Uswatun Hasanah: Kepemimpinan Pendidikan yang memberi Makna
Jum'at, 15 Mei 2026 - 16:10 WIB
loading...
Muhammad Irfanudin Kurniawan Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.
A
A
A
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Pendidikan Islam tidak kekurangan teori kepemimpinan. Perpustakaan kita penuh dengan kitab-kitab tentang sifat pemimpin, syarat-syaratnya, dan teknik mengelola lembaga. Yang ia kekurangan—dan inilah krisis utama saat ini adalah pemimpin yang hadir sebagai teori itu sendiri.
Pemimpin yang tubuhnya adalah kurikulum, ucapannya adalah silabus, dan tindakannya adalah mata pelajaran.
Di sinilah Al-Qur’an menawarkan satu konsep yang jauh lebih radikal dari sekadar "role model" yaitu uswatun hasanah.
Allah SWT berfirman: "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu uswatun hasanah bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah" (QS al-Ahzab: 21).
Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, kata uswah berarti "keadaan seseorang yang diikuti oleh orang lain", keadaan yang meliputi seluruh totalitas diri, bukan sekadar atribut.
Sementara hasanah berarti "baik" secara komprehensif, meliputi lahir dan batin. Artinya, keteladanan dalam Islam bukan tentang performa sesaat di panggung, melainkan tentang keutuhan eksistensi.
Teori social learning Albert Bandura (1977) mengajarkan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap model. Namun ia berhenti di ranah perilaku (behavioral modeling). Konsep uswatun hasanah melampaui itu, ia menuntut keselarasan antara qalb (hati), ‘aql (akal), dan ‘amal (tindakan). Dalam bahasa tasawuf pendidikan, ini disebut tazkiyah, pembersihan jiwa yang menjadi prasyarat sebelum seseorang mengajar dan memimpin.
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis, "Seorang pendidik ibarat tongkat yang ditanam, bayangannya sendiri yang akan memanjang. Ia tidak cukup hanya berkata, ia harus menjadi."
Di sinilah titik esensialnya, kepemimpinan pendidikan Islam bukan soal menguasai teknik, melainkan soal menghidupkan nilai dalam keseharian.
KH Hasyim Asy‘ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim menempatkan bab tentang adab pendidik sebelum bab tentang metode mengajar. Bagi beliau, krisis pendidikan Islam berpangkal dari krisis keteladanan para pemimpinnya. Seorang ‘alim yang kehilangan adab tidak lagi layak disebut pendidik, meskipun gelar akademiknya berderet.
Universitas Darunnajah, tempat penulis mengabdi, lahir dari rahim tradisi ini. Para kiai pendiri tidak meninggalkan strategic plan tertulis seperti layaknya kampus modern. Tetapi mereka meninggalkan sesuatu yang lebih hidup dan lebih abadi yaitu jejak keteladanan yang diceritakan dari generasi ke generasi santri.
Bagaimana mereka bangun malam, bagaimana mereka memperlakukan tamu, bagaimana mereka memaafkan. Semua itu menjadi hidden curriculum yang membentuk karakter jauh lebih kuat daripada satuan kredit semester.
Riset kontemporer tentang kepemimpinan kiai di pesantren menjadi penegas hal ini. Model kepemimpinan profetik yang ditemukan di Pesantren Tebuireng dan Mambaul Ma’arif Denanyar, bersifat visioner, transformatif, dan meneladani sifat kenabian (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah), ini adalah bukti bahwa keteladanan bukan konsep masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus relevan.
Jika uswatun hasanah adalah fondasi, maka setidaknya ada tiga implikasi yang harus dijawab oleh para pemimpin pendidikan Islam saat ini:
Pertama, rekrutmen pemimpin tidak cukup berbasis CV. Sekolah dan pesantren harus berani bertanya: apakah calon pemimpin ini layak diteladani oleh murid-muridnya, bukan hanya di ruang rapat, tetapi di pasar, di jalan, dan di rumahnya?
Kedua, pengembangan profesional harus mencakup spiritualitas. Workshop manajemen, pelatihan kepemimpinan, dan sertifikasi dosen tidak boleh sekadar mengisi kompetensi teknis. Harus ada ruang untuk evaluasi diri, muhasabah, dan pembinaan akhlak secara berkelanjutan.
Ketiga, institusi adalah cermin pemimpinnya. Budaya akademik yang korup, tidak disiplin, dan kering integritas seringkali bukan karena sistem yang buruk, melainkan karena pemimpinnya sendiri tidak memancarkan nilai yang ia tuntut dari orang lain.
Di akhir hayatnya, seorang kiai tua di kampung penulis pernah berpesan singkat: "Jangan bangga disebut guru kalau muridmu hanya bertambah pintar tapi tidak bertambah malu saat berbuat salah." Pesan itu sederhana, tetapi ia menampar dunia pendidikan kita yang sering terjebak dalam angka, angka kelulusan, angka akreditasi, angka publikasi.
Uswatun hasanah mengembalikan kita pada esensi: kepemimpinan pendidikan adalah tentang menghidupkan manusia, bukan sekadar menguatkan otak.
Pemimpin pendidikan Islam bukan sekedar manajer yang mengurus administrasi; ia adalah living curriculum yang setiap harinya "dibaca" oleh murid, guru, dan masyarakat.
Jika ingin pendidikan Islam melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, jawabannya bukan sekadar memperbaiki kurikulum.
Jawabannya adalah siapa yang berdiri di depan kelas, di ruang rektor, dan di serambi pesantren?
Karena pada akhirnya, satu teladan lebih berarti dari seribu perintah.
