Tembang Alit Kartini, Tribut Seni dan Penghargaan MURI untuk Perempuan Inspiratif 2026
Minggu, 19 April 2026 - 20:55 WIB
loading...
Pertunjukan dramatik musikal yang menghadirkan pembacaan surat-surat Kartini kemudian dipadukan dengan komposisi musik dan kolaborasi tari.
A
A
A
JAKARTA - Dalam rangka memperingati Hari Kartini sekaligus memberikan penghormatan bagi satu abad Rahmi Hatta, sebuah pergelaran seni bertajuk “Tembang Alit Kartini” sukses diselenggarakan pada Minggu (19/4/2026). Bertempat di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, acara ini juga dirangkaikan dengan penganugerahan Penghargaan MURI Kartini 2026.
Acara ini digagas sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam merintis jalan emansipasi. Pendiri MURI, Jaya Suprana, menegaskan bahwa sosok Kartini melampaui zamannya. “Kartini bukan sekadar perempuan, ia adalah cahaya zaman. Melalui surat-suratnya, ia membuka jendela dunia bagi kaum wanita,” tuturnya.
Dramatik Musikal: Merajut Surat Menjadi Kisah
Pertunjukan utama dikemas dalam format dramatik musikal yang apik. Di bawah arahan sutradara teater kenamaan, Wawan Sofwan, ratusan surat Kartini diramu menjadi satu alur cerita yang utuh. Narasi pertunjukan membawa penonton menyelami fase hidup Kartini, mulai dari masa pingitan yang sunyi hingga gagasannya yang revolusioner tentang pendidikan dan peran perempuan sebagai impresario seni yang mempromosikan ukiran Jepara ke dunia internasional.
Suasana teatrikal tersebut diperkuat dengan iringan musik orkestra mini yang menggabungkan instrumen piano, biola, dan cello dengan dentuman magis gamelan Jawa. Produser Eksekutif Tembang Alit Kartini, Aylawati Sarwono, menjelaskan bahwa tajuk acara ini diambil dari komposisi solo piano pertama karya Jaya Suprana tahun 1984, "Tembang Alit", yang dahulu dipopulerkan oleh pianis legendaris Iravati M. Sudiarso.
Penganugerahan Rekor MURI untuk 15 Tokoh Inspiratif
Puncak acara ditandai dengan pembacaan surat-surat Kartini oleh 15 tokoh perempuan nasional dari berbagai latar belakang organisasi dan bidang pengabdian. Atas dedikasi dan prestasi luar biasa mereka, ke-15 tokoh ini dianugerahi rekor MURI sebagai bentuk motivasi bagi generasi perempuan mendatang.
Daftar tokoh perempuan penerima penghargaan tersebut antara lain:
- Asha Smara Darra (Yayasan Umaratu)
- Ayu Heni Rosan (Yayasan Citra Kartini Indonesia)
- Diah Kusumawardani Wijayanti (Yayasan Belantara Budaya)
- Dra. Dewi Sulastri (Yayasan Swargaloka)
- Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A. (Yayasan Hatta)
- Dr. Emi Wiranto (Yayasan Sekar Ayu Jiwanta)
- Evy Amir Syamsudin, S.H. (Yayasan Second Chance)
- Gendis Soeharto, B.Sc. (YL-GNOTA)
- Happy Farida Djarot (Yayasan Krida Kebaya Jakarta)
- Hetty Andika Perkasa, M.H. (Perempuan Laju Perkasa)
- Ike Nirwan Bakrie (Rumah Pesona Kain)
- Inaya Wulandari Wahid (Jaringan Gusdurian)
- Inti Nusantari Subagio (For All Nations Campus)
- Nanik Hadi Tjahjanto, S.H. (Ketua Umum KOWANI)
- Sendy Dede Yusuf, S.T. (Yayasan Batik Jawa Barat)
Misi Pelestarian Budaya
Penyelenggaraan acara ini didukung oleh sinergi antara Laskar Indonesia Pusaka, Jaya Suprana School of Performing Arts, dan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Melalui Penghargaan MURI Kartini 2026, penyelenggara berharap dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional serta menghidupkan kembali nilai perjuangan Kartini dalam aksi nyata sehari-hari.
