Asta Cita Prabowo Jadikan Kampung Nelayan dan Teknologi Maritim Pilar Ketahanan Pangan Nasional
Senin, 12 Januari 2026 - 08:54 WIB
loading...
A
A
A
“Peran KKP sangat krusial. Pengadaan teknologi maritim harus benar-benar menjangkau kampung nelayan agar nelayan kecil mampu meningkatkan produktivitas, keselamatan, dan nilai tambah hasil tangkapan,” jelasnya.
Menurutnya, pemanfaatan data hidro-oseanografi yang akurat dan berkelanjutan merupakan kunci utama modernisasi sektor perikanan laut. Karena itu, ia menekankan pentingnya memaksimalkan peran Pushidrosal TNI AL dalam penyediaan peta laut dan data oseanografi yang terintegrasi dengan kebijakan pembangunan perikanan nasional.
“Data oseanografi bukan hanya untuk keselamatan pelayaran, tetapi juga menentukan efisiensi penangkapan ikan, perencanaan wilayah tangkap, dan adaptasi nelayan terhadap perubahan iklim laut,” kata Ketua Umum KASAI ini.
Besarnya peran laut tercermin dari data perdagangan nasional. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 volume barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik mencapai sekitar 44,6 juta ton, menegaskan bahwa laut merupakan urat nadi utama logistik dan perdagangan Indonesia.
Di sektor perikanan, data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, sepanjang 2024 nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai sekitar US$ 3,7 miliar, dengan impor sekitar US$ 300 juta, sehingga mencatat surplus neraca perdagangan perikanan lebih dari US$ 3 miliar.
Capaian ini menunjukkan bahwa penguatan sektor perikanan laut sejalan dengan visi Astacita Presiden Prabowo dalam membangun kemandirian ekonomi nasional. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor kelautan dan perikanan menyentuh langsung kehidupan masyarakat pesisir.
Berdasarkan data BPS dan KKP, jumlah nelayan aktif di Indonesia berada pada kisaran 2,4 hingga 3 juta orang, mayoritas merupakan nelayan kecil. Selain itu, Indonesia memiliki lebih dari 1,1 juta unit kapal penangkap ikan, yang didominasi kapal skala kecil.
Seiring meningkatnya konsumsi ikan nasional yang menurut BPS pada 2024 mencapai sekitar 58,9 kilogram per kapita per tahun, pemerintah mendorong peningkatan kapasitas produksi perikanan. Pada 2025, kapasitas produksi perikanan nasional telah melampaui 25 juta ton, dan pada 2026 ditargetkan terus meningkat melalui penguatan perikanan tangkap, budidaya laut, serta pembangunan kampung nelayan terintegrasi berbasis teknologi dan inovasi.
Menurutnya, pemanfaatan data hidro-oseanografi yang akurat dan berkelanjutan merupakan kunci utama modernisasi sektor perikanan laut. Karena itu, ia menekankan pentingnya memaksimalkan peran Pushidrosal TNI AL dalam penyediaan peta laut dan data oseanografi yang terintegrasi dengan kebijakan pembangunan perikanan nasional.
“Data oseanografi bukan hanya untuk keselamatan pelayaran, tetapi juga menentukan efisiensi penangkapan ikan, perencanaan wilayah tangkap, dan adaptasi nelayan terhadap perubahan iklim laut,” kata Ketua Umum KASAI ini.
Besarnya peran laut tercermin dari data perdagangan nasional. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 volume barang yang diangkut melalui angkutan laut domestik mencapai sekitar 44,6 juta ton, menegaskan bahwa laut merupakan urat nadi utama logistik dan perdagangan Indonesia.
Di sektor perikanan, data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, sepanjang 2024 nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai sekitar US$ 3,7 miliar, dengan impor sekitar US$ 300 juta, sehingga mencatat surplus neraca perdagangan perikanan lebih dari US$ 3 miliar.
Capaian ini menunjukkan bahwa penguatan sektor perikanan laut sejalan dengan visi Astacita Presiden Prabowo dalam membangun kemandirian ekonomi nasional. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor kelautan dan perikanan menyentuh langsung kehidupan masyarakat pesisir.
Berdasarkan data BPS dan KKP, jumlah nelayan aktif di Indonesia berada pada kisaran 2,4 hingga 3 juta orang, mayoritas merupakan nelayan kecil. Selain itu, Indonesia memiliki lebih dari 1,1 juta unit kapal penangkap ikan, yang didominasi kapal skala kecil.
Seiring meningkatnya konsumsi ikan nasional yang menurut BPS pada 2024 mencapai sekitar 58,9 kilogram per kapita per tahun, pemerintah mendorong peningkatan kapasitas produksi perikanan. Pada 2025, kapasitas produksi perikanan nasional telah melampaui 25 juta ton, dan pada 2026 ditargetkan terus meningkat melalui penguatan perikanan tangkap, budidaya laut, serta pembangunan kampung nelayan terintegrasi berbasis teknologi dan inovasi.
Lihat Juga :