Pendidikan Islam tidak kekurangan teori kepemimpinan. Perpustakaan kita penuh dengan kitab-kitab tentang sifat pemimpin, syarat-syaratnya, dan teknik mengelola lembaga. Yang ia kekurangan—dan inilah krisis utama saat ini adalah pemimpin yang hadir sebagai teori itu sendiri.
Pemimpin yang tubuhnya adalah kurikulum, ucapannya adalah silabus, dan tindakannya adalah mata pelajaran.
Di sinilah Al-Qur’an menawarkan satu konsep yang jauh lebih radikal dari sekadar "role model" yaitu uswatun hasanah.
Dari Role Model ke Living Curriculum
Allah SWT berfirman: "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu uswatun hasanah bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah" (QS al-Ahzab: 21).
Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, kata uswah berarti "keadaan seseorang yang diikuti oleh orang lain", keadaan yang meliputi seluruh totalitas diri, bukan sekadar atribut.
Sementara hasanah berarti "baik" secara komprehensif, meliputi lahir dan batin. Artinya, keteladanan dalam Islam bukan tentang performa sesaat di panggung, melainkan tentang keutuhan eksistensi.
Teori social learning Albert Bandura (1977) mengajarkan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap model. Namun ia berhenti di ranah perilaku (behavioral modeling). Konsep uswatun hasanah melampaui itu, ia menuntut keselarasan antara qalb (hati), ‘aql (akal), dan ‘amal (tindakan). Dalam bahasa tasawuf pendidikan, ini disebut tazkiyah, pembersihan jiwa yang menjadi prasyarat sebelum seseorang mengajar dan memimpin.
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis, "Seorang pendidik ibarat tongkat yang ditanam, bayangannya sendiri yang akan memanjang. Ia tidak cukup hanya berkata, ia harus menjadi."
Di sinilah titik esensialnya, kepemimpinan pendidikan Islam bukan soal menguasai teknik, melainkan soal menghidupkan nilai dalam keseharian.
Kiai dan Adab Sebelum Ilmu
KH Hasyim Asy‘ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim menempatkan bab tentang adab pendidik sebelum bab tentang metode mengajar. Bagi beliau, krisis pendidikan Islam berpangkal dari krisis keteladanan para pemimpinnya. Seorang ‘alim yang kehilangan adab tidak lagi layak disebut pendidik, meskipun gelar akademiknya berderet.
Universitas Darunnajah, tempat penulis mengabdi, lahir dari rahim tradisi ini. Para kiai pendiri tidak meninggalkan strategic plan tertulis seperti layaknya kampus modern. Tetapi mereka meninggalkan sesuatu yang lebih hidup dan lebih abadi yaitu jejak keteladanan yang diceritakan dari generasi ke generasi santri.
Bagaimana mereka bangun malam, bagaimana mereka memperlakukan tamu, bagaimana mereka memaafkan. Semua itu menjadi hidden curriculum yang membentuk karakter jauh lebih kuat daripada satuan kredit semester.
Riset kontemporer tentang kepemimpinan kiai di pesantren menjadi penegas hal ini. Model kepemimpinan profetik yang ditemukan di Pesantren Tebuireng dan Mambaul Ma’arif Denanyar, bersifat visioner, transformatif, dan meneladani sifat kenabian (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah), ini adalah bukti bahwa keteladanan bukan konsep masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus relevan.
Implikasi untuk Lembaga Pendidikan Islam Hari Ini
Jika uswatun hasanah adalah fondasi, maka setidaknya ada tiga implikasi yang harus dijawab oleh para pemimpin pendidikan Islam saat ini:
Pertama, rekrutmen pemimpin tidak cukup berbasis CV. Sekolah dan pesantren harus berani bertanya: apakah calon pemimpin ini layak diteladani oleh murid-muridnya, bukan hanya di ruang rapat, tetapi di pasar, di jalan, dan di rumahnya?
Kedua, pengembangan profesional harus mencakup spiritualitas. Workshop manajemen, pelatihan kepemimpinan, dan sertifikasi dosen tidak boleh sekadar mengisi kompetensi teknis. Harus ada ruang untuk evaluasi diri, muhasabah, dan pembinaan akhlak secara berkelanjutan.
Ketiga, institusi adalah cermin pemimpinnya. Budaya akademik yang korup, tidak disiplin, dan kering integritas seringkali bukan karena sistem yang buruk, melainkan karena pemimpinnya sendiri tidak memancarkan nilai yang ia tuntut dari orang lain.
Mendidik, Bukan Sekadar Mengajar
Di akhir hayatnya, seorang kiai tua di kampung penulis pernah berpesan singkat: "Jangan bangga disebut guru kalau muridmu hanya bertambah pintar tapi tidak bertambah malu saat berbuat salah." Pesan itu sederhana, tetapi ia menampar dunia pendidikan kita yang sering terjebak dalam angka, angka kelulusan, angka akreditasi, angka publikasi.
Uswatun hasanah mengembalikan kita pada esensi: kepemimpinan pendidikan adalah tentang menghidupkan manusia, bukan sekadar menguatkan otak.
Pemimpin pendidikan Islam bukan sekedar manajer yang mengurus administrasi; ia adalah living curriculum yang setiap harinya "dibaca" oleh murid, guru, dan masyarakat.
Jika ingin pendidikan Islam melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, jawabannya bukan sekadar memperbaiki kurikulum.
Jawabannya adalah siapa yang berdiri di depan kelas, di ruang rektor, dan di serambi pesantren?
Karena pada akhirnya, satu teladan lebih berarti dari seribu perintah.
(nnz)
Lihat Juga :