Sanad Digital: Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Kepemimpinan Kita
Selasa, 28 April 2026 - 10:56 WIB
loading...
A
A
A
Inilah yang kami maksud dengan Kepemimpinan Sanad Digital. Bukan sekadar wacana, tapi tindakan nyata yang diputuskan dan dipimpin oleh seorang pemimpin lembaga.
Dua Hal yang Juga Bisa Kita Lakukan
Sebagai masyarakat awam, kita juga bisa berperan, meskipun tugas utama ada di pundak pemimpin. Pertama, sebelum membagikan konten dakwah, coba cek: siapa ustaznya? Apakah ia menyebutkan sumber ilmunya? Jika tidak, jangan buru-buru share.
Kedua, jika Anda seorang pendakwah atau pengajar online, biasakan menyebutkan nama guru Anda. Bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga amanah. Karena mengajarkan agama tanpa sanad ibarat membangun rumah tanpa pondasi.
Tapi sekali lagi, jangan salah alamat. Masyarakat awam hanya bisa memilih dan mengkritik. Pemimpinlah yang bisa membuat sistem.
Menjaga, Bukan Menghilangkan
Tradisi sanad tidak akan mati. Ia akan beradaptasi. Seperti pohon pisang, induknya boleh mati, tapi tunasnya tumbuh di tempat baru. Akarnya tetap sama.
Kita tidak bisa memutar waktu. Anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan TikTok daripada kitab kuning. Tapi para pemimpin pesantren bisa memastikan bahwa apa yang mereka tonton tetap terhubung dengan rantai keilmuan yang benar.
Jadi, jika Anda seorang pimpinan pesantren, kepala madrasah, atau dewan pengasuh, inilah saatnya mengambil sikap, "Apakah lembaga anda sudah memiliki dokumentasi sanad para guru? Apakah sudah memiliki kebijakan tentang konten digital yang bersanad? Apakah para pengasuh sendiri sudah menjadi teladan?"
Kepemimpinan Sanad Digital bukan tentang teknologi canggih. Ini tentang keberanian mengambil keputusan, konsistensi menerapkan kebijakan, dan keteladanan. Tanpa ketiganya, sanad digital hanya akan menjadi slogan kosong.
Wallahu a’lam.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pesantren. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, dan Menjejaki Alam Filsafat.
Dua Hal yang Juga Bisa Kita Lakukan
Sebagai masyarakat awam, kita juga bisa berperan, meskipun tugas utama ada di pundak pemimpin. Pertama, sebelum membagikan konten dakwah, coba cek: siapa ustaznya? Apakah ia menyebutkan sumber ilmunya? Jika tidak, jangan buru-buru share.
Kedua, jika Anda seorang pendakwah atau pengajar online, biasakan menyebutkan nama guru Anda. Bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga amanah. Karena mengajarkan agama tanpa sanad ibarat membangun rumah tanpa pondasi.
Tapi sekali lagi, jangan salah alamat. Masyarakat awam hanya bisa memilih dan mengkritik. Pemimpinlah yang bisa membuat sistem.
Menjaga, Bukan Menghilangkan
Tradisi sanad tidak akan mati. Ia akan beradaptasi. Seperti pohon pisang, induknya boleh mati, tapi tunasnya tumbuh di tempat baru. Akarnya tetap sama.
Kita tidak bisa memutar waktu. Anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan TikTok daripada kitab kuning. Tapi para pemimpin pesantren bisa memastikan bahwa apa yang mereka tonton tetap terhubung dengan rantai keilmuan yang benar.
Jadi, jika Anda seorang pimpinan pesantren, kepala madrasah, atau dewan pengasuh, inilah saatnya mengambil sikap, "Apakah lembaga anda sudah memiliki dokumentasi sanad para guru? Apakah sudah memiliki kebijakan tentang konten digital yang bersanad? Apakah para pengasuh sendiri sudah menjadi teladan?"
Kepemimpinan Sanad Digital bukan tentang teknologi canggih. Ini tentang keberanian mengambil keputusan, konsistensi menerapkan kebijakan, dan keteladanan. Tanpa ketiganya, sanad digital hanya akan menjadi slogan kosong.
Wallahu a’lam.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pesantren. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, dan Menjejaki Alam Filsafat.
(nnz)
Lihat Juga :