Lili Romli Nilai Buku Ilmu Politik Boni Hargens Layak Jadi Referensi
Minggu, 12 April 2026 - 18:03 WIB
loading...
A
A
A
Boni dengan berbagai referensi filsuf dan ilmuwan politik, seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles hingga para filsuf modern dan kontemporer, kata Prof Lili Romli, menunjukkan bahwa politik itu adalah kebajikan. "Dalam buku Boni Hargens ini, ditunjukkan juga bahwa politik itu merupakan ilmu yang jelas, bisa memprediksi peristiwa-peristiwa akan datang serta terkait dengan ilmu-ilmu lain bahkan seluruh aspek kehidupan kita adalah politik,” kata Prof Lili Romli.
“Karena itu, Boni juga membahas sejarah menarik soal politik di era digital dan kaitannya dengan ilmu intelijen. Bagi saya, itu sesuatu yang kekinian, bagaimana politik di era digital dan bagaimana ilmu politik kawin dengan ilmu intelijen untuk mengamankan kepentingan nasional," sambungnya.
Dia mengaku ada kekurangan dari buku Ilmu Politik Boni Hargens ini. Hanya saja, kata dia, kekurangan bukan kelemahan, tetapi sesuatu yang perlu disempurnakan. Bahkan, dia mendorong Boni Hargens segera menerjemahkan disertasi doktoralnya dari Universitas Walden, Amerika Serikat berjudul 'Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia' ke bahasa Indonesia.
Hal senada disampaikan juga oleh Pengamat publik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute Karyono Wibowo. Karyono menilai buku Ilmu Politik Boni Hargens ini merupakan paket lengkap yang memuat beragam pandangan filosofis soal politik, kaya akan teori politik serta menunjukkan mazhab politik Boni Hargens, yakni politik kenegaraan.
"Ini pemikiran yang ambisius, ada 10 bab yang membahas pemikiran dari klasik, abad pertengahan dan kontemporer. Satu hal yang menarik bagi saya, Boni membahas digitalisasi, bagaiman pengaruh digital mempengaruhi politik dan demokrasi dan kedua, membahas unsur inteligen dalam ilmu politik," kata Karyono.
Salah poin yang ditekankan Karyono adalah Boni menunjukkan bahwa intelijen dan demokrasi bisa berjalan beriringan meskipun karakter keduanya berbeda, di mana demokrasi mengutamakan keterbukaan sementara intelijen mengutamakan kerahasiaan atau ketertutupan.
“Karena itu, Boni juga membahas sejarah menarik soal politik di era digital dan kaitannya dengan ilmu intelijen. Bagi saya, itu sesuatu yang kekinian, bagaimana politik di era digital dan bagaimana ilmu politik kawin dengan ilmu intelijen untuk mengamankan kepentingan nasional," sambungnya.
Dia mengaku ada kekurangan dari buku Ilmu Politik Boni Hargens ini. Hanya saja, kata dia, kekurangan bukan kelemahan, tetapi sesuatu yang perlu disempurnakan. Bahkan, dia mendorong Boni Hargens segera menerjemahkan disertasi doktoralnya dari Universitas Walden, Amerika Serikat berjudul 'Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia' ke bahasa Indonesia.
Hal senada disampaikan juga oleh Pengamat publik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute Karyono Wibowo. Karyono menilai buku Ilmu Politik Boni Hargens ini merupakan paket lengkap yang memuat beragam pandangan filosofis soal politik, kaya akan teori politik serta menunjukkan mazhab politik Boni Hargens, yakni politik kenegaraan.
"Ini pemikiran yang ambisius, ada 10 bab yang membahas pemikiran dari klasik, abad pertengahan dan kontemporer. Satu hal yang menarik bagi saya, Boni membahas digitalisasi, bagaiman pengaruh digital mempengaruhi politik dan demokrasi dan kedua, membahas unsur inteligen dalam ilmu politik," kata Karyono.
Salah poin yang ditekankan Karyono adalah Boni menunjukkan bahwa intelijen dan demokrasi bisa berjalan beriringan meskipun karakter keduanya berbeda, di mana demokrasi mengutamakan keterbukaan sementara intelijen mengutamakan kerahasiaan atau ketertutupan.
Lihat Juga :