Dirjen PSLB3 Kementerian LHK Sebut Masalah Sampah Harus Dituntaskan
Sabtu, 19 September 2020 - 19:26 WIB
loading...
A
A
A
"Setiap relawan pun harus melaporkan jumlah sampah dikumpulkan maksimal pada Minggu (27/9) melalui tautan https://bit.ly/RekapWCDI2020. Harapan kami, Indonesia kembali menjadi yang terdepan bagi kegiatan ini di dunia," tambahnya.
Rosa Vivien mengungkapkan, dua tahun berturut-turut, 2018-2019, Indonesia menjadi negara yang memimpin aksi cleanup terbesar di dunia, disusul negara kedua, Pakistan. Perlu digarisbawahi, bahwa aksi cleanup saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia karena yang tidak kalah penting adalah kita harus bisa menjawab pertanyaan mau diapakan dan dikemanakan sampah hasil cleanup tersebut.
"Jangan sampai sampah hasil cleanup tersebut hanya dikumpulkan dan diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Hal tersebut tidak menyelesaikan masalah namun hanya memindahkan masalah. Saya berpesan dengan sekuat-kuatnya agar aksi cleanup yang dilakukan harus dibarengi dengan tindakan lanjutan dengan memilah dan mengumpulkan sampah layak kompos dan sampah layak daur ulang untuk diolah lebih lanjut menjadi kompos, biogas, dan bahan baku industri daur ulang. Sementara residunya dapat diangkut dan ditimbun di TPA," ujar Vivien.
Hal lain yang juga sangat penting menurut Dirjen PSLB3 ini, harus menjadi bahan refleksi kita semua adalah jangan mengukur keberhasilan aksi cleanup dengan peningkatan jumlah sampah yang terkumpul karena hal itu justru mengindikasikan adanya 'kegagalan' atau mis-management pengelolaan sampah yang membuat kebocoran sampah ke lingkungan semakin tinggi.
"Sebaliknya, bila dalam aksi cleanup yang kita lakukan jumlah sampah yang terkumpul semakin sedikit, berarti pengelolaan sampah sudah berjalan baik. Salah satu faktor penentu terjadinya mis-management pengelolaan sampah ungkap Rosa Vivien, adalah tidak dilaksanakannya kegiatan pilah sampah dari rumah," jelas Vivien.
Rosa Vivien mengungkapkan, dua tahun berturut-turut, 2018-2019, Indonesia menjadi negara yang memimpin aksi cleanup terbesar di dunia, disusul negara kedua, Pakistan. Perlu digarisbawahi, bahwa aksi cleanup saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia karena yang tidak kalah penting adalah kita harus bisa menjawab pertanyaan mau diapakan dan dikemanakan sampah hasil cleanup tersebut.
"Jangan sampai sampah hasil cleanup tersebut hanya dikumpulkan dan diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Hal tersebut tidak menyelesaikan masalah namun hanya memindahkan masalah. Saya berpesan dengan sekuat-kuatnya agar aksi cleanup yang dilakukan harus dibarengi dengan tindakan lanjutan dengan memilah dan mengumpulkan sampah layak kompos dan sampah layak daur ulang untuk diolah lebih lanjut menjadi kompos, biogas, dan bahan baku industri daur ulang. Sementara residunya dapat diangkut dan ditimbun di TPA," ujar Vivien.
Hal lain yang juga sangat penting menurut Dirjen PSLB3 ini, harus menjadi bahan refleksi kita semua adalah jangan mengukur keberhasilan aksi cleanup dengan peningkatan jumlah sampah yang terkumpul karena hal itu justru mengindikasikan adanya 'kegagalan' atau mis-management pengelolaan sampah yang membuat kebocoran sampah ke lingkungan semakin tinggi.
"Sebaliknya, bila dalam aksi cleanup yang kita lakukan jumlah sampah yang terkumpul semakin sedikit, berarti pengelolaan sampah sudah berjalan baik. Salah satu faktor penentu terjadinya mis-management pengelolaan sampah ungkap Rosa Vivien, adalah tidak dilaksanakannya kegiatan pilah sampah dari rumah," jelas Vivien.
Lihat Juga :