Pakar Gizi: MBG dan Pendidikan Saling Menguatkan untuk Bangun SDM Unggul
Kamis, 29 Januari 2026 - 20:34 WIB
loading...
A
A
A
Anak dengan status gizi baik memiliki kesiapan fisik dan kognitif yang lebih optimal untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
“Jika dilihat dari tujuan dan dampaknya, program MBG tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan, justru saling memperkuat. Keduanya bertujuan mengoptimalkan kapasitas individu agar mampu belajar secara optimal dan hidup mandiri di masa depan,” ujarnya.
Ia menyoroti pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini disebut sebagai masa emas perkembangan otak, di mana gizi berperan dalam pembentukan struktur dan fungsi otak, termasuk perkembangan sel saraf dan koneksi antarneuron.
“Kekurangan gizi pada 1.000 HPK berkaitan dengan rendahnya kemampuan kognitif dan perkembangan motorik saat anak memasuki usia sekolah,” jelasnya.
Berbagai penelitian, lanjut Leni, menunjukkan anak yang mengalami kekurangan gizi cenderung memiliki konsentrasi belajar yang rendah dan prestasi akademik yang tidak optimal.
Leni juga mengingatkan bahwa gizi buruk dan stunting merupakan masalah gizi kronis yang terjadi akibat kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang dan infeksi berulang, terutama pada periode awal kehidupan. Kondisi ini sangat krusial jika terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, yang merupakan fase penting pertumbuhan otak.
“Gangguan gizi pada masa ini dapat menimbulkan hambatan perkembangan otak yang bersifat permanen. Dampaknya bukan hanya kesehatan, tetapi juga kemampuan kognitif dan kemampuan belajar anak,” ujarnya. Dia menekankan bahwa pencegahan stunting jauh lebih penting dibandingkan upaya kuratif, karena dampak jangka panjangnya sulit diperbaiki.
Leni mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan anak dengan stunting memiliki skor IQ sekitar 11 poin lebih rendah dibandingkan anak dengan status gizi normal. Kondisi ini berimplikasi langsung pada prestasi belajar, kesiapan sekolah, dan kualitas hasil pendidikan.
“Jika masalah gizi buruk dan stunting tidak ditangani secara serius, ini bisa mengganggu sistem pendidikan nasional karena kemampuan belajar peserta didik menjadi lebih rendah, sehingga menghambat peningkatan kualitas SDM secara keseluruhan,” katanya.
“Jika dilihat dari tujuan dan dampaknya, program MBG tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan, justru saling memperkuat. Keduanya bertujuan mengoptimalkan kapasitas individu agar mampu belajar secara optimal dan hidup mandiri di masa depan,” ujarnya.
Ia menyoroti pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini disebut sebagai masa emas perkembangan otak, di mana gizi berperan dalam pembentukan struktur dan fungsi otak, termasuk perkembangan sel saraf dan koneksi antarneuron.
“Kekurangan gizi pada 1.000 HPK berkaitan dengan rendahnya kemampuan kognitif dan perkembangan motorik saat anak memasuki usia sekolah,” jelasnya.
Berbagai penelitian, lanjut Leni, menunjukkan anak yang mengalami kekurangan gizi cenderung memiliki konsentrasi belajar yang rendah dan prestasi akademik yang tidak optimal.
Leni juga mengingatkan bahwa gizi buruk dan stunting merupakan masalah gizi kronis yang terjadi akibat kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang dan infeksi berulang, terutama pada periode awal kehidupan. Kondisi ini sangat krusial jika terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, yang merupakan fase penting pertumbuhan otak.
“Gangguan gizi pada masa ini dapat menimbulkan hambatan perkembangan otak yang bersifat permanen. Dampaknya bukan hanya kesehatan, tetapi juga kemampuan kognitif dan kemampuan belajar anak,” ujarnya. Dia menekankan bahwa pencegahan stunting jauh lebih penting dibandingkan upaya kuratif, karena dampak jangka panjangnya sulit diperbaiki.
Leni mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan anak dengan stunting memiliki skor IQ sekitar 11 poin lebih rendah dibandingkan anak dengan status gizi normal. Kondisi ini berimplikasi langsung pada prestasi belajar, kesiapan sekolah, dan kualitas hasil pendidikan.
“Jika masalah gizi buruk dan stunting tidak ditangani secara serius, ini bisa mengganggu sistem pendidikan nasional karena kemampuan belajar peserta didik menjadi lebih rendah, sehingga menghambat peningkatan kualitas SDM secara keseluruhan,” katanya.
Lihat Juga :