“Kartini bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dilanjutkan. Semangatnya bisa hidup lewat hal-hal sederhana yang kita lakukan untuk sesama,” pungkas Wawan Sofwan.
Acara ini juga terselenggara atas dukungan dari Sekar Ayu Jiwanta, Amero Jewellery, Second Chance Foundation, Perpustakaan Nasional RI, dan V2 Indonesia.
Acara ini digagas sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam merintis jalan emansipasi. Pendiri MURI, Jaya Suprana, menegaskan bahwa sosok Kartini melampaui zamannya. “Kartini bukan sekadar perempuan, ia adalah cahaya zaman. Melalui surat-suratnya, ia membuka jendela dunia bagi kaum wanita,” tuturnya.
Dramatik Musikal: Merajut Surat Menjadi Kisah
Pertunjukan utama dikemas dalam format dramatik musikal yang apik. Di bawah arahan sutradara teater kenamaan, Wawan Sofwan, ratusan surat Kartini diramu menjadi satu alur cerita yang utuh. Narasi pertunjukan membawa penonton menyelami fase hidup Kartini, mulai dari masa pingitan yang sunyi hingga gagasannya yang revolusioner tentang pendidikan dan peran perempuan sebagai impresario seni yang mempromosikan ukiran Jepara ke dunia internasional.
Suasana teatrikal tersebut diperkuat dengan iringan musik orkestra mini yang menggabungkan instrumen piano, biola, dan cello dengan dentuman magis gamelan Jawa. Produser Eksekutif Tembang Alit Kartini, Aylawati Sarwono, menjelaskan bahwa tajuk acara ini diambil dari komposisi solo piano pertama karya Jaya Suprana tahun 1984, "Tembang Alit", yang dahulu dipopulerkan oleh pianis legendaris Iravati M. Sudiarso.
Penganugerahan Rekor MURI untuk 15 Tokoh Inspiratif
Puncak acara ditandai dengan pembacaan surat-surat Kartini oleh 15 tokoh perempuan nasional dari berbagai latar belakang organisasi dan bidang pengabdian. Atas dedikasi dan prestasi luar biasa mereka, ke-15 tokoh ini dianugerahi rekor MURI sebagai bentuk motivasi bagi generasi perempuan mendatang.
Daftar tokoh perempuan penerima penghargaan tersebut antara lain:
- Asha Smara Darra (Yayasan Umaratu)
- Ayu Heni Rosan (Yayasan Citra Kartini Indonesia)
- Diah Kusumawardani Wijayanti (Yayasan Belantara Budaya)
- Dra. Dewi Sulastri (Yayasan Swargaloka)
- Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A. (Yayasan Hatta)
- Dr. Emi Wiranto (Yayasan Sekar Ayu Jiwanta)
- Evy Amir Syamsudin, S.H. (Yayasan Second Chance)
- Gendis Soeharto, B.Sc. (YL-GNOTA)
- Happy Farida Djarot (Yayasan Krida Kebaya Jakarta)
- Hetty Andika Perkasa, M.H. (Perempuan Laju Perkasa)
- Ike Nirwan Bakrie (Rumah Pesona Kain)
- Inaya Wulandari Wahid (Jaringan Gusdurian)
- Inti Nusantari Subagio (For All Nations Campus)
- Nanik Hadi Tjahjanto, S.H. (Ketua Umum KOWANI)
- Sendy Dede Yusuf, S.T. (Yayasan Batik Jawa Barat)
Misi Pelestarian Budaya
Penyelenggaraan acara ini didukung oleh sinergi antara Laskar Indonesia Pusaka, Jaya Suprana School of Performing Arts, dan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Melalui Penghargaan MURI Kartini 2026, penyelenggara berharap dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional serta menghidupkan kembali nilai perjuangan Kartini dalam aksi nyata sehari-hari.
“Kartini bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dilanjutkan. Semangatnya bisa hidup lewat hal-hal sederhana yang kita lakukan untuk sesama,” pungkas Wawan Sofwan.
Acara ini juga terselenggara atas dukungan dari Sekar Ayu Jiwanta, Amero Jewellery, Second Chance Foundation, Perpustakaan Nasional RI, dan V2 Indonesia.
(unt)
Lihat Juga :