Kesinambungan Melemahnya Rupiah: Kolonisasi Sistem dan Mental

Selasa, 05 Mei 2026 - 14:33 WIB
loading...
A A A
Apakah hal tersebut sebagai penyebab kelemahan rupiah berkesinambungan? Tanya saya pada Chat GPT dalam rangka mengonfirmasi.

Awalnya Chat GPT menjawab, kejatuhan rupiah merupakan hasil dari interaksi kompleks antara kerentanan struktur ekonomi domestik dan dinamika fungsi kebijakan global. Lalu Chat GPT didesak dalam sudut pandang struktural fundamental dan fungsional. Awalnya direspon hanya dalam lingkup fungsional. Yakni, karena BI mengacu pada bunga the Fed (Fed fund rate), terfokus pada pengendalian inflasi, APBN tertekan beban utang, defisit APBN, impor komoditas strategis yang membutuhkan pembayaran dengan dolar AS, kuatnya pemodal asing di pasar modal, dan pengaruh perang AMIS versus Iran. Tambahannya, sumberdaya alam strategis dikuasai korporasi swasta, dan sejumlah komoditas strategis tunduk mekanisme pasar bebas. Chat GPT menghindar untuk menjawab masalah fundamental.

Lalu, buat apa Indonesia ikut APEC, G20, menjadi anggota BRICS dan menjadi anggota OECD? Pada OECD, tulis Chat GPT, Indonesia belajar efisiensi birokrasi, kepastian hukum, dan belajar transformasi. Pada BRICS, Indonesia bermaksud mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Tapi Chat GPT juga menulis, kelemahan rupiah kali ini adalah jangka pendek. Sementara Indonesia adalah pemain besar yang mendapatkan investasi stabil.

Rupanya feeder algoritma Chat GPT tidak mendapat masukan bahwa Indonesia terjajah melalui sistem, kebijakan dan regulasi, standarisasi, pola akuntabilitas, dan model reputasi. Melalui sistem sekolahan (schooling system), dibangun dan dibentuk karakter anak bangsa, adab, pengetahuan, keterampilan, dan disiplin sosial warga masyarakat. Melalui pinjaman luar negri, disyaratkan sistem ekonomi dan politiknya yang tunduk pada model liberal, materialis sekulerisme. Padahal dolar AS tidak punya jangkar emas sejak Nixon Shock 15 Agustus 1971. Berdasarkan pijakan ini, diajukan pertanyaan, kenapa Iran yang diberikan sanksi ekonomi, diembargo dan diisolasi selama 49 tahun malah memenangkan perang melawan AMIS? Bandingkan Indonesia dengan Iran, saya menggugat.

Chat GPT menjawab, dolar AS didasarkan atas keperayaan global dan posisinya yang menguasai cadangan uang global dalam bentuk cadangan devisa masing-masing negara sebesar 56,77 prosen. Melalui sistem pembayaran SWIFT Code, dolar AS dipakai untuk transaksi keuangan dan perdagangan. Sementara Iran berhasil membangun otonomi bangsanya. Iran sukses untuk berkata "tidak" pada Washington. Sedangkan Indonesia? Di sinilah paradoks kedaulatan suatu negara terjadi. Indonesia melalui sistem, kebijakan, regulasi dan reputasi di atas dilengkapi dengan serbuan pendidikan model Barat, berhasil dikolonisasi. Itulah kolonisasi mental. Buah dari kolonisasi ini adalah Indonesia penakut. Sangat berbeda dibanding dengan peristiwa 10 November 1945.

Jawaban mesin Chat GPT ini biasa saja. Tapi, jika algoritma saja bisa menjawab demikian, apalagi manusia yang merespons. Tentu, sejak era reformasi kita menyaksikan betapa surplusnya penghianat ketimbang pejuang. Para petinggi menyukai kebahagiaan dan kedudukan di atas penderitaan rakyat dan terjajahnya bangsa Indonesia. Tingginya kekuasaan dan banyaknya kekayaan menjadi ukuran kesuksesan. Banyak orang Indonesia takut miskin dan bangga serta "bahagia" dengan sistem serba liberal di tengah hukum diperjualbelikan.

Ada jalan keluarnya? Pasti ada, karena hidup berpijak pada keseimbangan. Artinya, jika keseimbangan itu tidak terjadi di Indonesia, maka sebagaimana uraian buku Prahara Bangsa (Jakarta, Nov 2024), Indonesia akan terpecah-pecah. Tapi elit global berkepentingan menahan laju perpecahan ini. Kepentingannya: Indonesia harus tetap menjadi sapi perah secara sistemik struktural. Inilah yang saya sebut, ultramodern slavery system. Yakni, bangsa dan negara ini tidak merasa menjadi budak, padahal sistem, kebijakan dan regulasi, dan para aktor utama di pelbagai bidang tunduk pada tekanan eksternal. Karena itu, dibutuhkan kejujuran, keberanian dan wawasan untuk mengatasinya. Jika tidak, kolonisasi mental berlanjut dan sikap pengecut akan terus merenggut.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
Demam Piala Dunia 2026:...
Demam Piala Dunia 2026: Ketika Indonesia Tetap Menjadi Juara di Tribun Dunia
Indonesia Segera Buka...
Indonesia Segera Buka KBRI di Belarus, Lukashenko Apresiasi Prabowo
Indonesia Tuan Rumah...
Indonesia Tuan Rumah Pertemuan CPOPC, Perkuat Kolaborasi Hadapi Tantangan Global
Didik Rachbini Prediksi...
Didik Rachbini Prediksi Safari Politik Jokowi Menjadi Faktor Negatif Ekonomi Nasional
Indonesia Butuh Koalisi...
Indonesia Butuh Koalisi Advokasi untuk Percepat Adopsi Inovasi Kesehatan
Sektor Industri Bermasalah,...
Sektor Industri Bermasalah, RI Rawan Disalip Vietnam Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
KKB Papua Tembak Mati...
KKB Papua Tembak Mati Pilot Nicholas F Goselin lalu Salahkan AS dan Indonesia, Amerika Bungkam
Dulu Rakyatnya Ngungsi...
Dulu Rakyatnya Ngungsi ke RI, Kini Vietnam Naik Kelas Lampaui Indonesia
Rekomendasi
Liuzhou dan Wuling,...
Liuzhou dan Wuling, Kota yang Melahirkan Mobil Rakyat
IHSG Masih Berlari di...
IHSG Masih Berlari di Zona Hijau, Pagi Ini Bertengger pada Level 5.893
Daftar Top Skor Piala...
Daftar Top Skor Piala Dunia 2026: Haaland Ancam Dominasi Messi dan Mbappe
Berita Terkini
Muktamar ke-35 NU: Siapa...
Muktamar ke-35 NU: Siapa Layak Menjadi Rais Aam?
Prabowo Sambut Jabat...
Prabowo Sambut Jabat Tangan Erat Kedatangan PM Singapura di Istana Merdeka
3 Polisi Gugur di Tangan...
3 Polisi Gugur di Tangan Sindikat Narkoba, Pakar Desak Polisi Tindak Tegas Pelaku
Prabowo dan PM Singapura...
Prabowo dan PM Singapura Bakal Teken 26 MoU dalam Leaders' Retreat di Istana Merdeka
Usai Ramai Amplop dari...
Usai Ramai Amplop dari Bupati Kuansing, Menhut Lapor Penolakan Gratifikasi ke KPK
Oleh Soleh Dukung Perpres...
Oleh Soleh Dukung Perpres 111/2025: LGBTQ Sudah Jadi Ancaman Nonmiliter
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved