Pemuda Menaja 2026: Bertahan atau Naik Kelas?
Minggu, 11 Januari 2026 - 20:18 WIB
loading...
A
A
A
Kenaikan kelas sejati membutuhkan prasyarat yang tidak dapat dipikul individu semata: pekerjaan produktif dan terlindungi, keterampilan yang tersambung dengan kebutuhan industri, serta akses terhadap aset awal, terutama hunian.
Di sektor properti, Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (pasar primer) triwulan III-2025 tumbuh 0,84 persen (yoy), sementara penjualan unit masih terkontraksi 1,29 persen (yoy).
Ini menandakan persoalannya bukan semata harga, tetapi juga kemampuan mencicil, stabilitas pendapatan, dan syarat pembiayaan yang sulit dijangkau pemuda.
Menaja Harapan 2026
Karena itu, menaja 2026 tidak cukup dengan slogan kosong. Harapan publik layak diarahkan kepada Presiden Prabowo agar 2026 menjadi tahun kebijakan yang lebih tegas berpihak pada keadilan lintas generasi, bukan sekadar pertumbuhan agregat.
Keadilan lintas generasi berarti satu generasi tidak menumpuk beban seperti biaya hidup, risiko kerja, kerusakan lingkungan, hingga akses hunian, kepada generasi berikutnya, sambil meminta mereka tetap optimistis.
Kebijakan yang benar-benar pro-pemuda harus bergerak pada hal konkret: penciptaan kerja produktif melalui industrialisasi padat karya, penguatan magang sebagai jalur masuk kerja formal, perlindungan dasar bagi pekerja platform, percepatan hunian terjangkau dekat pusat kerja dan transportasi publik, serta layanan kesehatan mental yang mudah diakses.
Pemuda Indonesia tidak kekurangan energi, kreativitas, dan keberanian politik. Mereka kekurangan tangga struktural untuk naik kelas. Jika 2026 hanya menawarkan nasihat motivasi, jutaan anak muda akan terus bergerak tanpa benar-benar berpindah kelas sosial.
Namun jika 2026 menghadirkan kebijakan yang adil lintas generasi, mereka akan memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kata-kata: kesempatan yang masuk akal untuk menang dan naik kelas.
Di sektor properti, Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (pasar primer) triwulan III-2025 tumbuh 0,84 persen (yoy), sementara penjualan unit masih terkontraksi 1,29 persen (yoy).
Ini menandakan persoalannya bukan semata harga, tetapi juga kemampuan mencicil, stabilitas pendapatan, dan syarat pembiayaan yang sulit dijangkau pemuda.
Menaja Harapan 2026
Karena itu, menaja 2026 tidak cukup dengan slogan kosong. Harapan publik layak diarahkan kepada Presiden Prabowo agar 2026 menjadi tahun kebijakan yang lebih tegas berpihak pada keadilan lintas generasi, bukan sekadar pertumbuhan agregat.
Keadilan lintas generasi berarti satu generasi tidak menumpuk beban seperti biaya hidup, risiko kerja, kerusakan lingkungan, hingga akses hunian, kepada generasi berikutnya, sambil meminta mereka tetap optimistis.
Kebijakan yang benar-benar pro-pemuda harus bergerak pada hal konkret: penciptaan kerja produktif melalui industrialisasi padat karya, penguatan magang sebagai jalur masuk kerja formal, perlindungan dasar bagi pekerja platform, percepatan hunian terjangkau dekat pusat kerja dan transportasi publik, serta layanan kesehatan mental yang mudah diakses.
Pemuda Indonesia tidak kekurangan energi, kreativitas, dan keberanian politik. Mereka kekurangan tangga struktural untuk naik kelas. Jika 2026 hanya menawarkan nasihat motivasi, jutaan anak muda akan terus bergerak tanpa benar-benar berpindah kelas sosial.
Namun jika 2026 menghadirkan kebijakan yang adil lintas generasi, mereka akan memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kata-kata: kesempatan yang masuk akal untuk menang dan naik kelas.
(cip)
Lihat Juga :