Value-Driven University: Ikhtiar Universitas Darunnajah Menjawab Tantangan Link and Match
Senin, 04 Mei 2026 - 11:30 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga pilar DNA ini berakar kuat pada cita-cita dan wasiat pendiri Darunnajah, KH. Abdul Manaf Mukhayyar.
Beliau mewariskan visi pendidikan yang inklusif dengan menyatakan, "Jika saya jadi orang kaya maka saya akan membuka sekolah gratis untuk orang-orang fakir".
Cita-cita kemanusiaan inilah yang menjadi ruh dari visi mencetak kader pemimpin umat.
Dalam mewujudkan tujuannya, Universitas Darunnajah melakukan redefinisi terhadap makna pembelajaran itu sendiri.
Di kampus ini, kurikulum tidak direduksi sekadar menjadi deretan mata kuliah demi mengejar nilai sebagai syarat kelulusan mencapai strata tertentu.
Lebih holistik dari itu, kurikulum bagi UDN adalah apa yang dihasilkan dan didapatkan oleh mahasiswa sepanjang masa pendidikannya berupa pengetahuan, pengalaman, dan kesan.
Selaras dengan pandangan tersebut, makna belajar di UDN merupakan sebuah aktivitas yang dilatih dan dibiasakan secara terus-menerus untuk mengubah sikap serta jalan hidup seseorang.
Pihak universitas menyadari bahwa hasil dari proses pendidikan nilai ini tidak akan datang dan terlihat secara instan, melainkan akan terlihat perkembangannya perlahan-lahan selama masa pendidikannya.
Lantas, bagaimana UDN menjawab isu link and match dengan dunia usaha?
Jawabannya terletak pada model ekosistem pendidikan mereka yang dirancang secara integratif, komprehensif, dan futuristik.
Sebagai ekosistem yang integratif, UDN menyatukan elemen pendidikan rumah, pendidikan sekolah, dan pendidikan lingkungan.
Ketiga elemen ini diejawantahkan melalui asrama sebagai laboratorium karakter, kampus sebagai ruang akademik dan ta'dib, serta masjid sebagai episentrum spiritual, epistemik, dan etis.
Universitas berbasis Pesantren berperan sentral menyatukan tripusat pendidikan tersebut menjadi sebuah ekosistem yang utuh.
Pendidikan juga diberikan secara komprehensif menyentuh aspek jasmaniah, intelektual, dan pembentukan akhlak mulia.
Beliau mewariskan visi pendidikan yang inklusif dengan menyatakan, "Jika saya jadi orang kaya maka saya akan membuka sekolah gratis untuk orang-orang fakir".
Cita-cita kemanusiaan inilah yang menjadi ruh dari visi mencetak kader pemimpin umat.
Redefinisi Kurikulum dan Makna Belajar
Dalam mewujudkan tujuannya, Universitas Darunnajah melakukan redefinisi terhadap makna pembelajaran itu sendiri.
Di kampus ini, kurikulum tidak direduksi sekadar menjadi deretan mata kuliah demi mengejar nilai sebagai syarat kelulusan mencapai strata tertentu.
Lebih holistik dari itu, kurikulum bagi UDN adalah apa yang dihasilkan dan didapatkan oleh mahasiswa sepanjang masa pendidikannya berupa pengetahuan, pengalaman, dan kesan.
Selaras dengan pandangan tersebut, makna belajar di UDN merupakan sebuah aktivitas yang dilatih dan dibiasakan secara terus-menerus untuk mengubah sikap serta jalan hidup seseorang.
Pihak universitas menyadari bahwa hasil dari proses pendidikan nilai ini tidak akan datang dan terlihat secara instan, melainkan akan terlihat perkembangannya perlahan-lahan selama masa pendidikannya.
Menjawab Kebutuhan Industri melalui Ekosistem Futuristik
Lantas, bagaimana UDN menjawab isu link and match dengan dunia usaha?
Jawabannya terletak pada model ekosistem pendidikan mereka yang dirancang secara integratif, komprehensif, dan futuristik.
Sebagai ekosistem yang integratif, UDN menyatukan elemen pendidikan rumah, pendidikan sekolah, dan pendidikan lingkungan.
Ketiga elemen ini diejawantahkan melalui asrama sebagai laboratorium karakter, kampus sebagai ruang akademik dan ta'dib, serta masjid sebagai episentrum spiritual, epistemik, dan etis.
Universitas berbasis Pesantren berperan sentral menyatukan tripusat pendidikan tersebut menjadi sebuah ekosistem yang utuh.
Pendidikan juga diberikan secara komprehensif menyentuh aspek jasmaniah, intelektual, dan pembentukan akhlak mulia.
Lihat Juga :