Etika dalam Pengabdian: Membangun Kepercayaan dan Kerja Sama dengan Masyarakat

Jum'at, 06 Februari 2026 - 15:18 WIB
loading...
A A A
Di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, “mengapa” ini dirumuskan dalam Panca Jiwa: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Lima nilai ini bukan sekadar slogan. Ia adalah jawaban atas pertanyaan mengapa pesantren ini ada.

Pilihan yang Menentukan


Arvan Pradiansyah, dalam bukunya You Are A Leader, mengingatkan bahwa setiap orang sejatinya adalah pemimpin. Kata kuncinya adalah choice—pilihan. Begitu seseorang sadar bahwa ia punya pilihan, saat itu juga ia berubah dari korban menjadi pemimpin, dari objek menjadi subjek.
Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, prinsip ini sangat relevan. Lembaga pendidikan Islam selalu punya pilihan: menjadi menara gading yang berjarak dari masyarakat, atau menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.

Keikhlasan dalam Panca Jiwa Darunnajah adalah tentang pilihan ini. Mengabdi dengan niat tulus, tanpa mengharapkan imbalan, itu pilihan. Masyarakat bisa merasakan perbedaan antara pengabdian yang tulus dan yang sekadar pencitraan. Yang pertama membangun kepercayaan; yang kedua justru menimbulkan kecurigaan.

KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Gontor, pernah berkata bahwa pesantren harus menjadi “pelayan umat, bukan tuan atas umat.” Pernyataan ini adalah pilihan. Dan dari pilihan itulah lahir tradisi kemandirian yang menjadi ciri khas pesantren modern.

Jendela yang Berbeda


Dalam Life Is Beautiful, Arvan Pradiansyah bercerita tentang seorang nenek yang selalu menangis, saat hujan maupun panas. Ia punya dua anak: yang satu menjual es, yang satu menjual payung. Saat hujan, ia khawatir es anaknya tidak laku. Saat panas, ia khawatir payung anaknya tidak terjual.

Seorang bijak memberinya nasihat sederhana: “Coba pikirkan sebaliknya. Saat hujan, pikirkan anak perempuanmu, payungnya pasti laku. Saat panas, pikirkan anak lelakinya, esnya pasti laris.” Sejak itu, sang nenek tidak pernah menangis lagi.

Cerita ini mengajarkan satu hal penting: keindahan bukan terletak pada situasi itu sendiri, melainkan pada jendela yang kita gunakan untuk melihatnya.

Dalam hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat, jendela ini menentukan segalanya. Jika kita melihat masyarakat sebagai “objek dakwah” yang perlu dicerahkan, kita akan datang dengan sikap menggurui. Tapi jika kita melihat masyarakat sebagai mitra yang setara, kita akan datang dengan sikap belajar bersama.

Darunnajah memilih jendela yang kedua. Melalui jaringan 23 cabang pesantren dan satu universitas mereka tidak sekadar “membina” masyarakat tapi mereka berkolaborasi. Tokoh masyarakat, pemerintah dilibatkan dalam perencanaan program. Dialog dengan warga dibuka selebar-lebarnya. Transparansi menjadi prinsip, bukan sekadar slogan.

Lingkaran Kepercayaan


Simon Sinek menyebut konsep Circle of Safety—lingkaran keamanan yang dibangun pemimpin untuk melindungi anggotanya. Ketika orang merasa aman, mereka akan saling percaya dan melindungi satu sama lain.

Dalam tradisi pesantren, lingkaran ini disebut ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang melampaui sekat-sekat sosial. Santri dari keluarga kaya tidur di kamar yang sama dengan santri dari keluarga sederhana. Tidak ada perlakuan istimewa. Semua setara di hadapan ilmu.

Ketika prinsip ini diterapkan dalam hubungan dengan masyarakat, sesuatu yang ajaib terjadi. Masyarakat tidak lagi melihat pesantren sebagai “institusi di sana”—melainkan sebagai bagian dari “kita.” Ketika pesantren membutuhkan bantuan, masyarakat dengan sukarela hadir. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan, pesantren menjadi tempat berlindung pertama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
Tangis Celine Evangelista...
Tangis Celine Evangelista saat Antar Jemima Guri ke Pesantren
Kemenag Cabut Izin Pesantren...
Kemenag Cabut Izin Pesantren Ibadurrahman Buntut Kasus Kekerasan Seksual
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
Rekomendasi
Kehancuran Israel Bukan...
Kehancuran Israel Bukan dari Musuh Asing! Mayoritas Warga Zionis Takut Terjadi Perang Saudara
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
Revolusi Islam di Iran...
Revolusi Islam di Iran Akan Terus Berlanjut, Ini 3 Indikasi Utamanya
Berita Terkini
12 Akademisi Serahkan...
12 Akademisi Serahkan Dokumen Amicus Curiae ke MK, Sebut Bank Tanah Solusi Kebuntuan Agraria
Andalkan Jokowi, PSI...
Andalkan Jokowi, PSI Diprediksi Sulit Jadikan Jateng Kandang Gajah
Menko Pangan Minta Sektor...
Menko Pangan Minta Sektor Lain Tiru Kemenhut dalam Perdagangan Karbon
Anak Indonesia Habiskan...
Anak Indonesia Habiskan Rp4,5 Triliun untuk Membeli Rokok
Calon Manajer Kopdes...
Calon Manajer Kopdes Tak Lagi Latihan Militer, Qodari: Pemerintah Tidak Menutup Mata
Nasib Gugatan Praperadilan...
Nasib Gugatan Praperadilan Roy Suryo terkait Penggeledahan Diputuskan Hari Ini, Berikut 11 Tuntutannya
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved