Cegah Kecelakaan, Psikotes SIM Penting untuk Siapkan Mental Pengemudi di Jalan Raya
Jum'at, 20 Februari 2026 - 14:53 WIB
loading...
A
A
A
"Psikotes SIM pada dasarnya merupakan bentuk skrining preventif. Tujuannya untuk memastikan setiap pemegang SIM memiliki standar kesiapan mental minimal," katanya.
Pendekatan preventif ini penting karena keselamatan tidak bisa hanya bergantung pada penindakan setelah kecelakaan terjadi. Upaya pencegahan sejak awal jauh lebih efektif dan berdampak jangka panjang.
Dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahun di Indonesia, serta populasi pengemudi yang sangat besar, peningkatan aspek kesiapan mental menjadi semakin relevan.
Eka menambahkan, pelaksanaan psikotes melibatkan tenaga profesional di bidang psikologi karena asesmen ini memerlukan instrumen yang terstandar, sistem penilaian tujuan, serta kompetensi khusus.
"Standardisasi dan profesionalitas penting untuk menjaga kualitas hasil tes serta memastikan proses berjalan secara akuntabel," ujarnya.
Dalam tata kelola layanan publik, kolaborasi dengan tenaga profesional merupakan praktik yang umum dilakukan, selama tetap berada dalam koridor regulasi dan pengawasan yang jelas.
"Keselamatan lalu lintas tidak hanya bergantung pada aturan dan infrastruktur, tetapi juga pada kualitas individu di balik kemudi," paparnya.
Jika setiap pengemudi memiliki konsentrasi yang baik, respons yang cepat, serta emosi yang stabil dan empatik, maka risiko kecelakaan dapat ditekan secara signifikan. “Kalau kita ingin angka kecelakaan menurun, faktor manusia harus menjadi perhatian utama. Psikotes adalah salah satu langkah untuk memastikan kesiapan itu,” tegas Eka.
Keselamatan di jalan raya adalah tanggung jawab bersama. Psikotes SIM dapat dipandang sebagai bagian dari edukasi dan komitmen kolektif untuk membangun budaya berkendara yang lebih tertib, saling menghargai, dan peduli pada keselamatan. "Karena yang kita jaga di jalan bukan hanya kendaraan, tapi juga nyawa," katanya.
Pendekatan preventif ini penting karena keselamatan tidak bisa hanya bergantung pada penindakan setelah kecelakaan terjadi. Upaya pencegahan sejak awal jauh lebih efektif dan berdampak jangka panjang.
Dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahun di Indonesia, serta populasi pengemudi yang sangat besar, peningkatan aspek kesiapan mental menjadi semakin relevan.
Eka menambahkan, pelaksanaan psikotes melibatkan tenaga profesional di bidang psikologi karena asesmen ini memerlukan instrumen yang terstandar, sistem penilaian tujuan, serta kompetensi khusus.
"Standardisasi dan profesionalitas penting untuk menjaga kualitas hasil tes serta memastikan proses berjalan secara akuntabel," ujarnya.
Dalam tata kelola layanan publik, kolaborasi dengan tenaga profesional merupakan praktik yang umum dilakukan, selama tetap berada dalam koridor regulasi dan pengawasan yang jelas.
"Keselamatan lalu lintas tidak hanya bergantung pada aturan dan infrastruktur, tetapi juga pada kualitas individu di balik kemudi," paparnya.
Jika setiap pengemudi memiliki konsentrasi yang baik, respons yang cepat, serta emosi yang stabil dan empatik, maka risiko kecelakaan dapat ditekan secara signifikan. “Kalau kita ingin angka kecelakaan menurun, faktor manusia harus menjadi perhatian utama. Psikotes adalah salah satu langkah untuk memastikan kesiapan itu,” tegas Eka.
Keselamatan di jalan raya adalah tanggung jawab bersama. Psikotes SIM dapat dipandang sebagai bagian dari edukasi dan komitmen kolektif untuk membangun budaya berkendara yang lebih tertib, saling menghargai, dan peduli pada keselamatan. "Karena yang kita jaga di jalan bukan hanya kendaraan, tapi juga nyawa," katanya.
(shf)
Lihat Juga :