Lembaga Falakiyah PBNU Rilis Data Hilal, Iduladha Berpotensi Serentak 27 Mei 2026
Jum'at, 15 Mei 2026 - 11:44 WIB
loading...
A
A
A
Penetapan Iduladha 2026 ini, dikutip dari laman Muhammadiyah, didasarkan hasil hisab astronomis global yang menggunakan parameter Kalender Global (PKG). Sistem ini dirancang untuk menghadirkan keseragaman awal bulan Hijriah bagi seluruh umat Islam di dunia.
"Dalam sistem ini, penentuan awal bulan tidak lagi bergantung pada batas wilayah negara, melainkan menggunakan prinsip keterlihatan hilal secara global," sebut PP Muhammadiyah, dikutip Jumat (15/5/2026).
Ijtimak menjelang Zulhijah 1447 H terjadi pada hari Sabtu 16 Mei 2026 pukul 20.01.02 UTC. Secara astronomis, ijtimak merupakan titik konjungsi antara Matahari dan Bulan yang menjadi awal pergantian bulan kamariah.
Akan tetapi pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, belum ada satu wilayah pun di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 24.00 UTC.
Selain itu, Parameter Kalender Global (PKG) 2 juga tidak terpenuhi. Setelah pukul 24.00 UTC, tidak ditemukan satu pun wilayah di daratan Amerika yang memenuhi syarat tinggi Bulan minimal 5 derajat, elongasi minimal 8 derajat, serta ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.
"Karena dua parameter di atas tidak terpenuhi, maka awal Zulhijah tidak dapat dimulai pada 17 Mei, melainkan ditetapkan pada Senin, 18 Mei 2026," lanjutnya.
Berdasarkan penetapan tersebut kemudian dihitung bahwa 10 Zulhijah atau Iduladha jatuh pada Rabu 27 Mei 2026. "Kepastian ini menjadi penting karena memberikan ruang persiapan yang lebih baik bagi umat Islam, baik dalam pelaksanaan ibadah kurban, penjadwalan kegiatan keagamaan, maupun penyelenggaraan aktivitas sosial keumatan," tegas PP Muhammadiyah.
"Dalam sistem ini, penentuan awal bulan tidak lagi bergantung pada batas wilayah negara, melainkan menggunakan prinsip keterlihatan hilal secara global," sebut PP Muhammadiyah, dikutip Jumat (15/5/2026).
Ijtimak menjelang Zulhijah 1447 H terjadi pada hari Sabtu 16 Mei 2026 pukul 20.01.02 UTC. Secara astronomis, ijtimak merupakan titik konjungsi antara Matahari dan Bulan yang menjadi awal pergantian bulan kamariah.
Akan tetapi pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, belum ada satu wilayah pun di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 24.00 UTC.
Selain itu, Parameter Kalender Global (PKG) 2 juga tidak terpenuhi. Setelah pukul 24.00 UTC, tidak ditemukan satu pun wilayah di daratan Amerika yang memenuhi syarat tinggi Bulan minimal 5 derajat, elongasi minimal 8 derajat, serta ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.
"Karena dua parameter di atas tidak terpenuhi, maka awal Zulhijah tidak dapat dimulai pada 17 Mei, melainkan ditetapkan pada Senin, 18 Mei 2026," lanjutnya.
Berdasarkan penetapan tersebut kemudian dihitung bahwa 10 Zulhijah atau Iduladha jatuh pada Rabu 27 Mei 2026. "Kepastian ini menjadi penting karena memberikan ruang persiapan yang lebih baik bagi umat Islam, baik dalam pelaksanaan ibadah kurban, penjadwalan kegiatan keagamaan, maupun penyelenggaraan aktivitas sosial keumatan," tegas PP Muhammadiyah.
(shf)
Lihat Juga :