Hauzah dan Pesantren: Dua Organisme Peradaban yang Menolak Runtuh

Rabu, 01 April 2026 - 08:54 WIB
loading...
A A A
Khomeini tidak hanya belajar ilmu fikih di Hauzah, tetapi juga menyerap pemikiran politik tentang pemerintahan Islam. Gagasannya tentang wilayat al-faqih (kepemimpinan tertinggi para fukaha) yang kemudian menjadi landasan konstitusi Republik Islam Iran, lahir dari pergumulan intelektual di lingkungan Hauzah.

Hal yang sama berlaku untuk Ayatullah Ali Khamenei. Dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu, Khamenei menggambarkan Allameh Mirza Muhammad Hussain Naeini sebagai salah satu pilar intelektual dan spiritual Hauzah Najaf. Pemikiran politik Naeini, menurut Khamenei, berakar pada prinsip mendirikan pemerintahan Islam berdasarkan wilayah sebagai tandingan terhadap tirani.

Menariknya, Khamenei menegaskan bahwa pemikiran politik Naeini mengamanatkan bahwa pemerintah dan semua pejabatnya harus tunduk pada pengawasan dan akuntabilitas nasional. Ini memerlukan pembentukan "parlemen perwakilan" melalui pemilu untuk pengawasan dan legislasi, dengan validitas hukumnya bergantung pada persetujuan para ulama terkemuka. Inilah yang kemudian dipahami sebagai kerangka "Republik Islam" yang memadukan kedaulatan rakyat dan kompas etik keagamaan.

Ekspor Revolusi: Hauzah sebagai Jaringan Transnasional


Setelah Revolusi Islam 1979, Iran tidak hanya mengekspor ideologi, tetapi juga jaringan Hauzah ke berbagai negara. Chatham House—lembaga riset ternama di Inggris—mencatat bahwa Republik Islam Iran telah mempromosikan ideologi Syiahnya yang berakar pada gagasan pemerintahan Islam untuk membangun jaringan transnasional yang loyal.

Di bawah kepemimpinan Khamenei, para ulama Iran telah dilembagakan dan dikelola secara terpusat. Ini berdampak pada pertumbuhan pengaruh Iran dan intervensinya di Hauzah dan politik negara tetangga, terutama Irak pasca-2003.

Sebuah studi kasus menarik adalah pendirian Hauzah al-Qa'im di Teheran oleh Gerakan Vanguard Missionary (MVM) dari Arab Saudi. Setelah tekanan keamanan di Saudi, ratusan pemuda Syiah Saudi pergi ke Iran dan belajar di Hauzah ini. Mereka kemudian kembali dan menjadi tokoh-tokoh berpengaruh, seperti Hasan al-Saffar, pemimpin spiritual Syiah Saudi. Inilah bukti bahwa Hauzah bukan sekadar lembaga pendidikan lokal, tetapi jaringan transnasional yang membentuk lanskap politik regional.

Jembatan ke Nusantara: Apa yang Bisa Kita Pelajari?


Setelah membaca tentang kedalaman institusional Hauzah, saya jadi bertanya: apakah di Indonesia kita memiliki institusi serupa? Jawabannya jelas: pesantren. Bahkan, pesantren di Nusantara memiliki kemiripan yang mencolok dengan Hauzah, baik dalam sistem pendidikan, jaringan sosial, maupun peran kebangsaannya.

KH Ma'ruf Amin, dalam peringatan 1 abad Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, menjelaskan bahwa tugas pondok pesantren adalah menyiapkan orang yang alim dan ahli ilmu, mengajarkan keterampilan sosial, kepemimpinan, dan kemampuan intelektual yang tinggi. Dengan demikian, pesantren berperan ganda dalam mencetak ulama sekaligus pemimpin masyarakat.

Kiai Ma'ruf menegaskan bahwa "tidak boleh ada kekosongan ulama". Pernyataan ini mengingatkan kita pada konsep bahs kharij di Hauzah yang memastikan regenerasi keilmuan tidak pernah putus.

Ia juga menyebut Pondok Pesantren Al-Falah Ploso sebagai "pabrik kiai" yang selama 100 tahun telah menghasilkan banyak ulama besar. Alumninya bahkan mendirikan pesantren-pesantren baru di berbagai tempat untuk menyambung sanad ilmu. Ini persis seperti jaringan Hauzah di Timur Tengah—sebuah ekosistem yang saling terhubung, mereproduksi nilai, dan mencetak pemimpin.

Dalam forum Silaturahmi Kebangsaan di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung menegaskan bahwa pesantren telah menjadi rumah peradaban. Dari rahim pesantren lahir para pejuang kemerdekaan dan pemimpin penjaga moral bangsa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pancasila yang Kita...
Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Jelang Final Piala Dunia,...
Jelang Final Piala Dunia, Caketum PBNU Gus Salam Jagokan Argentina Jadi Pemenang
LPSK Bentuk Tim Pelindungan...
LPSK Bentuk Tim Pelindungan Darurat untuk Tangani Korban Kasus Pembakaran Santri di Lombok
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
Rekomendasi
Sinopsis The Value of...
Sinopsis The Value of Patience: Perjuangan Alex Mengejar Cinta dan Masa Depan
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
Berita Terkini
Dokter Tifa Sudah Siapkan...
Dokter Tifa Sudah Siapkan 2.000 Pertanyaan untuk Jokowi jika Sidang Berlanjut
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Eksepsi Dokter Tifa...
Eksepsi Dokter Tifa Dikabulkan Hakim, Pengacara Jokowi Tawarkan Restorative Justice
Puluhan Organisasi Tolak...
Puluhan Organisasi Tolak Penerapan PP No 28/2024 Tentang Kesehatan
Sebut Ada 3 Kancil Politik...
Sebut Ada 3 Kancil Politik Indonesia, Prabowo: Kalau Berkumpul, Bahaya
Dokter Tifa Sudah Pelajari...
Dokter Tifa Sudah Pelajari 10 Ribu Halaman Dokumen BAP sebelum Eksepsi Dikabulkan
Infografis
Profil Rudi Margono...
Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Gantikan Febrie Adriansyah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved