Great Institute: Fondasi Ekonomi Nasional Kuat, Indonesia Siap Melangkah Lebih Jauh
Sabtu, 10 Januari 2026 - 19:31 WIB
loading...
Konferensi pers Great Institute bertajuk Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian di Jalan Taman Gunawarman Timur, Jakarta, Sabtu (10/1/2026). Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Great Institute menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif solid dan bahkan cenderung bergerak maju di tengah lanskap global yang sarat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Direktur Eksekutif Great Institute Sudarto mengatakan, ekonomi Indonesia dapat dikategorikan sebagai sebuah anomali positif di tengah turbulensi global yang masih berlangsung.
“Ekonomi Indonesia boleh dibilang anomali. Di saat perekonomian dunia masih berada dalam turbulensi dan ketidakpastian, bahkan krisis, Indonesia masih mampu tumbuh sehat di kisaran 5 persen,” kata Sudarto dalam konferensi pers bertajuk “Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian” di Jalan Taman Gunawarman Timur, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Konferensi pers tersebut merupakan bagian dari pemaparan Economic Outlook 2026 Great Institute yang mengulas kondisi ekonomi global, kinerja perekonomian nasional sepanjang 2025, serta proyeksi dan agenda transformasi ekonomi Indonesia pada 2026.
Baca juga: Risiko Perekonomian Global dalam Penangkapan Maduro
Sudarto mengatakan, ketidakpastian global saat ini dipicu oleh berlapis faktor geopolitik dan geoekonomi. Mulai dari langkah politik Amerika Serikat di Venezuela, krisis hubungan China-Taiwan, perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda berakhir, hingga konflik yang berada di kawasan sekitar Indonesia, yakni Laut China Selatan.
“Kondisi ini diperparah oleh fragmentasi perdagangan global, tren proteksionisme, serta meningkatnya risiko akibat perubahan iklim dan bencana. Semua itu menciptakan situasi dunia yang tidak kondusif bagi pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Kendati demikian, dia menegaskan Indonesia patut bersyukur karena masih mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Menurutnya, capaian tersebut tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas arah kebijakan di tengah situasi global yang bergejolak.
Dalam kondisi dunia yang dipenuhi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, peran kepemimpinan nasional menjadi faktor penentu bagi ketahanan ekonomi sebuah negara. “Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, kepemimpinan nasional menjadi faktor kunci. Presiden Prabowo berperan sebagai nakhoda yang mampu menjaga arah, stabilitas, dan keberlanjutan kebijakan, sehingga ekonomi nasional tidak terombang-ambing dan justru tetap bergerak maju,” kata Sudarto.
Dia berpendapat, konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan strategis, serta fokus pada penguatan ekonomi rakyat menjadi penopang utama ketahanan ekonomi Indonesia dalam satu tahun terakhir. Dia menyampaikan bahwa optimisme Great Institute terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan juga bertumpu pada mulai berjalannya sejumlah program prioritas pemerintah yang menimbulkan dampak nyata bagi perekonomian.
Salah satu program yang disoroti adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga awal 2026, cakupan penerima MBG disebut telah mencapai sekitar 53,4 juta orang. Program ini dinilai tidak hanya berdampak pada perbaikan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memiliki efek pengganda terhadap perekonomian melalui penguatan rantai pasok pangan dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, penguatan ekonomi kerakyatan juga didorong melalui Koperasi Desa Merah Putih. Pada 2026, jumlah koperasi ini ditargetkan mencapai sekitar 82.000 unit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi penggerak ekonomi rakyat dari desa. Ini akan memberikan kontribusi penting, tidak hanya bagi ekonomi lokal, tetapi juga bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Sudarto menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa, perlindungan sosial, dan keberlanjutan program prioritas merupakan bagian dari strategi pemerataan yang lebih luas. “Kami optimistis, tahun ini pemerintah akan kian mampu meningkatkan pemerataan, yang secara langsung menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan yang diusung pemerintah semakin nyata,” imbuhnya.
Dalam pemaparannya, Great Institute menilai dunia pada 2026 masih berada dalam rezim ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok, serta kebijakan moneter ketat di negara-negara maju mendorong dunia usaha global bersikap wait and see.
Namun, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu “titik terang” stabilitas di tengah badai global. Sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen pada 2026, dengan inflasi yang relatif terkendali.
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sepanjang 2025, konsumsi tumbuh relatif stabil dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Great Institute mengingatkan adanya tantangan struktural yang perlu segera direspons secara serius.
Peneliti Desk Ekonomi Great Institute Adrian Nalendra menilai stabilitas konsumsi agregat saat ini cenderung menutupi persoalan struktural pada kelas menengah. “Basis konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi motor belanja justru menyusut, sementara kelompok rentan dan kelas menengah rentan membesar. Mobilitas sosial cenderung macet,” kata Adrian.
Adrian menilai tantangan 2026 adalah mengubah konsumsi rumah tangga dari sekadar penyangga pertumbuhan menjadi mesin akselerasi, tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Peneliti Great Institute Adamasky Pangeran menyoroti pentingnya kepastian eksekusi kebijakan dalam mendorong investasi di tengah ketidakpastian global. “Investasi sangat sensitif terhadap kepastian kebijakan. Tanpa kepastian eksekusi, investasi akan terus bergerak dengan pola stop and go,” katanya.
Peneliti Great Institute lainnya Yossie Martino mengatakan bahwa 2026 sebagai tahun penentu arah pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, stabilitas makro yang relatif terjaga harus dimanfaatkan sebagai pijakan transformasi struktural yang lebih produktif dan berkeadilan.
Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,3–5,6 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme yang terukur, dengan catatan sinergi kebijakan fiskal–moneter terjaga dan implementasi program prioritas berjalan efektif.
Menutup konferensi pers, Sudarto kembali menegaskan bahwa ketidakpastian global tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap pasif. “Justru di tengah ketidakpastian inilah Indonesia harus terus melangkah maju, dengan kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang presisi, dan keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat,” pungkasnya.
“Ekonomi Indonesia boleh dibilang anomali. Di saat perekonomian dunia masih berada dalam turbulensi dan ketidakpastian, bahkan krisis, Indonesia masih mampu tumbuh sehat di kisaran 5 persen,” kata Sudarto dalam konferensi pers bertajuk “Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian” di Jalan Taman Gunawarman Timur, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Konferensi pers tersebut merupakan bagian dari pemaparan Economic Outlook 2026 Great Institute yang mengulas kondisi ekonomi global, kinerja perekonomian nasional sepanjang 2025, serta proyeksi dan agenda transformasi ekonomi Indonesia pada 2026.
Baca juga: Risiko Perekonomian Global dalam Penangkapan Maduro
Sudarto mengatakan, ketidakpastian global saat ini dipicu oleh berlapis faktor geopolitik dan geoekonomi. Mulai dari langkah politik Amerika Serikat di Venezuela, krisis hubungan China-Taiwan, perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda berakhir, hingga konflik yang berada di kawasan sekitar Indonesia, yakni Laut China Selatan.
“Kondisi ini diperparah oleh fragmentasi perdagangan global, tren proteksionisme, serta meningkatnya risiko akibat perubahan iklim dan bencana. Semua itu menciptakan situasi dunia yang tidak kondusif bagi pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Kendati demikian, dia menegaskan Indonesia patut bersyukur karena masih mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Menurutnya, capaian tersebut tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas arah kebijakan di tengah situasi global yang bergejolak.
Dalam kondisi dunia yang dipenuhi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, peran kepemimpinan nasional menjadi faktor penentu bagi ketahanan ekonomi sebuah negara. “Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, kepemimpinan nasional menjadi faktor kunci. Presiden Prabowo berperan sebagai nakhoda yang mampu menjaga arah, stabilitas, dan keberlanjutan kebijakan, sehingga ekonomi nasional tidak terombang-ambing dan justru tetap bergerak maju,” kata Sudarto.
Dia berpendapat, konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan strategis, serta fokus pada penguatan ekonomi rakyat menjadi penopang utama ketahanan ekonomi Indonesia dalam satu tahun terakhir. Dia menyampaikan bahwa optimisme Great Institute terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan juga bertumpu pada mulai berjalannya sejumlah program prioritas pemerintah yang menimbulkan dampak nyata bagi perekonomian.
Salah satu program yang disoroti adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga awal 2026, cakupan penerima MBG disebut telah mencapai sekitar 53,4 juta orang. Program ini dinilai tidak hanya berdampak pada perbaikan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memiliki efek pengganda terhadap perekonomian melalui penguatan rantai pasok pangan dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, penguatan ekonomi kerakyatan juga didorong melalui Koperasi Desa Merah Putih. Pada 2026, jumlah koperasi ini ditargetkan mencapai sekitar 82.000 unit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi penggerak ekonomi rakyat dari desa. Ini akan memberikan kontribusi penting, tidak hanya bagi ekonomi lokal, tetapi juga bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Sudarto menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa, perlindungan sosial, dan keberlanjutan program prioritas merupakan bagian dari strategi pemerataan yang lebih luas. “Kami optimistis, tahun ini pemerintah akan kian mampu meningkatkan pemerataan, yang secara langsung menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan yang diusung pemerintah semakin nyata,” imbuhnya.
Dalam pemaparannya, Great Institute menilai dunia pada 2026 masih berada dalam rezim ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok, serta kebijakan moneter ketat di negara-negara maju mendorong dunia usaha global bersikap wait and see.
Namun, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu “titik terang” stabilitas di tengah badai global. Sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen pada 2026, dengan inflasi yang relatif terkendali.
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sepanjang 2025, konsumsi tumbuh relatif stabil dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Great Institute mengingatkan adanya tantangan struktural yang perlu segera direspons secara serius.
Peneliti Desk Ekonomi Great Institute Adrian Nalendra menilai stabilitas konsumsi agregat saat ini cenderung menutupi persoalan struktural pada kelas menengah. “Basis konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi motor belanja justru menyusut, sementara kelompok rentan dan kelas menengah rentan membesar. Mobilitas sosial cenderung macet,” kata Adrian.
Adrian menilai tantangan 2026 adalah mengubah konsumsi rumah tangga dari sekadar penyangga pertumbuhan menjadi mesin akselerasi, tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Peneliti Great Institute Adamasky Pangeran menyoroti pentingnya kepastian eksekusi kebijakan dalam mendorong investasi di tengah ketidakpastian global. “Investasi sangat sensitif terhadap kepastian kebijakan. Tanpa kepastian eksekusi, investasi akan terus bergerak dengan pola stop and go,” katanya.
Peneliti Great Institute lainnya Yossie Martino mengatakan bahwa 2026 sebagai tahun penentu arah pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, stabilitas makro yang relatif terjaga harus dimanfaatkan sebagai pijakan transformasi struktural yang lebih produktif dan berkeadilan.
Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,3–5,6 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme yang terukur, dengan catatan sinergi kebijakan fiskal–moneter terjaga dan implementasi program prioritas berjalan efektif.
Menutup konferensi pers, Sudarto kembali menegaskan bahwa ketidakpastian global tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap pasif. “Justru di tengah ketidakpastian inilah Indonesia harus terus melangkah maju, dengan kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang presisi, dan keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :