4 Anggota BAIS Terlibat Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Ini Analisa Eks KABAIS TNI
Kamis, 19 Maret 2026 - 16:47 WIB
loading...
A
A
A
“Ini berbahaya karena menyebarkan beban kesalahan ke institusi yang tidak relevan secara operasional. Mengganggu prinsip integrasi intelijen,” katanya.
Soleman menjelaskan, BAIS TNI dibentuk sebagai organisasi intelijen terpadu lintas matra. Ketika seorang prajurit masuk ke BAIS maka dia tidak lagi mewakili AL, AU, atau AD tetapi menjadi bagian dari satu entitas BAIS TNI. Maka, mengembalikan identitas matra dalam konteks kesalahan bertentangan dengan prinsip integrasi intelijen itu sendiri.
Selain itu, pernyataan tersebut juga bisa menciptakan disorientasi public. Sebab masyarakat yang tidak memahami struktur militer dapat dengan mudah menyimpulkan ini adalah persoalan matra bukan persoalan BAIS. Padahal yang seharusnya dipahami ini adalah persoalan di dalam tubuh BAIS sebagai satuan intelijen.
Soleman juga menyinggung adagium intelijen. Di mana dalam dunia intelijen dikenal adagium “Berangkat tugas dianggap mati, hilang tidak dicari, gagal dicaci maki, menang tidak dipuji.” Hal ini berarti keberhasilan adalah kewajiban dan kegagalan adalah tanggung jawab yang harus dievaluasi keras.
Dalam konteks ini, kata Soleman, pelaku terungkap dan peristiwa terbuka ke public. Tidak hanya itu, institusi juga terseret. Dengan demikian, ini adalah indikator kegagalan profesional yang tidak bisa ditutup-tutupi. Tidak hanya itu, Soleman juga menyoroti peran Asintel Panglima TNI dan Asintel Matra.
Untuk itu, Soleman mendorong perlunya membentuk Tim Investigasi Bersama. Dalam struktur TNI, fungsi intelijen berada dalam koordinasi Asisten Intelijen (Asintel) Panglima TNI. Namun karena personel BAIS berasal dari lintas matra, maka dalam kasus ini Asintel Panglima TNI harus bertindak bersama-sama dengan Asintel KSAL dan Asintel KSAU untuk membentuk Tim Investigasi Internal Terpadu.
“Pendekatan bersama ini penting karena personel berasal dari pembinaan matra AL dan AU dengan penugasan berada di BAIS sehingga terdapat irisan antara fungsi pembinaan dan fungsi operasional,” katanya.
Pembentukan Tim Bersama ini bertujuan untuk menjamin objektivitas lintas matra dan BAIS. Menghindari konflik kepentingan internal dan menutup celah saling lempar tanggung jawab. Selain itu, memastikan pertanggungjawaban komando dari hulu ke hilir dan menjaga kehormatan seluruh matra sekaligus BAIS sebagai satu kesatuan.
“Tim gabungan ini harus bekerja secara sistematis dengan mandat sebagai berikut, menguji status penugasan, apakah ada sprint resmi, apakah ada penggunaan fasilitas kedinasan, bagaimana posisi personel saat kejadian, melibatkan data BAIS dan data pembinaan matra,” katanya
Soleman menjelaskan, BAIS TNI dibentuk sebagai organisasi intelijen terpadu lintas matra. Ketika seorang prajurit masuk ke BAIS maka dia tidak lagi mewakili AL, AU, atau AD tetapi menjadi bagian dari satu entitas BAIS TNI. Maka, mengembalikan identitas matra dalam konteks kesalahan bertentangan dengan prinsip integrasi intelijen itu sendiri.
Selain itu, pernyataan tersebut juga bisa menciptakan disorientasi public. Sebab masyarakat yang tidak memahami struktur militer dapat dengan mudah menyimpulkan ini adalah persoalan matra bukan persoalan BAIS. Padahal yang seharusnya dipahami ini adalah persoalan di dalam tubuh BAIS sebagai satuan intelijen.
Soleman juga menyinggung adagium intelijen. Di mana dalam dunia intelijen dikenal adagium “Berangkat tugas dianggap mati, hilang tidak dicari, gagal dicaci maki, menang tidak dipuji.” Hal ini berarti keberhasilan adalah kewajiban dan kegagalan adalah tanggung jawab yang harus dievaluasi keras.
Dalam konteks ini, kata Soleman, pelaku terungkap dan peristiwa terbuka ke public. Tidak hanya itu, institusi juga terseret. Dengan demikian, ini adalah indikator kegagalan profesional yang tidak bisa ditutup-tutupi. Tidak hanya itu, Soleman juga menyoroti peran Asintel Panglima TNI dan Asintel Matra.
Untuk itu, Soleman mendorong perlunya membentuk Tim Investigasi Bersama. Dalam struktur TNI, fungsi intelijen berada dalam koordinasi Asisten Intelijen (Asintel) Panglima TNI. Namun karena personel BAIS berasal dari lintas matra, maka dalam kasus ini Asintel Panglima TNI harus bertindak bersama-sama dengan Asintel KSAL dan Asintel KSAU untuk membentuk Tim Investigasi Internal Terpadu.
“Pendekatan bersama ini penting karena personel berasal dari pembinaan matra AL dan AU dengan penugasan berada di BAIS sehingga terdapat irisan antara fungsi pembinaan dan fungsi operasional,” katanya.
Pembentukan Tim Bersama ini bertujuan untuk menjamin objektivitas lintas matra dan BAIS. Menghindari konflik kepentingan internal dan menutup celah saling lempar tanggung jawab. Selain itu, memastikan pertanggungjawaban komando dari hulu ke hilir dan menjaga kehormatan seluruh matra sekaligus BAIS sebagai satu kesatuan.
“Tim gabungan ini harus bekerja secara sistematis dengan mandat sebagai berikut, menguji status penugasan, apakah ada sprint resmi, apakah ada penggunaan fasilitas kedinasan, bagaimana posisi personel saat kejadian, melibatkan data BAIS dan data pembinaan matra,” katanya
Lihat Juga :