Indef: MBG Investasi Strategis Pembangunan Sumber Daya Manusia
Kamis, 12 Februari 2026 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Esther menjelaskan, dampak terhadap produktivitas tenaga kerja terjadi melalui dua jalur utama. “Pertama melalui kanal kesehatan, yang mulai terlihat sekitar dua tahun setelah implementasi, dan kedua melalui kanal pendidikan yang efeknya muncul sekitar enam tahun kemudian,” ujarnya.
Secara total, peningkatan produktivitas tenaga kerja dalam simulasi mencapai sekitar 0,7 persen pada tahun keenam.
Berdasarkan hasil model OG-IDN, Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat secara moderat dengan puncak kenaikan sekitar 0,15–0,17 persen pada awal 2040-an, saat kohort penerima MBG memasuki pasar kerja.
Namun, dalam jangka panjang, PDB kembali ke lintasan keseimbangan semula. Hal serupa terjadi pada stok modal dan investasi yang hanya meningkat pada fase awal transisi. “Efeknya tidak permanen pada level output, tetapi yang paling konsisten adalah peningkatan konsumsi rumah tangga dan kesejahteraan antargenerasi,” kata Esther.
Konsumsi rumah tangga tercatat meningkat sekitar 0,04–0,05 persen dalam jangka panjang, menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan lintas kohort. Dari sisi pasar tenaga kerja, simulasi menunjukkan adanya penurunan kecil dan sementara pada penawaran tenaga kerja, terutama di kelompok pendapatan terbawah. Namun besarnya kurang dari 0,06 persen dan dinilai tidak signifikan secara struktural.
“Ini lebih merupakan efek kesejahteraan, bukan disinsentif kerja. Ketika kondisi rumah tangga membaik, ada penyesuaian jam kerja, tetapi sangat kecil dan tidak mengganggu pasar tenaga kerja,” jelasnya.
Upah riil juga tidak menunjukkan perubahan struktural. Perbedaan antara skenario dengan dan tanpa MBG sangat tipis dan kembali konvergen dalam jangka panjang. Esther menegaskan, selama MBG dibiayai melalui realokasi anggaran dan bukan ekspansi defisit, keberlanjutan fiskal tetap terjaga.
Rasio utang terhadap PDB dalam simulasi tidak mengalami perubahan struktural dan tetap berada di kisaran sekitar 50 persen dalam jangka panjang. Rasio penerimaan pajak terhadap PDB maupun rasio belanja pemerintah terhadap PDB juga tidak menunjukkan pergeseran permanen.
“Desain fiskal netral adalah kunci. Jika pembiayaan dilakukan lewat utang baru, maka tentu implikasinya akan berbeda,” katanya. Esther menekankan, agar dampak MBG lebih optimal, pemerintah perlu mempersempit sasaran program, terutama pada kelompok usia dan wilayah dengan risiko gizi tertinggi.
Selain itu, MBG perlu diintegrasikan dengan kebijakan pendidikan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar peningkatan modal manusia benar-benar terkonversi menjadi produktivitas dan pendapatan yang lebih tinggi.
“MBG tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada sinergi dengan kebijakan pendidikan, vokasi, dan pasar kerja,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar evaluasi program tidak hanya berfokus pada serapan anggaran, melainkan pada indikator outcome dan impact jangka panjang seperti perbaikan status gizi, capaian pendidikan, dan produktivitas tenaga kerja.
“Ini investasi generasi. Hasilnya memang tidak instan, tetapi jika dikelola tepat sasaran dan konsisten, dampaknya akan terasa pada daya saing Indonesia ke depan,” kata Esther.
Secara total, peningkatan produktivitas tenaga kerja dalam simulasi mencapai sekitar 0,7 persen pada tahun keenam.
Berdasarkan hasil model OG-IDN, Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat secara moderat dengan puncak kenaikan sekitar 0,15–0,17 persen pada awal 2040-an, saat kohort penerima MBG memasuki pasar kerja.
Namun, dalam jangka panjang, PDB kembali ke lintasan keseimbangan semula. Hal serupa terjadi pada stok modal dan investasi yang hanya meningkat pada fase awal transisi. “Efeknya tidak permanen pada level output, tetapi yang paling konsisten adalah peningkatan konsumsi rumah tangga dan kesejahteraan antargenerasi,” kata Esther.
Konsumsi rumah tangga tercatat meningkat sekitar 0,04–0,05 persen dalam jangka panjang, menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan lintas kohort. Dari sisi pasar tenaga kerja, simulasi menunjukkan adanya penurunan kecil dan sementara pada penawaran tenaga kerja, terutama di kelompok pendapatan terbawah. Namun besarnya kurang dari 0,06 persen dan dinilai tidak signifikan secara struktural.
“Ini lebih merupakan efek kesejahteraan, bukan disinsentif kerja. Ketika kondisi rumah tangga membaik, ada penyesuaian jam kerja, tetapi sangat kecil dan tidak mengganggu pasar tenaga kerja,” jelasnya.
Upah riil juga tidak menunjukkan perubahan struktural. Perbedaan antara skenario dengan dan tanpa MBG sangat tipis dan kembali konvergen dalam jangka panjang. Esther menegaskan, selama MBG dibiayai melalui realokasi anggaran dan bukan ekspansi defisit, keberlanjutan fiskal tetap terjaga.
Rasio utang terhadap PDB dalam simulasi tidak mengalami perubahan struktural dan tetap berada di kisaran sekitar 50 persen dalam jangka panjang. Rasio penerimaan pajak terhadap PDB maupun rasio belanja pemerintah terhadap PDB juga tidak menunjukkan pergeseran permanen.
“Desain fiskal netral adalah kunci. Jika pembiayaan dilakukan lewat utang baru, maka tentu implikasinya akan berbeda,” katanya. Esther menekankan, agar dampak MBG lebih optimal, pemerintah perlu mempersempit sasaran program, terutama pada kelompok usia dan wilayah dengan risiko gizi tertinggi.
Selain itu, MBG perlu diintegrasikan dengan kebijakan pendidikan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar peningkatan modal manusia benar-benar terkonversi menjadi produktivitas dan pendapatan yang lebih tinggi.
“MBG tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada sinergi dengan kebijakan pendidikan, vokasi, dan pasar kerja,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar evaluasi program tidak hanya berfokus pada serapan anggaran, melainkan pada indikator outcome dan impact jangka panjang seperti perbaikan status gizi, capaian pendidikan, dan produktivitas tenaga kerja.
“Ini investasi generasi. Hasilnya memang tidak instan, tetapi jika dikelola tepat sasaran dan konsisten, dampaknya akan terasa pada daya saing Indonesia ke depan,” kata Esther.
Lihat Juga :