Israel-Amerika Gempur Iran, Pengamat: Dampak Paling Cepat Akan Terasa di Pasar Energi
Sabtu, 28 Februari 2026 - 18:19 WIB
loading...
A
A
A
Lihat video: Israel Hantam Nuklir Iran, Sebabkan Petinggi Militer Gugur! Perang Dunia 3 Dimulai?
“Secara militer, tujuan operasi tampak jelas yakni melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dinilai mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama,” ujarnya.
Secara geopolitik, kata dia, serangan ini adalah bentuk pemaksaan terhadap Iran agar menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai lewat diplomasi.
“Sejarah menunjukkan tekanan militer eksternal sering kali memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya. Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran,” paparnya.
Dia menyebut, risiko terbesar bukanlah serangan pertama tetapi respons berikutnya. Iran memiliki spektrum balasan yang luas, rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.
“Jika kelompok seperti Hezbollah ikut terlibat, Israel akan menghadapi perang dua front. Jika pangkalan AS di Teluk diserang, Washington akan terdorong untuk memperluas operasi,” uapnya.
Selamat Ginting menyebut, konflik dapat berubah dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan Levant dan Teluk Persia secara simultan. Di sinilah kalkulasi militer menjadi sangat kompleks. Serangan cepat mungkin berhasil secara taktis, tetapi tanpa strategi keluar yang jelas, operasi bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.
“Secara militer, tujuan operasi tampak jelas yakni melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dinilai mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama,” ujarnya.
Secara geopolitik, kata dia, serangan ini adalah bentuk pemaksaan terhadap Iran agar menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai lewat diplomasi.
“Sejarah menunjukkan tekanan militer eksternal sering kali memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya. Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran,” paparnya.
Dia menyebut, risiko terbesar bukanlah serangan pertama tetapi respons berikutnya. Iran memiliki spektrum balasan yang luas, rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.
“Jika kelompok seperti Hezbollah ikut terlibat, Israel akan menghadapi perang dua front. Jika pangkalan AS di Teluk diserang, Washington akan terdorong untuk memperluas operasi,” uapnya.
Selamat Ginting menyebut, konflik dapat berubah dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan Levant dan Teluk Persia secara simultan. Di sinilah kalkulasi militer menjadi sangat kompleks. Serangan cepat mungkin berhasil secara taktis, tetapi tanpa strategi keluar yang jelas, operasi bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Lihat Juga :