Mewaspadai Gelombang Kedua Korona

Kamis, 17 September 2020 - 06:57 WIB
loading...
A A A
Kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejatinya merupakan langkah tepat untuk kembali menata kedisplinan masyarakat. Banyak pihak yang memberikan dukungan terhadap kebijakan tersebut. Termasuk kalangan dunia usaha, meskipun tidak dilakukan secara vulgar. Kalangan dunia usaha menilai, kunci meningkatkan pertumbuhan ekonomi, adalah penanganan pandemi Covid-19 yang tepat. Selama belum bisa dituntaskan, perekonomian nasional dibayangi kondisi yang menghambat.

Meskipun pemerintah telah memberikan fasilitas hotel untuk isolasi mandiri bagi masyarakat yang terpapar korona tanpa gejala, namun yang paling dibutuhkan adalah ketersediaan ruang perawatan bagi masyarakat yang terpapar korona dengan gejala. Karena fasilitas hotel sangat berbeda dengan fasilitas rumah sakit.

Apa yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta dengan kembali menerapkan PSBB harus dimaknai sebagai ikhtiar untuk menekan jumlah masyarakat yang terpapar virus mematikan tersebut. Sayangnya ikhtiar tersebut dicederai dengan narasi-narasi politis yang tendensius. Tidak saja dilakukan oleh para buzzer, selebritas melalui platform media sosial tetapi juga oleh kepala daerah. Bahkan media massa pun justru ada yang “menentang” langkah mulia tersebut dengan mendengungkan diksi yang sama sekali tidak pernah terucap oleh Gubernur DKI Jakarta yakni diksi PSBB Total yang kemudian menimbulkan gejolak di masyarakat.

Yang harus dilakukan saat ini yakni menghadapi pandemi ini dengan gotong royong dan saling mendukung. Bukan lagi pada persoalan berebut simpati di masyarakat dengan narasi-narasi yang justru menjerumuskan masyarakat ke dalam bencana lebih dalam lagi.

Sejak pandemi Covid melanda Tanah Air pada Maret 2020 silam, masyarakat sudah dijejali dengan informasi-informasi tidak akurat semisal, yang terpapar korona bisa sembuh sendiri tanpa dirawat, atau asalkan imunitas baik, maka virus korona tidak akan berkembang di dalam tubuh seseorang.

Narasi yang salah kaprah tersebut sudah terlanjur ditelan mentah-mentah oleh masyarakat, sehingga masyarakat merasa asalkan imunitas baik maka terbebas dari korona. Padahal imunitas adalah sesuatu yang absurd dan tidak ada alat ukur terhadap imunitas seseorang. Ambil contoh para pemain sepak bola dunia yang terpapar corona, juga atlet di dalam negeri yang juga terpapar korona, padahal para atlet dinilai sebagai sosok yang memiliki imunitas di atas rata-rata masyarakat biasa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Rudy Poa Kembali Kibarkan...
Rudy Poa Kembali Kibarkan Merah Putih di Asia Cross Country Rally 2026, Delapan Kali Tampil Membela Indonesia
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
Sinopsis The Value of...
Sinopsis The Value of Patience: Perjuangan Alex Mengejar Cinta dan Masa Depan
Berita Terkini
Prabowo Singgung Londo...
Prabowo Singgung Londo Ireng: Sekarang Pakai Baju Wartawan, Pengamat, hingga LSM
Dokter Tifa Sudah Siapkan...
Dokter Tifa Sudah Siapkan 2.000 Pertanyaan untuk Jokowi jika Sidang Berlanjut
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Eksepsi Dokter Tifa...
Eksepsi Dokter Tifa Dikabulkan Hakim, Pengacara Jokowi Tawarkan Restorative Justice
Puluhan Organisasi Tolak...
Puluhan Organisasi Tolak Penerapan PP No 28/2024 Tentang Kesehatan
Sebut Ada 3 Kancil Politik...
Sebut Ada 3 Kancil Politik Indonesia, Prabowo: Kalau Berkumpul, Bahaya
Infografis
15 PTN Masih Buka Jalur...
15 PTN Masih Buka Jalur Mandiri 2025, Kesempatan Kedua yang Gagal SNBT
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved