Pesantren Kilat Internasional: Ketika Sarung dan Peci Memikat Dunia

Sabtu, 03 Januari 2026 - 19:40 WIB
loading...
Pesantren Kilat Internasional:...
Universitas Darunnajah menyelenggarakan Program Pesantren Kilat Internasional untuk pertama kalinya pada Januari 2025 lalu. Foto/UDN Jakarta.
A A A
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Pukul tiga dini hari, Jakarta masih terlelap. Jalanan lengang. Udara dingin menyusup lewat celah jendela asrama. Tapi di Pesantren Darunnajah, delapan belas pemuda dari Australia sudah bergegas ke kamar mandi, bersiap untuk salat tahajud.

Bagi mereka yang tumbuh di Melbourne dan Sydney, bangun sebelum subuh adalah sesuatu yang asing. Sebagian mengaku belum pernah melakukannya seumur hidup. Tapi di sini, di kompleks pesantren di bilangan Ulujami, Jakarta Selatan, mereka menjalaninya setiap hari selama dua pekan penuh.

Inilah pemandangan yang tersaji pada Januari 2025 lalu, ketika Universitas Darunnajah menyelenggarakan Program Pesantren Kilat Internasional untuk pertama kalinya. Sebuah eksperimen pendidikan yang sederhana dalam konsep, namun ternyata meninggalkan jejak mendalam bagi para pesertanya.

Ceritanya bermula dari kegelisahan sederhana. Bagaimana memperkenalkan pesantren kepada dunia tanpa harus mengubah pesantren itu sendiri?

Pertanyaan ini terdengar naif, tapi sesungguhnya menyimpan dilema yang pelik. Selama ini, ketika lembaga pendidikan Indonesia ingin "go international", yang terjadi adalah penyesuaian besar-besaran terhadap standar asing. Kurikulum diubah. Bahasa pengantar diganti. Fasilitas dipermewah. Label "internasional" disematkan, dan biaya pendidikan pun melonjak.

Pesantren memilih jalan berbeda. Alih-alih mengubah diri untuk menyesuaikan dunia, pesantren mengundang dunia untuk merasakan langsung kehidupan apa adanya. Tanpa polesan. Tanpa rekayasa citra.

Maka datanglah delapan belas pemuda Australia itu pada 27 Desember 2024. Mereka mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sore hari, dan langsung dibawa ke pesantren. Begitu tiba, mereka disambut santri kelas lima TMI Darunnajah yang akan menjadi pendamping selama program berlangsung. Malam itu mereka makan bersama, lalu salat Isya berjamaah, kemudian beristirahat. Besok pagi, sebelum matahari terbit, mereka harus sudah bangun.

Momen paling menghibur terjadi dalam hari-hari pertama, ketika para peserta belajar memakai sarung.

Bagi santri Indonesia, memakai sarung adalah hal sepele. Dililitkan di pinggang, dilipat sedikit di bagian depan, selesai. Tapi bagi mereka yang tidak pernah menyentuh sarung seumur hidup, ini adalah tantangan tersendiri. Ada yang melilitnya terlalu longgar hingga melorot saat berjalan. Ada yang terlalu kencang hingga kesulitan melangkah. Ada pula yang bingung membedakan mana bagian depan dan belakang.

Tapi justru dari momen-momen kecil seperti inilah pembelajaran terjadi. Bukan dari ceramah panjang tentang budaya Indonesia, melainkan dari pengalaman langsung yang melibatkan tubuh, bukan sekadar pikiran.

K.H. Hadiyanto Arief, Pimpinan Pesantren Darunnajah, menyampaikan harapannya pada acara pembukaan. "Kami berharap program ini memberikan pengalaman berharga yang tidak hanya memperkuat pemahaman agama, tetapi juga mempererat hubungan antarbudaya."

Harapan itu tampaknya sudah mulai terwujud sejak hari pertama, ketika para peserta Australia tertawa bersama santri Indonesia sambil belajar melilitkan kain kotak-kotak di pinggang mereka.

Dua pekan adalah waktu yang tidak sebentar untuk menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari kebiasaan. Para peserta harus bangun sebelum pukul empat pagi. Mereka mengikuti salat berjamaah lima waktu. Belajar membaca Al-Qur'an. Mengikuti kajian fikih dan tafsir. Berlatih pidato dalam bahasa Arab dan Inggris. Berolahraga. Makan bersama di ruang makan santri. Tidur di asrama sederhana tanpa pendingin ruangan.

Dr. Much. Hasan Darojat, Rektor Universitas Darunnajah, tidak menyembunyikan bahwa program ini memang dirancang untuk menantang. "Kami mengajarkan peserta untuk bangun sebelum pukul empat pagi dan terlibat dalam berbagai aktivitas pesantren. Ini tidak mudah, tetapi sangat berharga," ujarnya.

Yang menarik, tidak ada satu pun peserta yang menyerah di tengah jalan. Mereka bertahan hingga hari terakhir. Dan pada upacara penutupan tanggal 15 Januari 2025, salah seorang peserta bahkan tampil sebagai pembawa acara. Sesuatu yang mustahil dibayangkan dua pekan sebelumnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
IPB University dan Pesantren...
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
Gus Miftah Soroti Bullying...
Gus Miftah Soroti Bullying hingga Judi Online, Pesantren Diminta Jadi Ruang Aman Santri
Rekomendasi
Kawin Silang JLR dan...
Kawin Silang JLR dan Chery: Freelander 8 Lahir, Eropa Ketar-ketir!
Pascapemadaman Listrik...
Pascapemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa, PLN Update Kondisi Perbaikan
Cerita El Rumi & Syifa...
Cerita El Rumi & Syifa Hadju Bulan Madu di Italia, Romantis hingga Penuh Kejutan
Berita Terkini
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Jokowi Minta PSI Dukung...
Jokowi Minta PSI Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode, AHY: Pemilu 2029 Masih Lama
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
Gugat Penetapan Capres...
Gugat Penetapan Capres 2014 dan 2019, Bonatua Bawa Novum Baru ke PTUN
Polisi Sebut Pelimpahan...
Polisi Sebut Pelimpahan Roy Suryo dan Tifa Sesuai Prosedur KUHAP
Infografis
Daftar 10 Pemain Tersubur...
Daftar 10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved