Jelang Muktamar ke-35 NU, Pengasuh Pesantren Lirboyo Figur Kompeten Jadi Rais Aam PBNU
Kamis, 05 Februari 2026 - 17:04 WIB
loading...
A
A
A
"Beliau tidak hanya menghafal teks, tetapi memahami illat atau alasan logis di balik teks tersebut. Kapasitas aliman atau berilmu luas ini menjamin setiap kebijakan besar PBNU nantinya memiliki landasan teologis yang kokoh," ungkapnya.
Lihat video: Duduki Kursi Ketum PBNU Lagi, Gus Yahya Angkat Bicara
Kedua, integritas moral atau zahidan di tengah arus materialisme. Menurut Kiai Imam, tantangan terbesar pemimpin organisasi besar seperti NU adalah tarikan kepentingan duniawi. Di sinilah atribut Zuhud atau kesalehan asketik Kiai Kafabihi menjadi pembeda. Kiai Kafabihi dikenal sebagai pribadi yang selesai dengan dirinya sendiri. Sikap zahidan bukan berarti menjauhi dunia, melainkan tidak membiarkan dunia mengendalikan hatinya.
"Dalam konteks PBNU, ini adalah benteng integritas. Seorang Rais Aam yang zahid akan menjaga marwah organisasi agar tidak terseret dalam pragmatisme politik pendek atau kepentingan transaksional, menjaga NU tetap pada khittah pengabdian umat," ujarnya.
Ketiga, Lirboyo sebagai episentrum kultural dan structural. Memahami NU, tidak bisa dilepaskan dari memahami pesantren, dan membicarakan pesantren di Indonesia mustahil tanpa menyebut Lirboyo. Lirboyo adalah pabrik pencetak ulama. Ribuan alumni yang tersebar di seluruh pelosok negeri merupakan grassroot yang solid. Memilih Kiai Kafabihi berarti menyambungkan kembali kabel struktural PBNU dengan basis kultural paling organik di Indonesia.
"Lirboyo seringkali menjadi titik temu bagi berbagai faksi di NU. Kepemimpinan Kiai Kafabihi akan berfungsi sebagai pemersatu (integrator) yang mampu mencairkan ketegangan antar faksi karena wibawa kediaman (Lirboyo) yang diakui secara universal oleh warga nahdliyin," kata Kiai Imam.
Keempat, visi strategis memahami internal dan eksternal NU. Menurutnya, Kiai Kafabihi bukan tipikal ulama yang hanya mengurung diri di dalam kitab. Dia memiliki kepekaan sosiologis yang tajam. Kiai Kafabihi juga sangat memahami anatomi organisasi NU, dari dinamika syuriah-tanfidziyah hingga psikologi kaum santri.
Lihat video: Duduki Kursi Ketum PBNU Lagi, Gus Yahya Angkat Bicara
Kedua, integritas moral atau zahidan di tengah arus materialisme. Menurut Kiai Imam, tantangan terbesar pemimpin organisasi besar seperti NU adalah tarikan kepentingan duniawi. Di sinilah atribut Zuhud atau kesalehan asketik Kiai Kafabihi menjadi pembeda. Kiai Kafabihi dikenal sebagai pribadi yang selesai dengan dirinya sendiri. Sikap zahidan bukan berarti menjauhi dunia, melainkan tidak membiarkan dunia mengendalikan hatinya.
"Dalam konteks PBNU, ini adalah benteng integritas. Seorang Rais Aam yang zahid akan menjaga marwah organisasi agar tidak terseret dalam pragmatisme politik pendek atau kepentingan transaksional, menjaga NU tetap pada khittah pengabdian umat," ujarnya.
Ketiga, Lirboyo sebagai episentrum kultural dan structural. Memahami NU, tidak bisa dilepaskan dari memahami pesantren, dan membicarakan pesantren di Indonesia mustahil tanpa menyebut Lirboyo. Lirboyo adalah pabrik pencetak ulama. Ribuan alumni yang tersebar di seluruh pelosok negeri merupakan grassroot yang solid. Memilih Kiai Kafabihi berarti menyambungkan kembali kabel struktural PBNU dengan basis kultural paling organik di Indonesia.
"Lirboyo seringkali menjadi titik temu bagi berbagai faksi di NU. Kepemimpinan Kiai Kafabihi akan berfungsi sebagai pemersatu (integrator) yang mampu mencairkan ketegangan antar faksi karena wibawa kediaman (Lirboyo) yang diakui secara universal oleh warga nahdliyin," kata Kiai Imam.
Keempat, visi strategis memahami internal dan eksternal NU. Menurutnya, Kiai Kafabihi bukan tipikal ulama yang hanya mengurung diri di dalam kitab. Dia memiliki kepekaan sosiologis yang tajam. Kiai Kafabihi juga sangat memahami anatomi organisasi NU, dari dinamika syuriah-tanfidziyah hingga psikologi kaum santri.
Lihat Juga :