Libur Sekolah Tak Boleh Hentikan MBG, Gizi Anak Kebutuhan Dasar Negara
Rabu, 24 Desember 2025 - 16:59 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, bagi ibu menyusui dan balita, libur sekolah tidak pernah berarti libur kebutuhan. Gizi tetap harus terpenuhi setiap hari. Ibu menyusui membutuhkan asupan nutrisi yang cukup agar kualitas dan kuantitas ASI terjaga. Balita membutuhkan makanan bergizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta pembentukan sistem imun.
“Kekosongan intervensi pada fase ini bukan hanya berdampak sesaat, tetapi bisa menimbulkan konsekuensi jangka panjang berupa stunting, gangguan kognitif, hingga kerentanan penyakit,” terangnya.
Ia menambahkan, kebutuhan nutrisi tidak mengenal waktu libur. Meski sekolah libur, kebutuhan makan tetap ada dan bersifat rutin.
“Dalam kondisi apa pun, makanan adalah kebutuhan dasar. Seperti saat pandemi Covid-19, kebutuhan pangan tidak bisa berhenti. Jadi libur sekolah bukan berarti MBG ikut libur,” tegasnya.
Dalam konteks inilah kebijakan MBG saat libur sekolah menemukan relevansinya. Negara hadir bukan untuk memaksa anak-anak kembali ke sekolah, melainkan memastikan bahwa kelompok paling rentan tetap terlindungi.
Lebih lanjut Sri Yunanto mengatakan, tujuan utama Presiden Prabowo Subianto menggulirkan MBG adalah meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui pemenuhan gizi. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan jangka pendek, tetapi juga pada penurunan stunting, peningkatan kecerdasan, dan kesiapan generasi muda menghadapi bonus demografi 2035 hingga Indonesia Emas 2045.
“Dari sisi visi, ini sudah sangat jelas. Negara sedang menanam investasi jangka panjang. Kalau anak-anak diberi makan bergizi secara konsisten selama 10 tahun, mereka akan menjadi motor pembangunan ekonomi. Sepuluh tahun berikutnya, Indonesia masuk fase emas dengan SDM yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, proyeksi usia produktif Indonesia menunjukkan bahwa saat ini adalah waktu yang krusial untuk memastikan kualitas generasi mendatang.
Selain aspek gizi, Sri Yunanto menilai penghentian MBG saat libur sekolah juga berpotensi mengganggu roda ekonomi daerah. Pasalnya, program ini melibatkan ribuan dapur MBG, UMKM, serta rantai pasok pangan lokal.
“Kekosongan intervensi pada fase ini bukan hanya berdampak sesaat, tetapi bisa menimbulkan konsekuensi jangka panjang berupa stunting, gangguan kognitif, hingga kerentanan penyakit,” terangnya.
Ia menambahkan, kebutuhan nutrisi tidak mengenal waktu libur. Meski sekolah libur, kebutuhan makan tetap ada dan bersifat rutin.
“Dalam kondisi apa pun, makanan adalah kebutuhan dasar. Seperti saat pandemi Covid-19, kebutuhan pangan tidak bisa berhenti. Jadi libur sekolah bukan berarti MBG ikut libur,” tegasnya.
Dalam konteks inilah kebijakan MBG saat libur sekolah menemukan relevansinya. Negara hadir bukan untuk memaksa anak-anak kembali ke sekolah, melainkan memastikan bahwa kelompok paling rentan tetap terlindungi.
Lebih lanjut Sri Yunanto mengatakan, tujuan utama Presiden Prabowo Subianto menggulirkan MBG adalah meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui pemenuhan gizi. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan jangka pendek, tetapi juga pada penurunan stunting, peningkatan kecerdasan, dan kesiapan generasi muda menghadapi bonus demografi 2035 hingga Indonesia Emas 2045.
“Dari sisi visi, ini sudah sangat jelas. Negara sedang menanam investasi jangka panjang. Kalau anak-anak diberi makan bergizi secara konsisten selama 10 tahun, mereka akan menjadi motor pembangunan ekonomi. Sepuluh tahun berikutnya, Indonesia masuk fase emas dengan SDM yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, proyeksi usia produktif Indonesia menunjukkan bahwa saat ini adalah waktu yang krusial untuk memastikan kualitas generasi mendatang.
Selain aspek gizi, Sri Yunanto menilai penghentian MBG saat libur sekolah juga berpotensi mengganggu roda ekonomi daerah. Pasalnya, program ini melibatkan ribuan dapur MBG, UMKM, serta rantai pasok pangan lokal.
Lihat Juga :