Tewasnya Khamenei, Bangkitnya Turki, dan Masa Depan Palestina

Senin, 02 Maret 2026 - 12:04 WIB
loading...
A A A
Dalam skenario tersebut, Israel menghadapi realitas baru di utara: bukan lagi poros Iran-Suriah seperti sebelumnya, melainkan konfigurasi yang mungkin lebih plural dan terbuka terhadap diplomasi regional. Namun, perubahan rezim tidak otomatis berarti perubahan orientasi terhadap Israel atau Palestina.

Politik luar negeri selalu bergerak dalam kerangka kepentingan nasional. Apalagi Suriah dibawah Presiden Ahmed al-Syara’ fokus membenahi struktur ekonomi, sosial dan politik yang porak poranda di masa revolusi 2011 hingga 2024, dan tidak melayani provokasi Israel di perbatasan, khususnya di Golan dan meredam intervensi Israel di kawasan mayoritas Kurdi dan Druze.

Turki: “Iran Baru” atau Penyeimbang Baru?


Pernyataan mantan PM Israel Naftali Bennett yang menyebut Turki sebagai “Iran baru” mencerminkan kekhawatiran atas menguatnya pengaruh Ankara. Turki di bawah Erdogan tampil lebih vokal membela Palestina, lebih mandiri dari Barat, dan lebih aktif dalam isu kawasan.

Namun menyamakan Turki dengan Iran adalah simplifikasi. Turki adalah anggota NATO, memiliki hubungan ekonomi dengan Israel, dan tidak membangun jaringan milisi proksi seperti model Iran. Perannya lebih berupa kekuatan diplomatik dan simbolik di dunia Sunni.

Dalam hal ini, Erdogan sangat lihai dan cantik bermain tarik ulur dengan kekuatan Barat (baca: AS-Israel), tidak seperti Iran yang konfrontatif dan provokatif. Jika Turki berhasil membangun rekonsiliasi strategis dengan negara seperti Saudi Arabia, Mesir, dan Pakistan, maka yang terbentuk bukan blok militer anti-Israel, melainkan konfigurasi politik baru yang lebih multipolar. Ini bisa menjadi penyeimbang terhadap dominasi tunggal, tetapi belum tentu menjadi poros konfrontasi langsung.

Moralitas yang Terlupakan


Masalah utama dalam dinamika ini adalah reduksi isu Palestina menjadi alat tawar geopolitik. Ketika Palestina dijadikan simbol untuk memperkuat posisi regional suatu negara, maka perjuangan itu kehilangan independensi moralnya.

Secara etis, perjuangan Palestina berdiri di atas prinsip keadilan universal—bukan atas kepentingan Iran, Turki, atau negara Arab mana pun. Ketika konflik Iran–Israel memanas, atau ketika Turki memperluas pengaruhnya, rakyat Palestina tetap berada dalam realitas pendudukan dan blokade.

Keadilan tidak boleh menjadi turunan dari rivalitas kekuatan. Ia harus menjadi fondasi perjuangan itu sendiri.

Apakah Pelemahan Iran Menguntungkan Palestina?


Secara militer, melemahnya Iran bisa mengurangi kapasitas dukungan terhadap kelompok perlawanan. Secara politik, ia bisa mengurangi polarisasi kawasan. Namun, tidak ada jaminan bahwa tekanan terhadap Iran otomatis menghasilkan konsesi Israel terhadap Palestina. Karena pada dasarnya motif pergulatan dua kubu (AS-Israel vs Iran) itu berkaitan erat dengan pengaruh politik regional dan kepentingan kemanan nasional masing-masing.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan keseimbangan kekuatan sering kali memperkuat aktor yang paling stabil dan paling didukung secara internasional. Jika tidak ada tekanan global berbasis hukum internasional, perubahan geopolitik justru bisa memperkuat status quo. Ini yang sering tidak disadari oleh para pengamat dan aktifis pro-Palestina.

Masa Depan: Tiga Skenario


Pertama, Polarisasi meningkat. Konflik Iran–Israel melebar, kawasan terfragmentasi, dan isu Palestina semakin terseret dalam blok geopolitik. Ini yang tidak kita harapkan terjadi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Presiden Prabowo Diundang...
Presiden Prabowo Diundang ke Teheran oleh Pemerintah Iran
Iran, Teokrasi Islam...
Iran, Teokrasi Islam dan Pelajaran bagi Dunia Islam
Sugiono Bertemu Menlu...
Sugiono Bertemu Menlu Iran saat Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Adara Ajak Masyarakat...
Adara Ajak Masyarakat Berkarya untuk Al-Aqsa dan Palestina melalui Art & Craft for Palestine
Ketua MPR Ungkap Ada...
Ketua MPR Ungkap Ada Ulama Ikut ke Iran: Saya Belum Tahu Namanya
Bakal Hadiri Prosesi...
Bakal Hadiri Prosesi Pemakaman Ayatulloh Khamenei, Ketua MPR: Saya Diutus Presiden
Mantan PM Yordania Sebut...
Mantan PM Yordania Sebut Perang Iran dan AS Tak Ada Gunanya
Kirim Video ke Agen...
Kirim Video ke Agen Intelijen Iran, Tentara Israel Ini Dipenjara selama 5 Tahun
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
Rekomendasi
Kirim Video ke Agen...
Kirim Video ke Agen Intelijen Iran, Tentara Israel Ini Dipenjara selama 5 Tahun
Menteri PU Jawab Isu...
Menteri PU Jawab Isu Keponakan Jadi Komisaris: Lu Bisa Buktikan, Gue Kasih Umrah
Mantan Pasukan Khusus...
Mantan Pasukan Khusus AS Bawa Paspor China Ini Ditangkap di Perbatasan Nepal dan India, Siapa Jordan Brown?
Berita Terkini
Prabowo Pimpin Rapat...
Prabowo Pimpin Rapat 5 Jam soal Koperasi Desa Merah Putih di Istana, Ini Hasilnya
Di Forum BRICS 2026,...
Di Forum BRICS 2026, KSPSI AGN Dorong AI Berpihak pada Pekerja
Kejagung Ralat Pernyataan,...
Kejagung Ralat Pernyataan, Status Febrie Adriansyah Tetap Tersangka di 3 Sprindik Baru
Rismon: Jokowi Tak Ingin...
Rismon: Jokowi Tak Ingin Hukum Roy Suryo dan Dokter Tifa, hanya Ingin Polemik Ijazah Tuntas
Dongkrak Ekonomi Perdesaan,...
Dongkrak Ekonomi Perdesaan, 10 Asosiasi Desa Dukung Kopdes Merah Putih
Wamenhaj Dorong Semangat...
Wamenhaj Dorong Semangat 'Travel Beyond Profit' di Mukernas III ASPHIRASI
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved