Kemendagri Gelar Pameran Batik Guna Perkuat Nilai Kebinekaan pada Generasi Muda
Senin, 18 Mei 2026 - 18:38 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Institut Pluralisme Indonesia menyampaikan pameran ini merupakan bagian dari kegiatan membatik manusia Indonesia sebagai wujud nyata pelestarian budaya. IPI berkolaborasi dengan Ford Foundation dalam menyukseskan program Batik Bhinneka Tunggal Ika.
Program tersebut bertujuan untuk merevitalisasi batik sekaligus membangkitkan kembali semangat gotong royong sebagai inti dari jiwa bangsa Indonesia. Proses kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu mempelajari perspektif generasi muda, kemudian mendesain batik berdasarkan cara pandang generasi muda terhadap keberagaman.
Dalam pameran ini terdapat 19 karya batik siswa yang ditampilkan dengan tema Bhinneka Tunggal Ika, serta karya batik yang telah dikelompokkan mulai dari batik klasik hingga batik kontemporer.
Wakil Ketua Pembina Yayasan Pluralisme Indonesia menyatakan bahwa batik merupakan sarana ekspresi kehidupan masyarakat. Batik tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai wujud pengembangan diri manusia. Melalui batik, nilai martabat manusia, keberagaman, dan pluralisme dapat ditanamkan secara halus kepada masyarakat.
"Di dalam diri para pengrajin dan generasi muda, nilai pluralisme dapat dikembangkan melalui bentuk, motif, warna, dan makna batik. Dengan demikian, seni batik secara tidak langsung menjadi media untuk menanamkan pola pikir kebhinekaan dan penghargaan terhadap perbedaan."
Pada kesempatan yang sama, Direktur Regional Ford Foundation menyampaikan bahwa batik dapat menjadi media pendidikan pluralisme bagi generasi muda. Kerja sama antara Ford Foundation dan Institut Pluralisme Indonesia berawal dari penelitian mengenai pluralisme di 12 wilayah di Indonesia.
Program tersebut bertujuan untuk merevitalisasi batik sekaligus membangkitkan kembali semangat gotong royong sebagai inti dari jiwa bangsa Indonesia. Proses kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu mempelajari perspektif generasi muda, kemudian mendesain batik berdasarkan cara pandang generasi muda terhadap keberagaman.
Dalam pameran ini terdapat 19 karya batik siswa yang ditampilkan dengan tema Bhinneka Tunggal Ika, serta karya batik yang telah dikelompokkan mulai dari batik klasik hingga batik kontemporer.
Wakil Ketua Pembina Yayasan Pluralisme Indonesia menyatakan bahwa batik merupakan sarana ekspresi kehidupan masyarakat. Batik tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai wujud pengembangan diri manusia. Melalui batik, nilai martabat manusia, keberagaman, dan pluralisme dapat ditanamkan secara halus kepada masyarakat.
"Di dalam diri para pengrajin dan generasi muda, nilai pluralisme dapat dikembangkan melalui bentuk, motif, warna, dan makna batik. Dengan demikian, seni batik secara tidak langsung menjadi media untuk menanamkan pola pikir kebhinekaan dan penghargaan terhadap perbedaan."
Pada kesempatan yang sama, Direktur Regional Ford Foundation menyampaikan bahwa batik dapat menjadi media pendidikan pluralisme bagi generasi muda. Kerja sama antara Ford Foundation dan Institut Pluralisme Indonesia berawal dari penelitian mengenai pluralisme di 12 wilayah di Indonesia.
Lihat Juga :