Survei Indekstat: Tingkat Kepuasan Publik kepada Prabowo-Gibran 79,2%
Kamis, 12 Februari 2026 - 19:07 WIB
loading...
A
A
A
Saiful juga merinci secara spesifik, kelompok pemilih paling loyal (strong voters) ditemukan pada pendukung PKS 78,5%, PDI Perjuangan 77,4%, dan Golkar 74,1%, sementara Gerindra dan Nasdem menyusul dengan tingkat kemantapan masing-masing sebesar 72,3% dan 72,2%.
Sementara itu, menyinggung potensi bursa pencapresan ke depan Saiful memaparkan Prabowo Subianto masih mendominasi bursa calon Presiden 2029 mendatang dengan elektabilitas secara tertutup 48,9%, diikuti oleh Dedi Mulyadi 16,9% dan Anies Baswedan 10,1%.
"Mayoritas pemilih calon Presiden 2029 (49,7%) menyatakan faktor persona dan kepribadian calon adalah pertimbangan utama mereka," ucapnya.
Sejumlah tokoh nasional hadir dalam pemaparan hasil survei yaitu Pakar Politik UGM Mada Sukmajati, Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif Deddy Sitorus.
Bendahara Dewan Eksekutif Badan Pengawas dan Disiplin DPP Partai Gerindra Mohamad Hekal serta Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra.
Mada Sukmajati menyampaikan terdapat peningkatan elektabilitas Partai Gerindra, namun tidak ada perubahan yang sangat signifikan hingga menuju 2029. Menurutnya, diskusi ini relevan dikaitkan dengan Prolegnas Pemilu, terutama dalam membaca arah sistem kepartaian ke depan.
Mada juga mempertanyakan apakah tren politik 2029 akan menyerupai pola kemenangan Partai Demokrat pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mada menilai bagi partai-partai lain mengejar ketertinggalan Gerindra bukanlah hal yang mudah. Namun demikian, arah ke depan sangat bergantung pada keputusan internal Gerindra, apakah akan terus meningkatkan elektabilitas dengan konsekuensi penataan ulang koalisi, atau justru menahan laju di kisaran sekitar 30%.
Menurut Mada, kekuatan tersebut lebih bersumber pada figur Prabowo Subianto dibandingkan institusi partai, sehingga akan sangat tergantung pada sejauh mana kepuasan internal Gerindra.
Mada menekankan pentingnya pengelolaan kontestasi politik ke depan. Mada mengingatkan dominasi kekuatan politik yang terlalu besar tidak pantas jika tidak dimanajemen dengan baik. Ia juga menilai bahwa beberapa narasi politik di tingkat DPRD sebelumnya justru tidak menguntungkan bagi Partai Gerindra. Dalam situasi ini, Mada mempertanyakan apakah partai-partai lain akan menyerah melihat dominasi Gerindra, atau justru memandangnya sebagai peluang politik.
Mada menambahkan, dari perspektif koalisi pemerintahan saat ini, manfaat kekuasaan paling besar dirasakan oleh Partai Gerindra, termasuk dibandingkan dengan partai-partai di luar pemerintahan. Hal ini memunculkan kemungkinan adanya redefinisi peran partai penyeimbang atau reposisi politik, khususnya oleh PDI Perjuangan. Ia juga menilai bahwa partai-partai di luar koalisi belum mampu membuat program alternatif mereka diterima publik.
Mada menilai secara nyata sistem kepartaian Indonesia pada 2029 berpotensi mengarah pada sistem partai hegemonik. Terkait perilaku pemilih, Mada menjelaskan bahwa meskipun partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 tergolong tinggi, hasilnya tidak menunjukkan kejutan besar.
Sementara itu, menyinggung potensi bursa pencapresan ke depan Saiful memaparkan Prabowo Subianto masih mendominasi bursa calon Presiden 2029 mendatang dengan elektabilitas secara tertutup 48,9%, diikuti oleh Dedi Mulyadi 16,9% dan Anies Baswedan 10,1%.
"Mayoritas pemilih calon Presiden 2029 (49,7%) menyatakan faktor persona dan kepribadian calon adalah pertimbangan utama mereka," ucapnya.
Sejumlah tokoh nasional hadir dalam pemaparan hasil survei yaitu Pakar Politik UGM Mada Sukmajati, Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif Deddy Sitorus.
Bendahara Dewan Eksekutif Badan Pengawas dan Disiplin DPP Partai Gerindra Mohamad Hekal serta Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra.
Mada Sukmajati menyampaikan terdapat peningkatan elektabilitas Partai Gerindra, namun tidak ada perubahan yang sangat signifikan hingga menuju 2029. Menurutnya, diskusi ini relevan dikaitkan dengan Prolegnas Pemilu, terutama dalam membaca arah sistem kepartaian ke depan.
Mada juga mempertanyakan apakah tren politik 2029 akan menyerupai pola kemenangan Partai Demokrat pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mada menilai bagi partai-partai lain mengejar ketertinggalan Gerindra bukanlah hal yang mudah. Namun demikian, arah ke depan sangat bergantung pada keputusan internal Gerindra, apakah akan terus meningkatkan elektabilitas dengan konsekuensi penataan ulang koalisi, atau justru menahan laju di kisaran sekitar 30%.
Menurut Mada, kekuatan tersebut lebih bersumber pada figur Prabowo Subianto dibandingkan institusi partai, sehingga akan sangat tergantung pada sejauh mana kepuasan internal Gerindra.
Mada menekankan pentingnya pengelolaan kontestasi politik ke depan. Mada mengingatkan dominasi kekuatan politik yang terlalu besar tidak pantas jika tidak dimanajemen dengan baik. Ia juga menilai bahwa beberapa narasi politik di tingkat DPRD sebelumnya justru tidak menguntungkan bagi Partai Gerindra. Dalam situasi ini, Mada mempertanyakan apakah partai-partai lain akan menyerah melihat dominasi Gerindra, atau justru memandangnya sebagai peluang politik.
Mada menambahkan, dari perspektif koalisi pemerintahan saat ini, manfaat kekuasaan paling besar dirasakan oleh Partai Gerindra, termasuk dibandingkan dengan partai-partai di luar pemerintahan. Hal ini memunculkan kemungkinan adanya redefinisi peran partai penyeimbang atau reposisi politik, khususnya oleh PDI Perjuangan. Ia juga menilai bahwa partai-partai di luar koalisi belum mampu membuat program alternatif mereka diterima publik.
Mada menilai secara nyata sistem kepartaian Indonesia pada 2029 berpotensi mengarah pada sistem partai hegemonik. Terkait perilaku pemilih, Mada menjelaskan bahwa meskipun partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 tergolong tinggi, hasilnya tidak menunjukkan kejutan besar.
Lihat Juga :