Pesantren Tanpa Unit Usaha: Menjaga Keikhlasan, Menjamin Keberlanjutan
Senin, 26 Januari 2026 - 18:40 WIB
loading...
A
A
A
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. an-Nisa: 58)
Mengelola wakaf dan unit usaha pesantren tanpa tata kelola yang baik justru bertentangan dengan prinsip amanah tersebut.
Unit usaha tidak akan merusak marwah pesantren selama ia ditempatkan sebagai pelayan misi, bukan penguasa visi. Keuntungan bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan untuk menjaga mutu pendidikan, memuliakan guru, dan memberdayakan santri.
Pesantren tanpa unit usaha mungkin masih bisa bertahan hari ini. Namun tanpa kemandirian ekonomi, pesantren akan terus berada dalam posisi rapuh dan bergantung kepadaa pihak luar. Tantangan zaman menuntut pesantren untuk naik kelas dengan tetap tawadhu’, tetap ikhlas, tetapi berani mandiri.
Karena menjaga keberlanjutan pesantren, pada akhirnya, adalah bagian dari menjaga agama dan masa depan umat.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. an-Nisa: 58)
Mengelola wakaf dan unit usaha pesantren tanpa tata kelola yang baik justru bertentangan dengan prinsip amanah tersebut.
Unit usaha tidak akan merusak marwah pesantren selama ia ditempatkan sebagai pelayan misi, bukan penguasa visi. Keuntungan bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan untuk menjaga mutu pendidikan, memuliakan guru, dan memberdayakan santri.
Pesantren tanpa unit usaha mungkin masih bisa bertahan hari ini. Namun tanpa kemandirian ekonomi, pesantren akan terus berada dalam posisi rapuh dan bergantung kepadaa pihak luar. Tantangan zaman menuntut pesantren untuk naik kelas dengan tetap tawadhu’, tetap ikhlas, tetapi berani mandiri.
Karena menjaga keberlanjutan pesantren, pada akhirnya, adalah bagian dari menjaga agama dan masa depan umat.
(nnz)
Lihat Juga :