Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah, Great Institute Soroti Ancaman Fiskal RI
Rabu, 01 April 2026 - 23:54 WIB
loading...
A
A
A
“Produksi batubara kita 817 juta ton per tahun, dengan potensi hampir 100 miliar ton. Ini harus diolah di dalam negeri,” kata Turino.
Ia mendorong percepatan gasifikasi batubara sebagai substitusi LPG, mengingat impor LPG Indonesia mencapai jutaan ton per tahun.
Di sektor transportasi, Kukuh Kumara dari Gaikindo mengatakan industri sebenarnya sudah siap beradaptasi. “Kita sudah produksi mesin yang bisa E85 dan ekspor ke Brasil. Tinggal bahan bakarnya tersedia,” katanya.
Hal senada disampaikan Hari Budianto dari AISI. “Motor itu tulang punggung ekonomi masyarakat. Bahkan sejak 2005 kita sudah bisa pakai campuran etanol E5 sampai E10 tanpa perubahan mesin.”
Dari sisi sosial-ekonomi, Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat, justru mengambil posisi yang lebih pragmatis. “Menurut saya, tak soal harga BBM naik dulu, toh setelah perang bisa turun lagi, dibanding defisit yang makin besar,” kata Jumhur.
Jumhur juga melihat ada sisi peluang di balik krisis. “Para pekerja teknis justru mendapat kesempatan, karena mereka dibutuhkan untuk memitigasi krisis energi.”
Diskusi juga mencatat perlunya perubahan pola konsumsi energi masyarakat. Dalam kajian yang disampaikan, sektor transportasi masih menjadi penyedot terbesar BBM, termasuk dominasi kendaraan pribadi. Hal ini membuat transisi menuju energi alternatif, termasuk kendaraan listrik dan biofuel, menjadi semakin mendesak.
FGD yang berlangsung intens itu akhirnya tidak berhenti pada diagnosis masalah. Sejumlah rekomendasi mengemuka—mulai dari pengendalian subsidi, efisiensi belanja negara, hingga pembentukan satuan tugas khusus untuk menjaga stabilitas fiskal dan energi.
Namun di atas semua itu, satu benang merah terasa kuat: Indonesia tidak lagi bisa menunda pembenahan struktur energi. Menjelang sore, diskusi ditutup dengan suasana yang lebih cair.
Para peserta saling berbincang dalam ramah tamah, dalam nuansa halalbihalal Lebaran 1447 H yang masih terasa hangat di ruang publik. Di tengah tawa dan saling bersalaman, satu kesadaran tampak mengendap: krisis energi bukan lagi ancaman jauh di horizon. Ia sudah berdiri di depan pintu—dan pilihan yang tersedia bukan lagi menunggu, melainkan bersiap.
Ia mendorong percepatan gasifikasi batubara sebagai substitusi LPG, mengingat impor LPG Indonesia mencapai jutaan ton per tahun.
Di sektor transportasi, Kukuh Kumara dari Gaikindo mengatakan industri sebenarnya sudah siap beradaptasi. “Kita sudah produksi mesin yang bisa E85 dan ekspor ke Brasil. Tinggal bahan bakarnya tersedia,” katanya.
Hal senada disampaikan Hari Budianto dari AISI. “Motor itu tulang punggung ekonomi masyarakat. Bahkan sejak 2005 kita sudah bisa pakai campuran etanol E5 sampai E10 tanpa perubahan mesin.”
Dari sisi sosial-ekonomi, Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat, justru mengambil posisi yang lebih pragmatis. “Menurut saya, tak soal harga BBM naik dulu, toh setelah perang bisa turun lagi, dibanding defisit yang makin besar,” kata Jumhur.
Jumhur juga melihat ada sisi peluang di balik krisis. “Para pekerja teknis justru mendapat kesempatan, karena mereka dibutuhkan untuk memitigasi krisis energi.”
Diskusi juga mencatat perlunya perubahan pola konsumsi energi masyarakat. Dalam kajian yang disampaikan, sektor transportasi masih menjadi penyedot terbesar BBM, termasuk dominasi kendaraan pribadi. Hal ini membuat transisi menuju energi alternatif, termasuk kendaraan listrik dan biofuel, menjadi semakin mendesak.
FGD yang berlangsung intens itu akhirnya tidak berhenti pada diagnosis masalah. Sejumlah rekomendasi mengemuka—mulai dari pengendalian subsidi, efisiensi belanja negara, hingga pembentukan satuan tugas khusus untuk menjaga stabilitas fiskal dan energi.
Namun di atas semua itu, satu benang merah terasa kuat: Indonesia tidak lagi bisa menunda pembenahan struktur energi. Menjelang sore, diskusi ditutup dengan suasana yang lebih cair.
Para peserta saling berbincang dalam ramah tamah, dalam nuansa halalbihalal Lebaran 1447 H yang masih terasa hangat di ruang publik. Di tengah tawa dan saling bersalaman, satu kesadaran tampak mengendap: krisis energi bukan lagi ancaman jauh di horizon. Ia sudah berdiri di depan pintu—dan pilihan yang tersedia bukan lagi menunggu, melainkan bersiap.
(rca)
Lihat Juga :