Pengendalian Kebakaran Gambut, Wamenhut Dorong Penguatan SDM dan Kolaborasi ASEAN
Rabu, 15 April 2026 - 15:46 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan ITPC berperan sebagai platform kolaborasi internasional yang mendorong pertukaran pengetahuan berbasis sains, penguatan kapasitas, serta kerja sama antarnegara dalam pengelolaan gambut tropis. “ITPC hadir untuk memastikan bahwa kebijakan dan praktik pengelolaan gambut didukung oleh data yang kredibel, analisis ilmiah, serta kolaborasi global yang kuat,” katanya.
Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan Kementerian Kehutanan (pengampu/mitra AFoCO secretariat di Indonesia) Gun Gun Hidayat menjelaskan Kementerian Kehutanan mendorong Sekretariat Interim ITPC untuk semakin aktif berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait pengelolaan gambut dalam konteks penanganan kebakaran hutan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pelibatan ITPC dalam forum ini diperkuat untuk memberikan perspektif yang lebih komprehensif berbasis pengalaman dan praktik terbaik di tingkat nasional maupun internasional.
Kementerian Kehutanan menilai peran ITPC menjadi semakin strategis dalam mendukung peningkatan kapasitas teknis serta pemahaman lintas negara dalam pengelolaan ekosistem gambut. “Kami mendorong Sekretariat Interim ITPC untuk terus berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait gambut, karena pengalaman dan modalitas yang dimiliki ITPC mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai karakteristik dan perilaku gambut, khususnya dalam kaitannya dengan penanganan kebakaran hutan,” ujar Gun Gun. Baca juga: Indonesia-FAO Perkuat Kerja Sama, Fokus Gambut, Mangrove, dan Hutan Adat
Menurut dia, penguatan peran ITPC diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan strategi penanganan kebakaran gambut yang lebih efektif, berbasis sains, serta adaptif terhadap kondisi lapangan. Pelatihan dirancang melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan pembelajaran di kelas, simulasi, dan praktik lapangan guna meningkatkan kesiapsiagaan operasional dalam penanganan kebakaran di kawasan gambut, termasuk pemahaman terhadap karakteristik kebakaran gambut seperti fenomena pembakaran bawah permukaan (underground smouldering) serta pengelolaan air melalui teknik rewetting.
Kegiatan ini merupakan bagian dari fase utama (Main Phase 2026–2030) FFMA yang bertujuan membangun sistem pelatihan yang lebih terstruktur, terinstitusionalisasi, dan dapat direplikasi di berbagai negara. Selain memperkuat kapasitas individu, program ini juga menghasilkan keluaran strategis berupa modul pelatihan komprehensif, laporan pelaksanaan, serta policy brief yang dapat menjadi rujukan dalam penguatan kebijakan dan kelembagaan pengendalian kebakaran gambut di tingkat nasional maupun regional.
Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan Kementerian Kehutanan (pengampu/mitra AFoCO secretariat di Indonesia) Gun Gun Hidayat menjelaskan Kementerian Kehutanan mendorong Sekretariat Interim ITPC untuk semakin aktif berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait pengelolaan gambut dalam konteks penanganan kebakaran hutan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pelibatan ITPC dalam forum ini diperkuat untuk memberikan perspektif yang lebih komprehensif berbasis pengalaman dan praktik terbaik di tingkat nasional maupun internasional.
Kementerian Kehutanan menilai peran ITPC menjadi semakin strategis dalam mendukung peningkatan kapasitas teknis serta pemahaman lintas negara dalam pengelolaan ekosistem gambut. “Kami mendorong Sekretariat Interim ITPC untuk terus berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait gambut, karena pengalaman dan modalitas yang dimiliki ITPC mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai karakteristik dan perilaku gambut, khususnya dalam kaitannya dengan penanganan kebakaran hutan,” ujar Gun Gun. Baca juga: Indonesia-FAO Perkuat Kerja Sama, Fokus Gambut, Mangrove, dan Hutan Adat
Menurut dia, penguatan peran ITPC diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan strategi penanganan kebakaran gambut yang lebih efektif, berbasis sains, serta adaptif terhadap kondisi lapangan. Pelatihan dirancang melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan pembelajaran di kelas, simulasi, dan praktik lapangan guna meningkatkan kesiapsiagaan operasional dalam penanganan kebakaran di kawasan gambut, termasuk pemahaman terhadap karakteristik kebakaran gambut seperti fenomena pembakaran bawah permukaan (underground smouldering) serta pengelolaan air melalui teknik rewetting.
Kegiatan ini merupakan bagian dari fase utama (Main Phase 2026–2030) FFMA yang bertujuan membangun sistem pelatihan yang lebih terstruktur, terinstitusionalisasi, dan dapat direplikasi di berbagai negara. Selain memperkuat kapasitas individu, program ini juga menghasilkan keluaran strategis berupa modul pelatihan komprehensif, laporan pelaksanaan, serta policy brief yang dapat menjadi rujukan dalam penguatan kebijakan dan kelembagaan pengendalian kebakaran gambut di tingkat nasional maupun regional.
(poe)
Lihat Juga :