KH Imam Jazuli Ungkap Tantangan dan Tranformasi NU di Abad Kedua
Rabu, 11 Februari 2026 - 22:53 WIB
loading...
A
A
A
“NU mendatang perlu menjadikan isu kesehatan dan penguatan jaring pengaman sosial sebagai target utama, seperti membangun klinik NU minimal di setiap kecamatan, serta memastikan pengawalan program BPJS bagi warga miskin, sebagai prioritas utama,” ucapnya.
“Lebih jauh, struktur ekonomi jamaah yang masih lemah membuat NU rentan terhadap polarisasi. Kemandirian NU bukan lagi wacana, melainkan keharusan untuk memberdayakan ekonomi melalui digitalisasi UMKM. Jika tidak, sarung yang menjadi simbol kebersahajaan berisiko tertinggal oleh laju teknologi yang serba cepat,” tambahnya.
Adapun wacana tentang Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban tidak boleh terlalu melambung ke langit, tapi perlu menyentuh bumi, dengan kontekstualisasi dan internalisasi di tengah kebutuhan umat, juga harus diterjemahkan ke dalam program-program konkret yang menyentuh kebutuhan riil nahdliyin di akar rumput.
“NU di abad kedua membutuhkan keberanian untuk berinovasi, beradaptasi, dan kembali fokus pada pemberdayaan umat demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab. Tradisi harus dipertahankan, namun visi misi harus diperbarui,” harapnya.
Oleh karena itu, menurutnya kaidah al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah tidak cukup hanya memelihara tradisi lama yang baik, tetapi juga harus mengambil inovasi baru yang lebih baik.
Prinsip ini berarti perlu menyeimbangkan pelestarian warisan (akidah/amaliyah) dengan kemajuan modernisasi (Iptek), dan inilah yang nanti akan menjadikan NU terus eksis dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Kiai Imam Jazuli menegaskan, abad kedua adalah era di mana NU diuji untuk menjadi pelayan umat dan teladan moral yang tidak hanya menyentuh aspek ukhrawi, tetapi juga menjawab permasalahan duniawi— politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan literasi digital—tanpa kehilangan jati diri dan dan tetap menjaga independensi ketika berelasi dengan politik kekuasaan.
"Itu semua di antara tantangan yang dihadapi dan harus menjadi program prioritas PBNU mendatang, siapa pun nahkodanya,” ucapnya.
“Lebih jauh, struktur ekonomi jamaah yang masih lemah membuat NU rentan terhadap polarisasi. Kemandirian NU bukan lagi wacana, melainkan keharusan untuk memberdayakan ekonomi melalui digitalisasi UMKM. Jika tidak, sarung yang menjadi simbol kebersahajaan berisiko tertinggal oleh laju teknologi yang serba cepat,” tambahnya.
Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban
Adapun wacana tentang Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban tidak boleh terlalu melambung ke langit, tapi perlu menyentuh bumi, dengan kontekstualisasi dan internalisasi di tengah kebutuhan umat, juga harus diterjemahkan ke dalam program-program konkret yang menyentuh kebutuhan riil nahdliyin di akar rumput.
“NU di abad kedua membutuhkan keberanian untuk berinovasi, beradaptasi, dan kembali fokus pada pemberdayaan umat demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab. Tradisi harus dipertahankan, namun visi misi harus diperbarui,” harapnya.
Oleh karena itu, menurutnya kaidah al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah tidak cukup hanya memelihara tradisi lama yang baik, tetapi juga harus mengambil inovasi baru yang lebih baik.
Prinsip ini berarti perlu menyeimbangkan pelestarian warisan (akidah/amaliyah) dengan kemajuan modernisasi (Iptek), dan inilah yang nanti akan menjadikan NU terus eksis dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Kiai Imam Jazuli menegaskan, abad kedua adalah era di mana NU diuji untuk menjadi pelayan umat dan teladan moral yang tidak hanya menyentuh aspek ukhrawi, tetapi juga menjawab permasalahan duniawi— politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan literasi digital—tanpa kehilangan jati diri dan dan tetap menjaga independensi ketika berelasi dengan politik kekuasaan.
"Itu semua di antara tantangan yang dihadapi dan harus menjadi program prioritas PBNU mendatang, siapa pun nahkodanya,” ucapnya.
(shf)
Lihat Juga :