Pesantren Kilat Internasional: Ketika Sarung dan Peci Memikat Dunia

Sabtu, 03 Januari 2026 - 19:40 WIB
loading...
A A A
Program Pesantren Kilat Internasional ini juga menjadi pengingat penting bagi kita di dalam negeri.

Selama ini, wacana pendidikan Indonesia sering didominasi oleh kekhawatiran tentang ketertinggalan. Kita terus-menerus membandingkan diri dengan Finlandia, Singapura, atau Jepang. Kita mengadopsi kurikulum asing, mengirim guru untuk pelatihan ke luar negeri, dan mengundang konsultan internasional untuk memperbaiki sistem kita.

Semua itu tentu ada manfaatnya. Tapi dalam prosesnya, kita sering lupa bahwa Indonesia memiliki sistem pendidikan yang unik dan telah teruji selama berabad-abad. Sistem itu bernama pesantren.

Pesantren tidak sempurna. Ia memiliki kelemahan dan tantangan yang perlu diatasi. Tapi ia juga memiliki kekuatan yang tidak dimiliki sistem pendidikan mana pun di dunia. Kekuatan itu terletak pada integrasinya yang utuh antara pendidikan intelektual, spiritual, dan karakter. Pada sistemnya yang berbasis komunitas dan keteladanan. Pada nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian yang menjadi fondasinya.

Ketika pemuda-pemuda dari Australia dan Malaysia datang jauh-jauh untuk merasakan sistem ini, bukankah itu sebuah isyarat bahwa kita memiliki sesuatu yang berharga? Sesuatu yang layak dijaga, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada dunia?

Dr. KH. Sofwan Manaf, Presiden Universitas Darunnajah, memiliki filosofi yang menarik tentang hal ini. Beliau selalu menekankan bahwa pondok harus lebih dikenal dari pimpinannya. Lembaga yang kuat tidak bergantung pada satu nama. Ia harus bisa berjalan dengan sistemnya sendiri.

Filosofi ini adalah kunci keberlanjutan pesantren. Ketika lembaga bergantung pada figur, ia akan goyah begitu figur itu tiada. Tapi ketika lembaga dibangun di atas sistem yang kokoh, ia akan terus bertahan dan berkembang lintas generasi.

Program Pesantren Kilat Internasional adalah salah satu wujud dari sistem itu. Ia bukan program dadakan yang bergantung pada satu orang. Ia adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkenalkan pesantren kepada dunia, sekaligus memperkuat posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang relevan di abad ke-21.

"Kegiatan ini bukan yang terakhir," tegas Rektor Much. Hasan Darojat. "Universitas Darunnajah akan terus menghadirkan program-program berbasis pesantren yang dapat dinikmati oleh peserta dari seluruh dunia."

Sebagai seseorang yang menghabiskan sebagian besar hidup di lingkungan pesantren, pertanyaan tentang masa depan lembaga ini selalu menjadi bahan perenungan. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, akankah pesantren mampu bertahan? Akankah ia tetap relevan bagi generasi yang tumbuh dengan smartphone di tangan sejak usia balita?

Program Pesantren Kilat Internasional memberikan secercah jawaban yang menggembirakan. Ternyata, di era ketika segala sesuatu serba digital dan instan, ada kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang otentik. Terhadap komunitas yang hangat. Terhadap pendidikan yang menyentuh hati, bukan sekadar mengisi kepala.

Pesantren menawarkan semua itu. Bukan karena ia menolak modernitas, melainkan karena ia memiliki sesuatu yang tidak bisa ditawarkan oleh modernitas. Kedalaman spiritual. Keterikatan komunal. Dan kebijaksanaan yang telah teruji selama berabad-abad.

Ketika delapan belas pemuda Australia dan 25 santri Malaysia memilih untuk meninggalkan kenyamanan rumah mereka demi merasakan kehidupan pesantren, mereka sesungguhnya sedang menyampaikan pesan penting kepada kita semua.

Pesannya sederhana. Di tengah dunia yang semakin bising, keheningan pesantren ternyata masih mampu menarik jiwa-jiwa yang haus akan makna.

Dan itu adalah kabar baik yang layak dirayakan.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
IPB University dan Pesantren...
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
Gus Miftah Soroti Bullying...
Gus Miftah Soroti Bullying hingga Judi Online, Pesantren Diminta Jadi Ruang Aman Santri
Rekomendasi
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
7 Tips Konten Review...
7 Tips Konten Review Produk agar Viral dan Dilirik Brand ala Dannisa Utami
3,88 Juta Lowongan Kerja...
3,88 Juta Lowongan Kerja Ramah Lingkungan Bakal Terbuka di 2026, Catat Sektor Industrinya
Berita Terkini
iPhone XS Mantan Kepala...
iPhone XS Mantan Kepala Dinas Perizinan Jogja Dilelang KPK: Laku Rp34 Juta, tapi Belum Dilunasi Pemenang Lelang
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Jokowi Minta PSI Dukung...
Jokowi Minta PSI Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode, AHY: Pemilu 2029 Masih Lama
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved