Adidaya Institute Ingatkan Pemerintah Tetap Komitmen Palestina Merdeka Sambil Optimalkan Peluang di BoP
Minggu, 08 Maret 2026 - 17:57 WIB
loading...
A
A
A
“Jika kepercayaan terhadap Board of Peace terus melemah akibat eskalasi konflik, maka pemerintah perlu melakukan kalibrasi strategis. Tetapi kalibrasi itu harus tetap menjaga hubungan diplomatik yang positif dengan Amerika Serikat karena kepentingan geoekonomi Indonesia juga besar.”
Dalam konteks eskalasi konflik Timur Tengah saat ini, Adidaya Institute memandang posisi Indonesia seharusnya diarahkan pada tiga langkah strategis. Pertama, mempertahankan konsistensi Kemerdekaan Palestina sebagai Anchor legitimasi diplomasi Indonesia, sehingga posisi moral dan kredibilitas internasional tetap terjaga.
Kedua, mengambil peran aktif dalam diplomasi de-eskalasi konflik, dengan memanfaatkan posisi Indonesia sebagai negara non-blok yang memiliki hubungan konstruktif dengan berbagai pihak. Ketiga atau terakhir, melakukan evaluasi strategis terhadap konfigurasi diplomasi global, termasuk efektivitas berbagai inisiatif perdamaian yang berkembang saat ini.
Sebelumnya dalam Survei kepada para ahli yang dilakukan Adidaya Institute pada Desember 2025 hingga Februari 2026, terdapat temuan sebanyak 23,30 persen ahli berpendapat program dukungan Palestina Merdeka sebagai program jangkar (Anchor).
Kemudian 43 persen Ahli menilai program Kampung Nelayan, KDKMP, dan 3 Juta Rumah sebagai mesin (engine) pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya program-program lain seperti Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, Lumbung Pangan dan Makan Bergizi Gratis (MBG) masuk dalam kerangka program stabilisator sosial alias stabilizer.
Survei Adidaya Institute dilakukan di 12 kota besar di Indonesia (Medan, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Ternate). Survei melibatkan 72 responden ahli dengan latar belakang berbagai profesi antara lain akademisi (22 orang), legislatif (12 orang), birokrat (14 orang), pelaku usaha (13 orang), tenaga kesehatan (7 orang) dan aktivis (4 orang). Survei juga dilakukan dengan menggunakan metode analyctical hierarchy process dan indepth interview beserta agenda focus group discussion (FGD).
Dalam konteks eskalasi konflik Timur Tengah saat ini, Adidaya Institute memandang posisi Indonesia seharusnya diarahkan pada tiga langkah strategis. Pertama, mempertahankan konsistensi Kemerdekaan Palestina sebagai Anchor legitimasi diplomasi Indonesia, sehingga posisi moral dan kredibilitas internasional tetap terjaga.
Kedua, mengambil peran aktif dalam diplomasi de-eskalasi konflik, dengan memanfaatkan posisi Indonesia sebagai negara non-blok yang memiliki hubungan konstruktif dengan berbagai pihak. Ketiga atau terakhir, melakukan evaluasi strategis terhadap konfigurasi diplomasi global, termasuk efektivitas berbagai inisiatif perdamaian yang berkembang saat ini.
Sebelumnya dalam Survei kepada para ahli yang dilakukan Adidaya Institute pada Desember 2025 hingga Februari 2026, terdapat temuan sebanyak 23,30 persen ahli berpendapat program dukungan Palestina Merdeka sebagai program jangkar (Anchor).
Kemudian 43 persen Ahli menilai program Kampung Nelayan, KDKMP, dan 3 Juta Rumah sebagai mesin (engine) pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya program-program lain seperti Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, Lumbung Pangan dan Makan Bergizi Gratis (MBG) masuk dalam kerangka program stabilisator sosial alias stabilizer.
Survei Adidaya Institute dilakukan di 12 kota besar di Indonesia (Medan, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Ternate). Survei melibatkan 72 responden ahli dengan latar belakang berbagai profesi antara lain akademisi (22 orang), legislatif (12 orang), birokrat (14 orang), pelaku usaha (13 orang), tenaga kesehatan (7 orang) dan aktivis (4 orang). Survei juga dilakukan dengan menggunakan metode analyctical hierarchy process dan indepth interview beserta agenda focus group discussion (FGD).
(shf)
Lihat Juga :