Ketahanan Wilayah Pantai, PDASRH Perkuat Rehabilitasi Mangrove di Sumatera
Sabtu, 28 Februari 2026 - 19:04 WIB
loading...
A
A
A
Di Riau, rehabilitasi mangrove melalui program M4CR telah dilaksanakan di 5 kabupaten, yakni Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti. Hingga 2025, capaian rehabilitasi mangrove di wilayah tersebut mencapai sekitar 3.124 hektare dengan lebih dari 9,6 juta bibit mangrove tertanam, serta melibatkan 131 kelompok masyarakat di 62 desa.
Selain kegiatan rehabilitasi, penguatan tata kelola mangrove juga dilakukan melalui penetapan 126 Desa Mandiri Peduli Mangrove serta pengesahan 44 peraturan desa sebagai dasar perlindungan ekosistem mangrove di tingkat lokal.
Upaya rehabilitasi mangrove menjadi sangat penting bagi wilayah pesisir seperti Desa Kuala Selat Kabupaten Indragiri Hilir, yang sebelumnya mengalami kerusakan lingkungan akibat abrasi dan intrusi air laut. Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 1.900 hektare kebun kelapa milik masyarakat mati, sehingga berdampak langsung terhadap sumber penghidupan warga.
Kepala Desa Kuala Selat Nurjaya mengatakan, abrasi yang terjadi di wilayahnya telah merusak kebun kelapa yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat desa. “Sebelum terdampak abrasi, pendapatan masyarakat dari kebun kelapa berkisar antara Rp15 juta hingga Rp50 juta setiap 2,5 sampai 3 bulan, tergantung luas lahan yang dimiliki,” katanya.
Menurut dia, rusaknya kebun kelapa akibat intrusi air laut telah mengubah kondisi sosial ekonomi masyarakat desa. “Rusaknya kebun kelapa ini banyak mengubah hidup kami. Kami kehilangan mata pencaharian, bahkan ada anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah,” ujarnya.
Selain kegiatan rehabilitasi, penguatan tata kelola mangrove juga dilakukan melalui penetapan 126 Desa Mandiri Peduli Mangrove serta pengesahan 44 peraturan desa sebagai dasar perlindungan ekosistem mangrove di tingkat lokal.
Upaya rehabilitasi mangrove menjadi sangat penting bagi wilayah pesisir seperti Desa Kuala Selat Kabupaten Indragiri Hilir, yang sebelumnya mengalami kerusakan lingkungan akibat abrasi dan intrusi air laut. Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 1.900 hektare kebun kelapa milik masyarakat mati, sehingga berdampak langsung terhadap sumber penghidupan warga.
Kepala Desa Kuala Selat Nurjaya mengatakan, abrasi yang terjadi di wilayahnya telah merusak kebun kelapa yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat desa. “Sebelum terdampak abrasi, pendapatan masyarakat dari kebun kelapa berkisar antara Rp15 juta hingga Rp50 juta setiap 2,5 sampai 3 bulan, tergantung luas lahan yang dimiliki,” katanya.
Menurut dia, rusaknya kebun kelapa akibat intrusi air laut telah mengubah kondisi sosial ekonomi masyarakat desa. “Rusaknya kebun kelapa ini banyak mengubah hidup kami. Kami kehilangan mata pencaharian, bahkan ada anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah,” ujarnya.
Lihat Juga :