Jelang Muktamar Ke-35 NU, KH Ubab Maimoen Minta Caketum PBNU Tak Saling Serang
Senin, 11 Mei 2026 - 15:14 WIB
loading...
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 2, Sarang Rembang, Jateng KH Abdullah Ubab Maimoen meminta kader NU yang dicalonkan atau mencalonkan diri dalam muktamar tak saling serang. Foto: Ist
A
A
A
REMBANG - Menjelang Muktamar ke-35 NU , Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 2, Sarang Rembang, Jawa Tengah KH Abdullah Ubab Maimoen meminta para kader NU yang dicalonkan atau mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU tak saling serang. Kiai Ubab meminta para caketum bisa membangun kepercayaan nahdliyyin dengan cara santun dan beretika pesantren.
Gus Ubab sapaan akrabnya mengimbau para kandidat Ketum PBNU harus menggunakan cara mendapat kepercayaan dari muktamirin dan bisa diterima dengan baik. Kemudian, pelaksanaan muktamar dan mekanisme pemilihan pimpinan NU dilakukan dengan proses yang baik dan benar-benar dipercaya.
Baca juga: Muktamar NU dan Kesejahteraan Nahdliyin
“Jangan sampai saling menjelek-jelekkan antarcalon. Bahkan, jangan banding-bandingkan secara negatif seperti pemilihan pejabat hingga pertengkaran terbawa hingga setelah pemilihan,” ujar Gus Ubab, Senin (11/5/2026).
Gus Ubab Maimoen yang juga salah satu Mustasyar PBNU berharap pemilihan pimpinan PBNU nanti sebagaimana terpilihnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melalui muktamar. Dan, saat ditanya siapa sosok yang tepat memimpin NU, dia menyatakan tidak memiliki pilihan.
“Saya ingin prosesnya mulus, menjadi Ketua Umum PBNU dengan jalan mulus, purna pun juga berakhir mulus. Seperti Gus Dur saat menjadi maupun berakhir dengan mulus,” katanya.
“Saya tidak ada pilihan. Saya senang saja Gus Salam atau KH Abdussalam Shohib nyalon. Jadi, siapa pun yang jadi, tentu Allah yang mengatur dan menghendakinya,” tuturnya.
Pernyataan KH Abdullah Ubab Maimoen disampaikan usai KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam sowan silaturrahmi untuk memohon nasihat, restu dan doa dari beliau. Kunjungan Gus Salam ini satu rangkaian kunjungannya selama dua hari di Jawa Tengah.
Diawali ziarah Sunan Bonang, kemudian berurutan sowan silaturahmi KH M Said Abdurrochim, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Abdul Qoyyum Manshur. Sedangkan pertemuan dengan PCNU se-Karesidenan Semarang dan Pati dilaksanakan Jumat 8 Mei 2026 pukul 14.00 WIB disusul Karesidenan Pekalongan dan Banyumas pukul 20.00 WIB.
Kemudian, Sabtu 9 Mei 2026, diawali sowan KH Ahmad Chalwani Nawawi, Rais Aaly Jatman, pengasuh PP An-Nawawi Berjan, Purworejo sekaligus Mursyid thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyah. Dan, pukul 14.00 WIB pertemuan dengan PCNU se-Karesidenan Kedu dan Surakarta.
Gus Salam bersyukur bisa sowan silaturahmi kepada para sesepuh NU dan pesantren di Jawa Tengah. Di samping ziarah makbaroh para auliya, termasuk Mbah Dalhar Watucongol Magelang, juga bisa bertemu dengan ketua-ketua PCNU se-Jawa Tengah untuk mandapat masukan dan menyerap harapan mereka.
“Saya sowan ke KH Ali Qoishor Abdul Haq Dalhar sebelum ziarah makbaroh. Karena Mbah Dalhar adalah ulama besar dan kharismatik sezaman dengan Mbah Hasyim Asy’ari,” kata Gus Salam.
“Kami ingin tabarrukan karena peran dan perjuangan Mbah Dalhar mewarisi para pendahulunya, Laskar Kiai semasa Pangeran Diponegoro sekaligus menyerap nuansa spiritualitas Islam di kerajaan Mataram saat menghadapi kolonial Belanda,” ujarnya.
Baca juga: Muktamar NU dan Jalan yang Lurus
Menurut Gus Salam, para pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama adalah para ulama keturunan dari laskar kiai di barisan Pangeran Diponegoro dalam menghadapi kolonial Belanda. Baginya, jiwa perjuangan dan pengkhidmatan ulama terhadap rakyat dan Tanah Air tercermin dan menjiwai pendirian NU. Karenanya, perkumpulan ulama itu disebuh ‘Nahdlah’ yang berarti bangkit-berjuang.
Ditanya tentang hasil pertemuan dengan ketua-ketua PCNU se-Jawa Tengah, Gus Salam menggambarkan hampir sebagian besar PCNU prihatin terhadap kondisi NU, terutama PBNU saat ini. Mereka menginginkan kondisi damai, nyaman dan bersatu kembali untuk berkhidmah sebagaimana sebelum-sebelumnya.
Misalnya PCNU di Karesidenan Kedu. Di samping prihatin dengan kondisi NU beberapa tahun ini, dan entah bermula dari mana dan sebab apa. Mereka berharap ada rekonsiliasi nasional di tubuh NU supaya tidak ada lagi ketegangan-ketegangan.
“PCNU di Karesidenan Surakarta berharap pemimpin NU ke depan adalah sosok yang humanis, mau mendengarkan dan bisa memberi arahan sesuai konteks dan kearifan masing-masing daerah. Jangan sosok yang otoriter dan high profile,” kata Gus Salam.
Gus Ubab sapaan akrabnya mengimbau para kandidat Ketum PBNU harus menggunakan cara mendapat kepercayaan dari muktamirin dan bisa diterima dengan baik. Kemudian, pelaksanaan muktamar dan mekanisme pemilihan pimpinan NU dilakukan dengan proses yang baik dan benar-benar dipercaya.
Baca juga: Muktamar NU dan Kesejahteraan Nahdliyin
“Jangan sampai saling menjelek-jelekkan antarcalon. Bahkan, jangan banding-bandingkan secara negatif seperti pemilihan pejabat hingga pertengkaran terbawa hingga setelah pemilihan,” ujar Gus Ubab, Senin (11/5/2026).
Gus Ubab Maimoen yang juga salah satu Mustasyar PBNU berharap pemilihan pimpinan PBNU nanti sebagaimana terpilihnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melalui muktamar. Dan, saat ditanya siapa sosok yang tepat memimpin NU, dia menyatakan tidak memiliki pilihan.
“Saya ingin prosesnya mulus, menjadi Ketua Umum PBNU dengan jalan mulus, purna pun juga berakhir mulus. Seperti Gus Dur saat menjadi maupun berakhir dengan mulus,” katanya.
“Saya tidak ada pilihan. Saya senang saja Gus Salam atau KH Abdussalam Shohib nyalon. Jadi, siapa pun yang jadi, tentu Allah yang mengatur dan menghendakinya,” tuturnya.
Pernyataan KH Abdullah Ubab Maimoen disampaikan usai KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam sowan silaturrahmi untuk memohon nasihat, restu dan doa dari beliau. Kunjungan Gus Salam ini satu rangkaian kunjungannya selama dua hari di Jawa Tengah.
Diawali ziarah Sunan Bonang, kemudian berurutan sowan silaturahmi KH M Said Abdurrochim, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Abdul Qoyyum Manshur. Sedangkan pertemuan dengan PCNU se-Karesidenan Semarang dan Pati dilaksanakan Jumat 8 Mei 2026 pukul 14.00 WIB disusul Karesidenan Pekalongan dan Banyumas pukul 20.00 WIB.
Kemudian, Sabtu 9 Mei 2026, diawali sowan KH Ahmad Chalwani Nawawi, Rais Aaly Jatman, pengasuh PP An-Nawawi Berjan, Purworejo sekaligus Mursyid thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyah. Dan, pukul 14.00 WIB pertemuan dengan PCNU se-Karesidenan Kedu dan Surakarta.
Gus Salam bersyukur bisa sowan silaturahmi kepada para sesepuh NU dan pesantren di Jawa Tengah. Di samping ziarah makbaroh para auliya, termasuk Mbah Dalhar Watucongol Magelang, juga bisa bertemu dengan ketua-ketua PCNU se-Jawa Tengah untuk mandapat masukan dan menyerap harapan mereka.
“Saya sowan ke KH Ali Qoishor Abdul Haq Dalhar sebelum ziarah makbaroh. Karena Mbah Dalhar adalah ulama besar dan kharismatik sezaman dengan Mbah Hasyim Asy’ari,” kata Gus Salam.
“Kami ingin tabarrukan karena peran dan perjuangan Mbah Dalhar mewarisi para pendahulunya, Laskar Kiai semasa Pangeran Diponegoro sekaligus menyerap nuansa spiritualitas Islam di kerajaan Mataram saat menghadapi kolonial Belanda,” ujarnya.
Baca juga: Muktamar NU dan Jalan yang Lurus
Menurut Gus Salam, para pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama adalah para ulama keturunan dari laskar kiai di barisan Pangeran Diponegoro dalam menghadapi kolonial Belanda. Baginya, jiwa perjuangan dan pengkhidmatan ulama terhadap rakyat dan Tanah Air tercermin dan menjiwai pendirian NU. Karenanya, perkumpulan ulama itu disebuh ‘Nahdlah’ yang berarti bangkit-berjuang.
Ditanya tentang hasil pertemuan dengan ketua-ketua PCNU se-Jawa Tengah, Gus Salam menggambarkan hampir sebagian besar PCNU prihatin terhadap kondisi NU, terutama PBNU saat ini. Mereka menginginkan kondisi damai, nyaman dan bersatu kembali untuk berkhidmah sebagaimana sebelum-sebelumnya.
Misalnya PCNU di Karesidenan Kedu. Di samping prihatin dengan kondisi NU beberapa tahun ini, dan entah bermula dari mana dan sebab apa. Mereka berharap ada rekonsiliasi nasional di tubuh NU supaya tidak ada lagi ketegangan-ketegangan.
“PCNU di Karesidenan Surakarta berharap pemimpin NU ke depan adalah sosok yang humanis, mau mendengarkan dan bisa memberi arahan sesuai konteks dan kearifan masing-masing daerah. Jangan sosok yang otoriter dan high profile,” kata Gus Salam.
(jon)
Lihat Juga :