6 Kontroversi Kepala BGN Dadan Hindayana hingga Berujung Dicopot Prabowo
Rabu, 03 Juni 2026 - 09:07 WIB
loading...
A
A
A
“Jadi tinggi badan bukan cuma masalah genetik, tapi juga asupan gizi yang cukup dan seimbang,” ujar Dadan saat peluncuran pembangunan 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Senin (26/5/2025).
Pernyataan itu mendapat respons dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani. "Kepala BGN jangan terlalu lebay menyangkutpautkan PSSI dengan makanan bergizi. Apalagi menyampaikan bahwa pemain Indonesia kurang makan bergizi,” ujarnya.
"Itu salah satu contoh kalau ada daerah-daerah tertentu yang terbiasa makan seperti itu, itu bisa menjadi menu. Badan Gizi tidak menetapkan standar menu nasional, tetapi menetapkan standar komposisi gizi," kata Dadan di Jakarta Selatan, Sabtu (25/1/2025).
Menurut dia, peluang memasukkan menu lokal seperti serangga berkaitan erat dengan komposisi protein di berbagai daerah yang bergantung pada potensi sumber daya lokal sekaligus kesukaan masyarakat. "Isi protein di berbagai daerah itu sangat tergantung potensi sumber daya lokal dan kesukaan lokal. Jangan diartikan lain ya," ucapnya.
Dadan mengatakan, kasus keracunan MBG hanya menimpa sebagian kecil siswa sekolah. Pernyataan itu dianggap mencederai kekhawatiran para orang tua yang mencemaskan kualitas makanan program tersebut.
2. Gizi Pemain Sepak Bola Indonesia
Menurut Dadan, ada keterkaitan antara kualitas gizi pemain sepak bola Indonesia dengan performa pemain. “Jangan heran kalau PSSI sulit menang karena main 90 menit berat. Karena gizinya tidak bagus dan banyak pemain bola lahir dari kampung,” katanya di Pendopo Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Minggu (23/3/2025).Pernyataan itu mendapat respons dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani. "Kepala BGN jangan terlalu lebay menyangkutpautkan PSSI dengan makanan bergizi. Apalagi menyampaikan bahwa pemain Indonesia kurang makan bergizi,” ujarnya.
3. Serangga Sumber Protein
Dadan menuturkan serangga yang memiliki gizi tinggi dan biasa dikonsumsi masyarakat lokal seperti ulat sagu bisa dimasukkan dalam komposisi menu MBG. Serangga bisa menjadi menu MBG, khusus untuk daerah."Itu salah satu contoh kalau ada daerah-daerah tertentu yang terbiasa makan seperti itu, itu bisa menjadi menu. Badan Gizi tidak menetapkan standar menu nasional, tetapi menetapkan standar komposisi gizi," kata Dadan di Jakarta Selatan, Sabtu (25/1/2025).
Menurut dia, peluang memasukkan menu lokal seperti serangga berkaitan erat dengan komposisi protein di berbagai daerah yang bergantung pada potensi sumber daya lokal sekaligus kesukaan masyarakat. "Isi protein di berbagai daerah itu sangat tergantung potensi sumber daya lokal dan kesukaan lokal. Jangan diartikan lain ya," ucapnya.
4. Kasus Keracunan MBG
Sejumlah peristiwa keracunan makanan di berbagai daerah paling mendapat sorotan. Selain masalah teknis di lapangan, muncul polemik mengenai pernyataan Dadan terkait statistik kejadian tersebut.Dadan mengatakan, kasus keracunan MBG hanya menimpa sebagian kecil siswa sekolah. Pernyataan itu dianggap mencederai kekhawatiran para orang tua yang mencemaskan kualitas makanan program tersebut.
Lihat Juga :