Jebakan Pertumbuhan 5 Persen
Selasa, 10 Februari 2026 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Risiko perekonomian nasional semakin berat karena lembaga pemeringkat internasional, seperti Moody’s menurunkan outlook perekonomian Indonesia dari stable menjadi negatif. Meskipun masih dalam kategori investment grade (layak investasi).
Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia semakin tinggi karena Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) sebagai penyedia indeks harga saham menunda review terhadap saham-saham Indonesia. Lebih jauh, terdapat tekanan penurunan peringkat pasar saham menjadi “frontier market”.
Penurunan outlook perekonomian nasional oleh Moody’s salah satunya disebabkan oleh ketidakpastian arah kebijakan makro ekonomi nasional, khususnya dari sisi kebijakan fiskal dan moneter.
Hal yang paling mengkhawatirkan investor global adalah tata kelola anggaran yang tidak pruden, tidak berhati-hati. Hingga saat ini, difisit fiskal mencapai 2,92 persen dari Gross Domestic Product (GDP) dan kemampuan membayar utang yang tercermin pada Debt Service Ratio (DSR) lebih besar 30 persen sebagai batas aman kemampuan membayar utang. Hampir setengah dari pendapatan negara digunakan untuk membayar cicilan utang dan bunganya.
Fenomena “5 percent growth trap” semakin mengkhawatirkan karena tingginya inefisiensi perekonomian nasional. Hal ini tercermin pada Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang sangat tinggi sekitar 6,25 – 6,50 persen. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata ICOR negara-negara ASEAN dan India sekitar 3,5 – 4,0 persen.
Jika perekonomian Indonesia tidak bisa segera keluar dari “5 percent growth trap” maka pada tahun 2030, GDP riil hanya akan mencapai 1,871 trilyun dolar AS dan maksimum 3,889 trilyun dolar AS tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada data Trading Economics tahun 2024, GDP Indonesia sekitar 1,396 trilyun dolar AS.
Pada saat yang sama, jika GDP per kapita Indonesia sebesar 4.924,510 dolar AS tahun 2024 maka dengan pertumbuhan rata-rata 5,0 persen per tahun, maka pendapatan per kapita Indonesia hanya 6.034,574 dolar AS tahun 2030 dan maksimum 12.003,715 dolar AS tahun 2045. Masih jauh dari GDP riil dan GDP per kapita negara maju.
Lalu, apa langkah pemerintahan Prabowo Subianto agar segera keluar dari “5 percent growth trap”? Apa mitigasi risiko atas ketidakpastian global dan risiko fiskal sehingga tidak mengganggu agenda jangka panjang, menuju status negara maju tahun 2045? Bagaimana dalam 20 tahun ke depan, GDP riil menjadi 7,3 trilyun dolar AS dan GDP per kapita sebesar 25.000 dolar AS?
Terdapat dua langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk keluar dari “5 percent growth trap”, sekaligus memitigasi risiko ketidakpastian global dan risko fiskal, yaitu: langkah pertama, menurunkan angka ICOR dari 6,3 saat ini menjadi 4,5 tahun 2030 dan 3,0 tahun 2045.
Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia semakin tinggi karena Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) sebagai penyedia indeks harga saham menunda review terhadap saham-saham Indonesia. Lebih jauh, terdapat tekanan penurunan peringkat pasar saham menjadi “frontier market”.
Penurunan outlook perekonomian nasional oleh Moody’s salah satunya disebabkan oleh ketidakpastian arah kebijakan makro ekonomi nasional, khususnya dari sisi kebijakan fiskal dan moneter.
Hal yang paling mengkhawatirkan investor global adalah tata kelola anggaran yang tidak pruden, tidak berhati-hati. Hingga saat ini, difisit fiskal mencapai 2,92 persen dari Gross Domestic Product (GDP) dan kemampuan membayar utang yang tercermin pada Debt Service Ratio (DSR) lebih besar 30 persen sebagai batas aman kemampuan membayar utang. Hampir setengah dari pendapatan negara digunakan untuk membayar cicilan utang dan bunganya.
Fenomena “5 percent growth trap” semakin mengkhawatirkan karena tingginya inefisiensi perekonomian nasional. Hal ini tercermin pada Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang sangat tinggi sekitar 6,25 – 6,50 persen. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata ICOR negara-negara ASEAN dan India sekitar 3,5 – 4,0 persen.
Jika perekonomian Indonesia tidak bisa segera keluar dari “5 percent growth trap” maka pada tahun 2030, GDP riil hanya akan mencapai 1,871 trilyun dolar AS dan maksimum 3,889 trilyun dolar AS tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada data Trading Economics tahun 2024, GDP Indonesia sekitar 1,396 trilyun dolar AS.
Pada saat yang sama, jika GDP per kapita Indonesia sebesar 4.924,510 dolar AS tahun 2024 maka dengan pertumbuhan rata-rata 5,0 persen per tahun, maka pendapatan per kapita Indonesia hanya 6.034,574 dolar AS tahun 2030 dan maksimum 12.003,715 dolar AS tahun 2045. Masih jauh dari GDP riil dan GDP per kapita negara maju.
Lalu, apa langkah pemerintahan Prabowo Subianto agar segera keluar dari “5 percent growth trap”? Apa mitigasi risiko atas ketidakpastian global dan risiko fiskal sehingga tidak mengganggu agenda jangka panjang, menuju status negara maju tahun 2045? Bagaimana dalam 20 tahun ke depan, GDP riil menjadi 7,3 trilyun dolar AS dan GDP per kapita sebesar 25.000 dolar AS?
Terdapat dua langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk keluar dari “5 percent growth trap”, sekaligus memitigasi risiko ketidakpastian global dan risko fiskal, yaitu: langkah pertama, menurunkan angka ICOR dari 6,3 saat ini menjadi 4,5 tahun 2030 dan 3,0 tahun 2045.
Lihat Juga :