam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved